Menggali emas dari pusat bumi lebih mudah jika dibanding dengan mendapat restu orang tua.
=============================
"Itu siapa?" tanya ayah Intan saat pulang dari kampus.
Intan mencari alasan dengan tergesa-gesa. Terlihat dari raut wajahnya yang berbohong. "Teman kampus, yah."
Kaki Intan mulai bergetar. Tak ada jawaban lain yang disampaikan. Tapi Intan tak berani masuk ke dalam rumah sebelum disuruh ayahnya. Sedangkan Adinda hanya senyum-senyum melihat Intan yang dijegat ayahnya.
"Kalau teman kampus kenapa gak disuruh mampir dulu. Kasian dia kehujanan. Ayo panggil dulu!"
Kemudian Adinda mencari akal untuk menyelamatkan Intan dari jegatan ayah. Adinda memanggil Intan dengan teriak-teriak dari dalam rumah yang sudah melihatnya diintrogasi.
"Kak Intan tolongin aku. Kak Intan cepat tolongin aku!"
Intan belum mengerti Adinda membuat sandiwara menyelamatkan dia dari introgasi ayahnya.
"Kamu kenapa sih, Adinda? Teriak-teriak," ucap Intan sambil menuju ke arahnya di dalam rumah. Padahal, Intan belum disuruh ayahnya masuk. Tapi karena sandiwara Adinda, Intan dan ayahnya langsung masuk ke rumah. Sedangkan Stepen yang katahuan mengantar Intan pulang kuliah langsung kabur meninggalkan jejak.
Intan dan ayahnya langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. "Ada apa, Adinda?" tanya ayahnya.
"Ada kecoak, yah. Itu udah lari ke sana."
"Sama kecoak aja takut," kata Intan dengan kesal. Dia langsung masuk menuju kamar. Kemudian diikuti Adinda dari belakang dan menutup rapat pintu kamar.
"Kamu itu bodoh ya, kak. Aku tadi buat sandiwara biar kamu gak ditanyain ayah tentang kak Stepen. Buar dia gak menyuruhnya masuk."
"Kamu ngerjain ayah. Aku bilangin ini sama ayah. Kamu bohongin ayah," Intan menakut-nakuti Adinda.
"Kak. Ini ini demi kebaikan kakak. Kalau bohong demi kebaikan itu boleh-boleh saja."
"Heh, bocah. Kamu belajar di mana membohongi orang tua itu demi kebaikan? Ayah kamu bohongin. Aku bilangin nanti kamu sama ayah."
"Viss kak. Cuma sekali aja. Lagian aku takut kak Stepen dimarahi sama ayah."
"Aku aja yang punya pacar gak takut. Kenapa kamu yang takut Stepen dimarahi ayah? Ciee.... kamu suka ya sama Stepen?" Intan menggoda adiknya.
"Iya, aku suka kak Stepen."
"Sumpah! Kamu suka sama Stepen?"
"Tuh kan, belum apa-apa sudah cemburu buta. Aku itu suka sama kak Stepen sebagai kakak ipar untuk kakakku yang paling item satu keluarga."
"Dasar kamu bocah nakal," Intan melempar boneka ke pangkuan Adinda di atas ranjang empuk.
"Oh iya kak. Kakak mau kasih kado apa di hari wisuda kakak nanti?"
"Tumben mau ngasih kado. Pasti ada ujung-ujungnya ini?"
"Kakak kapan sadarnya? Selalu suuzon sama aku. Sepertinya kakak perlu diruqiyah ya?"
"Enak saja. Emang aku gila apa?"
"Kakak itu gila sama cinta kak Stepen. Apa kakak sudah punya rencana menikah sama dia?"
Adinda langsung menanyakan poin yang selalu dibahas berdua sama Stepen. Pembahasan yang hingga kini belum mendapat titik temu. Masih mengambang di angan-angan dalam keraguan.
"Aku dengar cerita ayah sama ibu akan menikahkan kakak setelah selesai wisuda nanti. Apa sama kak Stepen?"
"Aku sudah tahu. Ibu sudah memberitahuku. Tapi aku belum menjawab apa pun soal pernikahan."
"Terus gimana kak. Sama kak Stepen kan?"
"Bagaimana mungkin sama Stepen. Sementara ibu sama ayah tidak tahu aku memiliki pacar."
"Kenapa kakak gak bilang saja sama ayah dan ibu. Kalau kakak sudah punya pacar kak Stepen," saran Adinda.
"Apa kamu gak tahu ibu sama ayah? Bisa-bisa dipotong leherku di sini."
"Tapi sampai kapan kakak akan menyembunyikan kak Stepen ke ayah sama ibu?"
"Mereka akan tahu dengan sendirinya nanti, kak. Terus kakak menjadi bumerang dalam keluarga ini."
"Sampai Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk kami berdua. Aku gak percaya ibu sama ayah merestui aku sama Stepen."
"Kenapa bisa?" tanya Adinda penasaran.
"Karena ibu sama ayah sudah punya pilihan sendiri."
"Ini bukan zaman Siti Nurbaya lagi, kak. Ini zaman di mana kita bisa menentukan masa depan kita sendiri. Termasuk menentukan pasangan terbaik."
"Kalau kamu di posisiku. Apa kamu berani protes sama ibu dan ayah?"
"Iya...... gak berani," jawab Adinda pelan seolah yakin ingin mengatakan berani. Tapi malah akhirnya dia bilang tak berani.
"Seperti itulah posisiku sekarang. Serba sulit."
"Cinta bukan perjuangan yang datar. Ada kalanya harus berjuang dengan sekuat tenaga dan pengorbanan demi mendapatkan kebahagiaan yang hakiki," ucap Adinda sok bijak kemudian.
"Sok bijak kamu. Padahal selalu diputusin," kata Intan pada Intan yang membuat dia diam. Edisi curhat pun selesai setelah dibuka Intan tentang kehidupan asmaranya. Tak ada lagi pembahasan jodoh.
Adinda kemudian memakai earphone kedua telinganya. Memutar musik dengan sekeras-kerasnya sambil membaca novel. Intan hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang lucu.
VOTE & KOMEN, YA. TERIMA KASIH.
YOU ARE THE BEST
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Yang Pergi
JugendliteraturTahukah kamu yang paling sakit saat mengingatmu? Bukan karena wajahmu yang imut dan lucu. Tapi karena senyuman manismu membuatku rindu. #WritingProjectAe Copyright © 2017
