03 ◾ Mate?

6.5K 478 8
                                        

Pagi ini sangat menyenangkan, pagi pertama ku di istana sebagai seorang putri, tapi yang lebih menyenangkan adalah aku bisa sarapan dengan orang tuaku kembali.

"Apa sekolah mu disana baik-baik saja?" tanya Mom membuka pembicaraan. Aku masih diam,ragu untuk menjawab. Karena sebenarnya, aku memilih Home Schooling.

"Eng.. Sebenarnya aku.. Home Schooling Mom." ucapku.

"Oh.. Kenapa kau ragu, sayang? Kita tak akan marah." Jawab Dad dengan senyum yang mengembang.

       Aku tersenyum senang, mereka masih sama. Meski mungkin nanti,mereka akan lebih sibuk karena mengurus kerajaan. Lalu tiba-tiba terlintas difikiran ku untuk menanyakan soal mate.

"Mom,sebenarnya mate itu..." ucapku ragu. Mom menghentikan aktivitas makannya,dan beralih menatap ku. Ia tersenyum,senyum yang selalu bisa membuatku merasa damai.

  "Sayang.. Sebenarnya kita ditakdirkan untuk jatuh cinta hanya sekali,tak seperti manusia. Kita sudah ditakdirkan untuk bisa mengetahui siapa mate kita, detakan jantung kita akan berpacu dua kali lebih cepat. Dan salah satu dari kalian bisa menunjukan masa depan kalian lewat tatapan mata." Terang Mom panjang lebar.

Seketika aku diam, sepertinya saat ini jantung ku sudah benar-benar berada didalam perutku untuk yang kesekian kalinya.

Jadi benar, bahwa Oliver itu...

"Mom yakin kau sudah merasakannya.." lanjut Mom dengan senyum yang bermaksud menggodaku. Dad hanya terkekeh melihat wajahku yang mungkin sudah merah seperti udang rebus saat ini.

   "Betul nih..." goda Dad.
"Ish, berhenti menggodaku." ucapku , yang hanya dibalas gelak tawa dari mereka.

"Tapi percayalah,sayang.. Dia yang terbaik untukmu." Ujar Dad, aku hanya tersenyum.

"Morning Mom, Dad!" ucap sebuah suara, aku mengadahkan kepalaku. Pipiku kembali memerah.

"Oliver?" batinku, dia memanggil orang tuaku dengan panggilan yang sama dengan ku?

Sedangkan Mom dan Dad hanya mengangguk dan tersenyum.

"Duduklah.. Makan sarapanmu." suruh Mom yang dibalas anggukan Oliver. Detik berikutnya ia menarik kursi kosong disebelahku dan mendudukan tubuhnya. Ia mengambil Canolli dan Teh hangat sebagai sarapannya.

"Mom, Dad.. Kapan aku bisa melakukan transformasi?" tanyaku.

"Jika kau sudah siap, hari ini kau bisa mencobanya. Tapi tidak disini, dan tak semudah itu. Pergilah ke tempat Grandpa Danola,ia akan membantumu." terang Dad.

  Aku mengangguk paham, dan memakan kembali pudding coklat ku.

"Oh ya.. Karena Dad ataupun Mom tak bisa mengantarmu. Kau pergilah bersama Oliver." lanjut Dad.

"Uhuk...Uhuk.." Alhasil, aku tersedak pudding ku sendiri.

"Pelan-pelan, dasar ceroboh!" Oliver memberiku minum,yang langsung kuteguk habis. Sedangkan Mom dan Dad hanya tertawa melihatku.

Argh! Aku ini kenapa?!

Author's POV

"Sudah siap?" tanya Oliver yang sudah stay diatas Pegasus nya. Tapi Nayara hanya ternganga dengan mata membulat dramatis.

"Pegasus.." gumamnya pelan.

Oliver memutar bola matanya seraya terkekeh kecil. "Kagumnya nangi saja! Ayo cepat naik!" perintah Oliver.

"Aku mau naik pegasus sendiri."

"Kau belum bisa mengendalikannya, nanti kau jatuh!"

"Ish.." desis Nayara, tapi ia baru sadar bahwa Oliver sedang mengkhawatirkannya. Wajahnya sedikit memerah, entah kenapa. "Kau mengkhawatirkan ku?" tanya Nayara.

OPHELIX [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang