Mereka tak punya pengukur waktu. Hanya tanda-tanda alam yang mengingatkan bahwa hari menjelang malam. Ranting dan kayu untuk dibakar itu sudah mulai habis, maka Jimin pergi untuk memungut yang lain. Tak jauh, hanya di sekitar tempatnya dan Seokjin duduk. Jungkook belum juga kembali dan Seokjin pikir alasan Jimin tetap menyalakan api unggun supaya alpha muda itu tahu mereka masih di tempat yang sama. Menunggu. Tapi mungkin juga tidak, karena Jimin sama sekali tidak membahas anak itu sejak tadi. Ah, bahkan dia tak banyak bicara. Hanya ketika ditanya dia akan menjawab.
"Adikmu belum juga kembali." kata Seokjin yang duduk menopang dagu. Ranting panjang dia mainkan ujungnya untuk mengorek-korek tanah. "Kau tidak mencarinya?"
"Untuk apa?" Jimin kembali dengan beberapa batang kayu dan ranting besar. Dia melemparnya satu-satu ke api merah itu. "Dia akan kembali padaku kalau dia mau."
"Dia seperti pengikut setiamu dan kau tak terlihat peduli padanya."
Jimin hanya menyunggingkan senyum miring yang tipis. Dia duduk setelah merasa cukup untuk menambah kayu yang harus dibakar. Kaki berbalut celana khaki itu dia luruskan. Duduknya santai dengan tangan terlipat di depan dada. Api di antara mereka jadi penerang, memberi bantuan pada mata yang butuh cahaya. Setidaknya mereka bisa saling memandang satu sama lain, meski kanan kirinya begitu gelap karena kerapatan hutan.
"Seokjin-ah."
Seokjin menaikkan matanya yang semula jatuh ke bawah, dari tanah yang dia korek pada Jimin. "Hm?" jawabnya sedikit malas. Aneh juga karena Jimin memanggil. Dia kira lelaki berambut perak itu hanya akan diam seperti batu. "Apa?"
Mata peraknya berkilap pantulan merah api. "Katakan kenapa kau tak berkelompok."
"Kurasa kita pernah membicarakan ini sebelumnya." Seokjin menopang dagunya lagi. Kali ini lebih seperti menghempaskan dagu dan pipinya ke tangan.
Tapi kemudian Jimin sedikit menggelengkan kepala. "Tidak, tidak dengan alasanmu."
Seokjin menghela napas. "Hanya... belum ingin. Entah. Aku merasa tak harus terburu-buru mencari kelompok. Selama aku masih bisa bertahan hidup sendiri, bagiku itu cukup."
Sebab dia punya kemampuan itu. Berkelompok memang akan mempermudahnya untuk bertahan. Tapi, sampai hari ini dia belum menemukan alpha yang dirasanya benar-benar kuat dan kelompok yang cocok untuk tempatnya bergabung. Beberapa kali dia sempat diajak bergabung dengan orang-orang yang dia temui, tapi dia lebih memilih untuk pergi. Bahkan meski ada paksaan dari seorang alpha sekalipun, dia berani melawan. Jika dalam wujud serigala dia tak cukup kuat, dalam wujud manusia dia bisa menggunakan senjata.
"Lantas kau akan sendirian sampai akhir karantina?" tanya Jimin, lebih seperti menuduh. Lalu bibir Seokjin melengkung ketika Jimin mengatakan kalimat selanjutnya, "Kau akan mati kalau begitu."
Seokjin tertawa sarkastik sambil membuang muka sesaat. "Siapa juga yang punya jaminan kalau kau akan bertahan? Tak ada yang tahu." dia menggedikkan bahunya. Perihal bertahan atau mati di area, dia tak begitu memikirkannya sampai jauh. Tipe yang menikmati hari-harinya di karantina, dia itu.
Jimin merasa tergelitik dengan jawaban Seokjin. Dia sedikit tertawa. Rasanya seperti bicara dengan dirinya sendiri. Seokjin bisa menjawabnya dengan sangat memuaskan. Seperti apa yang juga dia pikirkan. Kadang dia bertanya hanya untuk menguji, bukan mencari tahu. Pertanyaan itu sepertit tes untuk Seokjin, apakah pemikiran omega itu selaras dengan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA [pjm x myg]
Loup-garouDi area K-01, mereka dikarantina untuk menjadi werewolf yang tangguh. BTS fanfic. Minyoon. Minga. Jimin x Yoongi. ABOdynamics. Omegaverse.
![LUNA [pjm x myg]](https://img.wattpad.com/cover/121339114-64-k532128.jpg)