Kenangan itu masih tersisa penuh diingatanku. Dia selalu mengukir indah dalam bayang-bayang semu.
==============================
"Intan. Apa yang ingin kamu katakan?"
dr. Ervina dan psikolog kompak bertaya pada Intan. Mereka membawa Intan ke suatu tempat yang indah. Suasan sejuk dan nyaman sangat terasa di tempat ini. Lokasinya tidak jauh dari rumah sakit jiwa tempat Intan direhabilitasi.
Intan terlihat sangat senang bermain dengan sepasang merpati. Dia asyik memberi pakan merpati yang terbang mendekatinya. Senyum Intan pun terlihat lebar saat merpati putih itu turun dari dahan pohon.
Tapi pertayaan ervina sama psikolog ulung itu masih diacuhkan. Tak ada terdengar jawaban. Bahkan Intan tidak menoleh ke arah mereka berdua. Ervina kemudian bertanya pada psikolog, "Apa kamu punya cara untuk mengajaknya bicara?"
Psikolog yang bernama Melody itu pun menatap dr. Ervina dalam. Seolah-olah tak punya jawaban yang bisa meyakinkan. Tatapan matanya kosong seperti tidak ada keyakinan sedikit pun.
"Apa yang harus kita lakukan? Kasus seperti ini sering saya temui. Tapi untuk penyakit pasien yang satu ini sungguh berbeda. Saya tidak bisa menggali lebih dalam tentang dirinya," dr. Ervina kembali menyambungkan bicaranya serius.
"Apa orangtuanya tidak memberitahu sebelumnya?" tanya psikolog.
"Dijelaskan. Tapi tidak sedetil yang diharapkan. Orangtua pasien hanya menceritakan kalau pasien ditinggal mati oleh pacarnya. Dia sangat kecewa dan gak bisa menerimanya."
"Apa ada yang lain?" Melody kembali menatap dr. Ervina dengan tatapan kosong.
"Pasien akan dijodohkan oleh orangtuanya. Tapi pasien menolak perjodohan itu. Saat penolakan itu terjadi, pacar pasien pun meninggal saat bertugas meliput gempa di Bantul."
"Saya akan mengajak pasien bicara." Melody berjalan menuju Intan yang masih senangnya memberi pakan merpati. Melody membawa pakan merpati dan memberikan pada Intan.
"Intan. Berikan ini sama merpati itu!" Melody mengulurkan tangannya pada Intan yang sedang berdiri memberi pakan merpati. Intan kemudian mengambilnya dengan cepat.
"Apa kamu suka sama merpati ini Intan?" tanya Melody memancing Intan bercerita.
Intan kemudian menatap dan berdiri tegap di depan Melody. Sementara dr. Ervina menatap sinis. Dia khawatir Intan mengamuk pada Melody yang memancing Intan bercerita. "Aduh! Jangan-jangan Intan akan mengamuk sama Melody," batin dr. Ervina yang berdiri kaku.
"Apa kamu suka sama merpati ini?" Melody kembali bertanya.
Intan kemudian mengangkat tangan kanannya, "Boleh aku pinjam kamera?"
Melody kaget bukan main. Pasien yang diboyong mengalami gangguan jiwa kini meminta sebuah kamera kepada Melody. Intan kemudian semakin mendekat pada posisi berdiri Melody. Tapi Melody berusaha melangkah mundur. Tak menganggapi permintaan Intan.
"Pinjam kamera. Aku mau mengambil gambar merpati ini," ujar Intan pelan kepada Melody. Tapi langkah mundurnya sudah berjalan dua langkah ke belakang. Di mana dr. Ervina sudah berdiri juga di belakangnya.
dr. Ervina kemudian menyodorkan ponsel miliknya kepada Intan. Tapi Intan tak mau menerimanya. "Aku pinjam kamera. Bukan ponsel."
"Tolong ambilkan kamera di ruangan saya." dr. Ervina meminta asistennya mengambil kamera miliknya.
Dengan cepat asisten dr. Ervina pun sampai di lokasi mereka bermain dengan Intan. "Apa kamera seperti ini?" dr. Ervina memberikan kamera pocket warna pink kesukaanya pada Intan.
Intan menggelengkan kepala menyatakan bukan kamera seperti itu yang dimintanya. Sedangkan kamera yang ada hanya kamera pocket yang dibawa dr. Ervina. Kali ini, dokter dan psikolog disibukkan oleh Intan dengan kamera. Mereka berusaha mencarinya melalui asistennya masing-masing.
ANEH!! Iya memang. Karena merawat pasien gangguan jiwa itu penuh dengan tantangan. Tapi menyembuhkannya adalah suatu kebanggaan. Bersabar dan sabar adalah kunci untuk memberikan kesembuhan. Penyakit ini sungguh berbeda dengan penyakit fisik pada umumnya.
Pakan merpati di tangan Intan kini telah dibuangnya. Tak ada lagi tersisa. Sementara merpati putih itu semakin banyak beterbangan berebut pakan yang dibuang Intan. Sementara pakan merpati yang dibawa Melody masih tersisa. Dia menaruhnya dengan cekatan saat Intan mendekatinya.
Tak lama, asisten dr. Ervina pun kembali membawa kamera yang berbeda. Dia memberikan kepada dr. Ervina untuk diserahkan kepada Intan yang telah menunggu. "Apa kamera ini?" tanya dr. Ervina untuk kedua kalinya.
Intan masih menggelengkan kepalanya tak mau menerima, "Bukan."
"Apa yang ini?" giliran asisten Melody yang menyerkan kamera DLSR kepada Intan.
Benar saja. Intan menerima kamera yang dibawa asisten Melody. Dia kemudian langsung menyalakan kamera DLSR dan mengarahkan lensanya pada merpati putih yang sedang berkerumun mematuk pakan.
"Apa dia fotografer?" tanya Melody kepada dr. Ervina.
"Saya gak pernah diberitahu orangtuanya tentang itu?" jawab dr. Ervina singkat.
Sementara Intan dibiarkan sama dua wanita cantik itu asyik mengambil gambar. Sesekali Intan mengambil gambar dr. Ervina dan Melody yang sedang berdiskusi.
Tak lama kemudian, Intan menghampiri mereka berdua. Intan menunjukkan gambar sepasang merpati yang dipotretnya. Melody sampai tercengang melihat hasil jepretan tangan Intan.
Karena Melody tahu benar tentang teknik fotografi. Apalagi hasil karya fotografi. Melody memang memiliki keahlian fotografi selain menjadi psikolog ulung di rumah sakit jiwa itu.
"Wauuu ..., bagus sekali hasil potretanmu Intan. Apa kamu seorang fotografi?" dr. Ervina pun kemudian ikut melihat gambar di kamera yang digenggam Intan.
"Apa kamu ingat sesuatu tentang gambar ini?" Melody memancing Intan bercerita.
"Aku pernah menunjukkan gambar ini sama Stepen. Dia sangat menyukainya," ucap Intan begitu saja pada kedua bidadari rumah sakit jiwa ini.
"Siapa Stepen?" bisik Melody sama dr. Ervina. "Pacarnya pasien yang meninggal," balas dr. Ervina berbisik tepat di telinga Melody.
Vote dan komen guys.
Terima kasih
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamu Yang Pergi
Novela JuvenilTahukah kamu yang paling sakit saat mengingatmu? Bukan karena wajahmu yang imut dan lucu. Tapi karena senyuman manismu membuatku rindu. #WritingProjectAe Copyright © 2017
