Author's POV
Seorang anak lelaki dengan bola mata coklat terang nampak sedang memainkan busur panah mainan nya ditaman istana ditemani beberapa maid untuk mengawasinya.
"Pangeran, apa kau belum lapar? Ini sudah waktunya makan siang.." Ucap maid itu lembut. Tapi anak lelaki itu menggeleng kuat dan menunjukan cengiran nya. "Masih mau main." jawabnya. Maid itu hanya tersenyum tipis, meski ia risau bahwa pangeran kecilnya itu sangat susah sekali untuk disuruh makan.
"Oliver sayang.. Makan dulu ya?" Wanita paruh baya itu mengusap pucuk kepala Oliver, dan merendahkan tubuhnya. "Nanti Ratu marah.." Lanjut maid yang sudah mengasuh Oliver sejak kecil. Oliver memanyunkan bibirnya, tapi ia mengangguk setuju, maid itu tersenyum "Nah.. Itu baru Oliver ku."
"Hannah! Hannah!" panggil seseorag dengan panik. Maid yang berasa dipanggil namanya itu memutar kepalanya, "A—ada apa Ratu? Kenapa anda terlihat sangat panik.."
"Bawa Oliver ke Negri Ophelia! Sekarang! Cepat!" Ucap Ratu sangat panik. Hannah yang sedang menggendong Oliver cepat-cepat mengangguk dan menegakkan tubuhnya.
"Mom.. Kenapa?" tanya Oliver polos, Ratu hanya memandang putra nya itu dengan nanar, sudut matanya sudah tak bisa menahan air matanya.
"Sayang.. Hidup yang baik disana, ya? Mom menyayangimu.." Ucap Ratu seraya menciumi putra nya itu, mungkin itu adalah terakhir kali ia melihatnya.
"Hannah, cepat!" Perintah Ratu dengan suara yang lirih namun setengah berteriak.
"Mom! Aku tidak mau!" Oliver meronta dari gendongan Hannah yang membawanya lari.
Creb.
"Moooooom!!!!!!!" Oliver kecil melihat anak panah melesat cepat dan menembus punggung sampai keperut ibunya, darah keluar dari tubuh Ibunya itu. "Mom.. Jangan tinggalkan aku sendiri.." Ucap Oliver terisak, Hannah yang tak kuat melihatnya cepat-cepat membawa Oliver pergi melalui jalan rahasia yang hanya diketahui oleh orang kerajaan dan itupun tidak sembarangan karena ada beberapa mantra untuk membukanya. Itu adalah jalan yang menembus antara Epic Teritori dan Ophelia, maka tak heran jika hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya.
"Hannah.. Ada apa? Kenapa Mom? Apa Mom meninggal? Dimana Dad?" Mulut kecil Oliver masih menanyakan hal yang sama sejak tadi, Hannah hanya bisa menahan air matanya dan tetap berlari. Sampai ia tiba didepan sebuah pintu dengan warna Gold, mulut Hannah melafalkan beberapa mantra.
"Kau aman disini.. Cari Ratu Zalora, dan Raja Danola. Ya?"
"Lalu, kau?" tanya Oliver polos, matanya masih berair.
"Aku harus pergi, sayang.." Hannah mencium kening Oliver dan menutup kembali pintu itu.
Sedangkan Oliver terus menggedornya dari dalam, dengan air mata yang masih berlinang. Oliver yang masih kecil saat itu belum mengetahui apa-apa, dan ia bingung atas apa yang terjadi. Oliver menangis sejadi-jadinya, diruangan yang bahkan ia tak tau itu dimana. Ia membenamkan wajahnya disela lututnya yang ditekuk.
"Siapa disana?" tanya seseorang, Oliver mengangkat wajahnya.
"Bibi.." Tangis nya semakin pecah lagi.
"Oliver?! Kenapa kau bisa disini?" tanya perempuan yang tak lain adalah Nirina.
"Bibi, Mom.. Mom meninggal.." Ucap Oliver.
Nirina sempat kaget, dan membekap mulutnya tak percaya. "Bagaimana dengan Ayahmu?"
"Oliver belum ketemu sama Dad.."
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasi[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)