Oliver's POV
Aku memandang cemas wanita yang sedang terbaring lemah didepanku sekarang, matanya masih tertutup, kulitnya melepuh sebagian akibat terkena anak panah tadi. Grandpa sudah mengobatinya, dan ia bilang ada yang sengaja memanah nya karena menginginkan darahnya, anak panah itu mengandung racun ringan yang bisa melepuhkan kulit.
Dan untungnya, darahnya belum menetes kebawah hanya mengalir ke lengan nya saja, karena jika darah nya sampai menetes dan orang yang sengaja memanahnya mendapatkan darah itu, akibatnya akan sangat fatal karena darah Nayara istimewa, satu tetes nya saja bisa membuat seorang makhluk immortal hidup abadi, dan memeliki kekuatan seperti yang terkuat.
"Ara.. Bangunlah, aku minta maaf.." lirih ku, tapi tetap Nayara tak bergeming, mulutnya masih mengatup, kelopak mata nya masih menutup bola mata birunya itu. Aku sangat menyesal, kenapa aku bisa bertindak seceroboh itu hanya marah karena ia pernah dekat dengan lelaki lain. Cemburu, baik.. Aku cemburu! Sangat! Tapi seharusnya tadi, aku tak meninggalkan nya. Bodoh! Aku sangat bodoh.
"Bangunlah.." aku menggenggam tangan nya yang dingin, menempatkan jari-jariku disela jari tangan nya, aku mencium lembut tangan yang sekarang terasa sangat dingin itu berharap ia bisa merasakan nya dan terbangun. Tapi sayang nya, tetap tidak ada respon. Kenapa racun ringan bisa seperti ini? Sesaat aku mulai berfikir, aneh.
"Kau khawatir padaku ya?"
Aku mengadahkan kepalaku, menatap Nayara yang sedang tersenyum tipis kearahku.
"Kau sudah sadar?" tanyaku.
"Hehe.. Dari tadi, aku memaafkan mu.. Sudah lah, aku tidak apa-apa.." Jawab Nayara santai malah ia sedang terkekeh saat ini. Aku langsung melepas genggaman ku, dan bangkit dari duduk ku meninggalkan nya,lagi. Bagaimana bisa ia dengan santai mengucapkan hal seperti itu? Disaat aku benar-benar khawatir padanya.
"Es.. Jangan pergi, maafkan aku.. Aku tak bermaksud seperti itu.. Aku bahkan tak tahu kau se-khawatir itu.. Untuk masalah laki-laki yang pernah dekat denganku, dia hanya teman.." Jelas Nayara, aku menghentikan langkahku memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat dan menatap lurus Nayara yang kini memandangku dengan tatapan nanar. Aku tahu, dia sedang menahan air matanya. Seketika, hati ku merasa sakit kenapa juga aku akan meninggalkan nya lagi seperti tadi? Jelas Nayara sedang membutuh kan ku.
"Jangan pergi.. Kumohon.." Lirihnya, aku mendekat kearahnya mendudukan tubuhku dibibir kasur. Memeluk tubuh mungilnya erat, "Maafkan aku.. Tak seharusnya juga aku meninggalkan mate ku seperti tadi hanya karena rasa cemburuku.. Maaf.."
"Iya.." Balas Nayara pelan, ia membenamkan wajah nya dipelukan ku. Kurasakan tubuhnya sedikit gemetar, kenapa dia?
"Apa kau tidak papa? Tubuhmu bergetar.." tanya ku cemas dan melepas pelukan ku tubuhnya masih gemetar, bahkan bibirnya sudah memucat.
"Kau kenapa?!" tanya ku semakin panik.
"Aku merasa sangat dingin.." jawabnya, suaranya gemetar. Aku masih diam, dingin? Tapi aku tidak merasakan apa-apa.
"Oliver, apa Nayara sudah sadar?" Grandpa Danola kini sudah berada dibibir pintu dengan raut wajah paniknya. Ia menatap ku dan Nayara bergantian, lalu ia tersenyum lega. Ia melangkah kan kakinya dan membawa sesuatu ditangan nya.
"Apa kau merasa dingin?" tanya Grandpa pada Nayara, Nayara hanya mengangguk pelan.
"Pakai ini, kau belum terbiasa.. Ini sudah akan memasuki musim dingin.. Dan disini tak seperti di dunia mu sebelumnya, disini lebih dingin.." jelas Grandpa, aku baru ingat jika ini sudah akan mendekati musim dingin pantas saja Nayara sangat gemetar, dia belum terbiasa beda denganku.
"Kau pakailah.. Ini akan sedikit membantumu.. Minum ini juga.." Grandpa memberi pakaian khusus untuk Nayara dan membawa segelas minuman penghangat pastinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasy[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)