24 ◾ Pengorbanan

2.6K 210 0
                                        

Nayara dan Oliver mengepak kuat-kuat sayap mereka, menembus awan. Pikiran mereka campur aduk, terutama Nayara. Langit sudah mulai menggelap, bulan penuh sudah menggelayut indah di langit yang masih dipenuhi awan kelabu.

Ia ingin membiarkan Azris mati dengan tidak meminum darah nya, tapi jika ia melakukan seperti itu maka ralyat nya yang akan mati bersama Azris. Tapi, jika ia membiarkan Azris meminum darah nya, maka Azris memberi sedikit pengampunan dengan tetap membiarkan semua rakyat nya hidup. Itu pilihan yang sulit.

Nayara terus menatap lurus kedepan, dengan pandangan tajam namun kosong didalam. Fikiran nya terlalu berbelit, ia memikirkan banyak hal. Nasib raktmyat nya, ayah dan ibu nya... Dan bagaimna Ophelix kedepan nya ditangan Azris. Atau, apabila dia yang bisa membunuh Azris, untuk apa dia hidup jika ia hanya sendiri?

Apa renacana Azris sebenarnya? Nayara masih tidak habis fikir, kenapa rakyat nya bisa ikut mati jika Azris juga mati? Apa itu hanya ancaman?

Nayara mengerjap beberapa kali, saat menyadari kalimat terkahir yang baru ia gaungkan didalam pikiran nya. Selama ini Azris hanya mengecoh nya, bagaimana bisa rakyat nya mati jika Azris mati? Itu tidak masuk akal, bahkan di dalam dunia yang menurut Nayara tidak masuk akal.

Gadis itu menguatkan tekad, mempercepat kepakan sayap nya lalu mendarat ditanah dimana ia harus melawan Azris.

"Ara, jujur. Aku sangat takut melihatmu." Oliver bergumam.

Nayara melirik kearah Oliver dengan manik yang sudah berganti warna kembali menjadi warna semerah darah, dengan iris nya yang berwarna merah terang menyala. Sayap Nayara semakin melebar, menguat. Derap langkah nya yakin membuat siapapun yang melihatnya beringsut mundur kedepan. Nayara siap dengan baju zirah dan juga busur panah ditangan nya.

Oliver tersenyum miring lalu mengikuti perubahan Nayara, otot tangan Oliver membesar, manik nya berganti hitam legam. Tatapan nya beringas, sebuah pedang yang terbuat dari perak muncul digenggaman nya. Sayap nya bertukar menjadi sayap yang percis dimiliki Nayara dengan warna biru gelap. Rahang Oliver mengeras langkah nya mantap, lalu ia berdiri di sisi Nayara.

"Aku maju bersamamu." Desis Oliver menakutkan.

Nayara tersenyum miring penuh arti.

"Tentu, Olv. Kita mulai sekarang."

Azris tertawa congkak saat melihat dua terkuat yang tersisa bertranformasi. Di sekeliling nya, rakyat Ophelia menyaksikan tanpa adabyang berani maju untuk mendekat. Tapi itu pengecualian bagi Raja dan Ratu mereka yang sedang ditahan di lemari kaca transparan khusus di antara dua pohon pinus yang paling tinggi, mereka terus memberontak, tidak peduli dengan tubuh mereka yang semakin terluka jika bersentuhan langsung dengan kaca tersebut.

"Sial!" Nayara menggertakan giginya saat melihat kedua orang tuanya yang sengaja Azris tahan. Wajah nya berubah merah karena tekanan darah yang terus meningkat, warna matanya kembali berubah, kini berubah menjadi hitam legam, dengan disertai semburat emas yang seperti menyambar-nyambar. Nayara benar-benar kehabisan akal sehat nya, ia ingin segera menembakan kelemahan Azris agar wanita bajingan itu segera mati ditangan nya.

Gadis itu maju selangkah, mendekat kearah Azris, ini seperti pertarungan satu melawan satu. Karena pasukan Azris juga memilih undur meninggalkan Tuan nya, dan lagi sebagian dari mereka sudah tewas. Sedangkan para Merman dan juga Orc, mereka juga memilih kembali ke tempat asal mereka, memilih untuk tidak tamak dan termakan buaian Azris yang jelas-jelas hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri.

Oliver bergerak mengelilingi lapang, membuat dinding pertahanan bagi rakyat nya. Hanya satu daerha yang tak bisa ia lindungi, yaitu dimana Raja dan Ratu– orang tua keduanya ditahan.

OPHELIX [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang