"Alam bawah sadarmu, Putri!"
Pupil ku melebar seketika saat mendengar kalimat yang diucapkan Azris. Alam bawah sadarku, katanya? Lalu kenapa dia bisa berada bersamaku, dan kenapa aku ada disini?
"Aku harus melawan mu disini, sayang. Di alam dimana hanya kau yang bisa ada didalamnya. Tapi aku disini, bukan kah itu hebat?" Ujar nya lagi dengan senyum miring diwajahnya.
"Bersiaplah."
Aku memasang posisi siaga dengan refleks, sayap ku mengembang busur dan anak panah sudah berada ditangan ku. Bukan waktunya berfikir kenapa dia bisa ada disini, satu-satunya yang haru kufikirkan adalah, bagaimana caranya agar aku bisa mengarahkan anak panah ku dan menembak tepat dibagian vitalnya.
Author's POV
Nayara berlari dengan cepat, dan perlahan kaki nya mulai melayang dari tanah. Ia mengepak sayap nya kuat-kuat, menyimpan terlebih dahulu senjatanya untuk waktu yang tepat. Didepan nya, Azris sudah siap dengan sebuah benda berbentuk bola berwarna hitam, bukan bola api seperti tadi.
Nayara mengelilingi Azris dengan jarak dua meter, ia memejamkan matanya, lalu membuka nya dengan kuat. Di kedua tangan nya sudah terdapat dua bola api dengan cahaya biru yang berpendar. Nayara diam untuk sesaat saat melihat reaksi Azris yang seolah mengejek nya, gadis itu menaikan satu alisnya dengan senyum miring.
"Hanya itu yang kau punya? Dasar bocah!" Desis Azris.
"Ah? Begitukah?" Jawab Nayara, ia mengangkat sebelah sudut bibirnya. Lalu menatap kearah kaki Azris, dimana tanaman rambat mulai keluar dan mulai melilit tubuh Azris.
"Apa kau lupa tempat ini milik siapa, Azris?" Tanya Nayara congkak lalu menghujamkan dua senjata nya bersamaan.
"Argh!"
Azris mengerang saat merasakan rasa sakit yang ia rasakan dari api biru Nayara, rasanya seperti ada yang menguliti nya hidup-hidup. Azris terus mengerang tubuh nya tidak bisa banyak bergerak karena tanaman rambat yang melilit tubuhnya dengan kuat, ia melirik kearah lengan kanan dan juga bahu kirinya secara bergantian. Kulit nya mulai melepuh, sebagian tubuhnya yang terkena api biru Nayara mulai melebur menjadi abu.
"Sial!" Azris mendengus.
"Menyerah?" Tanya Nayara masih dengan nada congkak nya.
Azris mendecih, "menurutmu? Aku akan menyerah semudah itu? Tentu tidak, bodoh!"
Dengan paksa, Azris menggeliat, meloloskan dirinya tubuhnya memerah, urat-urat di wajah dan juga tubuhnya nampak menyembul di permukaan kulitnya. Luka ditubuhnya perlahan membaik.
Nayara mundur beberapa langkah, entah apa yang sedang terjadi. Yang pasti, lawan nya sangat cepat memulihkan diri.
"Kau tahu, putri?" Tanya Azris.
"Aku memiliki darah sang terkuat sebelumnya, sebelum mate mu dan juga dirimu. Jadi kau tidak perlu merasa kaget seperti itu." Lanjutnya.
Nayara membelalakan matanya, tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar, entah kenapa ada yang bergejolak didalam dirinya. Apa itu maksudnya Azris juga dengan tidak langsung mengorbankan anak nya sendiri? Yang benar saja.
"Kau adalah makhluk paling biadab yang pernah ku temui!" Nayara mendesis dengan tatapan yang tajam.
"Biadab katamu?" Nada Azris kini meninggi.
"Kau, ku kira kau murni ingin membalaskan dendam mu padaku untuk mengganti kematian anak mu. Tapi, kau juga memiliki darahnya, huh? Menjijikan! Aku kasihan pada Pangeran Zach karena memiliki Ibu sepertimu. Kau lah satu-satunya yang menjadi jahat, bukan Putramu!" Ujar Nayara dengan nafas yang menggebu, dadanya naik turun seiring dengan kemarahan nya yang terus meletup-letup didalam dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasía[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)