22 ◾ Penyerangan (1)

2.3K 191 2
                                        

"Argh!"

Azris menggertak saat mendapati dirinya dibodohi, ia mendecih lalu merusak apapun yang ada dihadapan nya saat ini. Urat-urat wajahnya nampak keluar, amarah menelan kesadaran nya. Didepan nya, Froy hanya memandang Azris yang sebentar lagi ia rasa akan menghancurkan wilayah nya sendiri.

"Hey, apa kau tidak bisa tenang sedikit?" Tanya nya.

Azris mendecih sambil menatap Froy dengan tatapan membunuh, lalu berkata.

"Tenang katamu? Hey, ikan! Apa kau merasakan apa yang ku rasakan saat ini? Kau yang hanya diam, duduk tenang di dalam kolam penuh air tahu apa, hah?!" Ucap Azris pelan namun penuh penekanan, suaranya sudah bagai desisan ular paling berbisa sedunia.

Froy menenggelamkan diri, karena kesal dan juga sedikit takut apalagi saat melihat urat Azris yang semakim menegang.

"Mereka mengelabui ku, maka aku tidak akan tinggal diam." Desis Azris lagi.

"Pergi ke wilayah Ophelia, sekarang juga! Aku muak dengan permainan mereka!" Perintah Azris yang merupakan perintah mutlak bagi kaumnya.

Amarah nya sudah mencapai ubun-ubun, kenapa ia bisa dibodohi oleh permainan kekanakan mereka? Itu membuatnya kesal, jika saja tidak mengingat Musim Gugur yang ke-100 akan tiba dalam beberapa jam lagi, ia tidak akan segan-segan memberantas ssmua rakyat Ophelia, tapi sayang... Darah sang terkuat akan berfungsi jika semua rakyat nya menyaksikan nya.

"Aku tidak bisa kau bodohi lagi, Nayara Anderson." desis nya.

Beberapa saat lalu...

Kepakan sayap terdengar semakin mendekat, Azris semakin menajamkan penglihatan nya. Senyum congkak perlahan tergambar disana, tapi, semakin lama semua semakin jelas. Dalam beberapa detik tatapan Azris berganti menjadi tatapan penuh kemarahan, giginya bergemeltuk karena kesal, tangan nya mengepal sampai bukunya memutih.

Dihafapan nya sekarang, hanya ada dua pegasus mendekat, tanpa tidak ada seorang pun yang menungganginya. Apa maksudnya? Apa ini jebakan?

Kesal, Azris mengangkat tangan nya dan mengarahkan nya pada dua pegasus itu. Dalam sekejap, cahaya berwarna hitam dengan  gradasi biru gelap keluar dari telapak tangan Azris.

Pyash

Tiba-tiba dua pegasus tersebut menghilang dari pandangan Azris, serpihan berwarna biru dengan gradasi putih beterbangan diudara seiring dengan hilang nya dua pegasus tersebut.

Brak!

"Kalian!"

Nayara's POV

Aku masih mengekor dibelakang Oliver, aku dan Oliver sudah mempersiapkan semuanya, mulai dari senjata sampai baju yang kami pakai. Tidak lupa strategi yang juga sudah kusiapkan dengan Oliver, yah.. Dan renacana pertama Oliver berhasil, dengan mengirim dua pegasus sebagai umpan agar kami bisa masuk dengan mudah dan mengalihkan perhatian Azris. Dan Oliver berhasil menyelamatkan dua pegasus itu dengan teleport yang bisa Oliver lakukan, ah.. Bahkan aku baru tahu mate ku bisa melakukan teleportasi.

Kulihat beberapa kali Oliver menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada yang mencurigakan dibelakang ku.

"Aku tidak papa, oke?" ucapku.

"Aku khawatir, Ara."

Aku memutar mata, lalu membalikan tubuhku.

"Hey, apa yang kau lakukan?" Tanya Oliver keheranan.

"Kau menjaga ku, aku menjagamu. Anggap saja aku adalah mata kedua mu yang bisa melihat apanyang terjadi dibelakang mu. Dan kau adalah mata kedua ku yang bisa melihat apa yang terjadi di belakang ku. Aku tidak mau jika hanya kau yang menjagaku, aku juga ingin melakukan hal yang sama, Olv." Jelasku.

OPHELIX [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang