Oliver's POV
"Wow..."
Aku sudah menduga sebelumnya, ia pasti akan berekspresi seperti itu. Mata berbinar, juga pupil nya yang mulai membesar. Pasti adegan berikutnya adalah,
"Menakjubkan!" ucapnya sambil bertepuk tangan.
Sudah kuduga! Aku hanya tersenyum melihatnya, dan menarik tangan nya untuk masuk lebih dalam. Nayara masih sama, ia masih terperangah melihat jajaran busur panah. Ya, aku mengajaknya keruangan dimana disana terdapat beberapa busur panah legendaris yang pernah dipakai oleh orang terdahulu. Zalora yang memintaku untuk mengajaknya kesini, saat Nayara sudah besar juga sudah bisa mengendalikan kekuatan nya, meski hanya sedikit. Pesan adalah pesan, dan aku harus menyampaikan nya.
"Ara," panggilku lembut.
Gadis itu menoleh, senyumnya manis nya masih mengembang. "Kenapa?"
"Sini, aku ingin mengatakan suatu hal padamu."
Author's POV
Nayara duduk bersila didepan Oliver, tangan nya menopang dagu. Dan memperhatikan Oliver yang masih belum bersuara.
"Apa kau tahu, kenapa aku mengajak mu kesini?" tanya Oliver pada akhirnya.
Nayara menggeleng, manik matanya masih terkunci pada iris coklat milik Oliver, menunggu lelaki itu melanjutkan kalimatnya.
"Sebelum pergi, Zalora memintaku untuk membawamu kesini suatu saat nanti. Saat kau sudah dewasa, dan juga kembali kesini. Karena, kau lah yang diharapkan nya agar bisa membunuh Azris yang ia yakini masih berkeliaran diluar sana, Ara." jelas Oliver.
"Sebenarnya, nenek itu kenapa bisa meninggal? Bukankah, dia Ophelix terkuat?"
Oliver tersenyum kecut, "Saat itu, Zalora sedang sendiri, dan Danola sedang pergi ke Distrik Musim Semi, karena para Ogre membawa pasukan nya besar-besaran untuk menghancurkan diatrik itu. Zalora sedang sakit pada saat itu, dan... Sialnya, tanpa kita ketahui, salah satu bawahan Azris menyamar menjadi salah satu pelayan di Istana, dan ia bertugas untuk mengantar obat kekamar Zalora. Lalu, yang diberikan saat itu bukan lah obat, tapi...."
"Racun," sela Nayara cepat, yang dibalas anggukan Oliver. "Lalu, bagaimana kalian bisa tau bahwa itu bawahan Azris?"
"Saat setelah Zalora meminum obat yang pelayan itu berikan, kebetulan beberapa pelayan mendengar pekikan dari dalam ruangan, mereka langsung membuka pintunya dan pelayan itu sudah menyeringai, dengan gelas ditengan nya. Mereka panik, memanggilku. Aku berhasil membunuhnya dengan busur panah milik Zalora, tapi..." Oliver menghela nafas berat.
"... Tapi, aku tak bisa menyelamatkan Zalora, bahkan penyembuh sekalipun menyatakan tidak sanggup. Pembuat penawar racun pun tidak bisa membuat penawar untuk racun dari kaum Azris."
Oliver terlihat sangat rapuh, Nayara jelas bisa merasakan nya. Rasa menyesal, karena Oliver tidak ada pada saat itu.
"Masalah nya... Dia..." tangis Oliver pecah, membuat Nayara sedikit terkejut, baru kali ini Nayara melihat Oliver serapuh ini.
"Dia...."
"Ssttt.. Sudah," Nayara memeluk Oliver, berharap bisa memberi sedikit rasa tenang untuk Oliver.
"Dia sudah seperti Ibuku, Ara... Dan aku, aku malah..."
"Sudahlah, itu bukan salahmu," Nayara mengusap punggung Oliver dengan lembut, ia masih memeluknya.
"Olv..." Nayara menjauhkan sedikit tubuhnya, dan mencium lembut kening Oliver. "Oliver ku kuat, jangan menangis, ya? Kau sangat jelek," ucap Nayara.
Oliver tersenyum samar, bagi Oliver sekarang Nayara adalah yang terpenting, Nayara segalanya baginya. Perasaan nya sedikit tenang sekarang, Nayara masih bersamanya.
"Terimakasih."
Nayara's POV
Aku mengikuti langkah Oliver, baru kali ini aku melihatnya menangis, kejadian itu pasti sangat memukul hatinya. Sampai dadaku juga terasa sesak.
"Kita, mau kemana lagi?" tanyaku, saat Oliver mulai melangkah lagi.
"Ini," Oliver mengeluarkan sebuah busur panah dari dalam peti.
Aku terperangah, melihat vusur panah yang sederhana namun begitu indah. Tangan ku tergerak untuk menyentuhnya, jari ku menyusur mengikuti motif rumit disana. Refleks, sudut bibirku tertarik saat mendapati nama Zalora disana. Tertera dengan indah, entah tulisan apa yang pasti itu bukan Alphabet biasa. Tapi, aku bisa membacanya. Aneh, tapi menakjubkan.
"Ini, milik Zalora?" tanyaku pada Oliver yang berdiri disisiku.
"Ya... Itu milik Zalora, dia ingin kau memilikinya." jawab Oliver. "Panah itu bisa membidik objek yang kau inginkan, dia tidak akan meleset dari objek mu."
"Wuoh! Hebat!"
"Tapi, kau harus mempercayainya. Ini bukan panah biasa, dia memiliki kekuatan magis. Kau masih ingat, kelemahan kaum Zenith?" tanya Oliver.
Aku mencoba mengingatnya, kelemahan... "Ah! Air dari gua nitran?" tebakku yakin.
"Ya, itu bukan air biasa... Ia bisa berubah menjadi apapun, agar bisa tersamarkan. Dan kau, juga harus belajar menggunakan nya." jelas Oliver lagi.
"Baiklah, terimakasih, Olv."
Refleks, tubuhku mendekap tubuh Oliver karena saking senang nya, ia mengusap pucuk kepala ku sayang. Lalu menjauhkan tubuhnya.
Brak!
"Pangeran, Putri, gawat! Istana diserang!"
• • • •
OPHELIX
TBC
A/n
Pendek ya? Part selanjutnya dibikin agak panjang.. Nanti aku kasih Cast Nayara versi elves ya?
Sama jawab, Orc itu apaa... Ogre itu apaaa... Gitu2 lah 😂
Happy Sunday! And Happy Holiday!
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasy[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)