17 ◾ Plan

2.6K 209 2
                                        

"Arahkan pasukan pedang di arah barat, lalu pemanah disetiap bukit, sudut istana juga diatas oleh pasukan penerbang. Lengkapi setiap Pemimpin Pasukan perang untuk melengkapi senjatanya dengan tambahan belati, juga air dari gua Nitran!"

Nayara mengutarakan semua yang ada dalam fikiran nya dengan antusias, dengan disaksikan oleh kedua orang tuanya, Kakek nya para penasihat lain dan juga tentunya... Oliver.

Semua orang di ruangan itu mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk sebagai tanda paham. Setelah selesai menjelaskan, Nayara– gadis itu diam memainkan jari tangan nya sendiri. Entah kemana rasa percaya dirinya tadi, yang kini tiba-tiba menciut saat ia telah selesai mengutarakan rencana nya. Ya, dan ia rasa, ini yang terbaik setelah ia mendapatkan kembali penglihatan masa lalu, meski Nayara tau, itu tidak semua hanya sebagian nya saja.

"Putri, maaf... Apa kita bisa membawa air dari gua Nitran tanpa mereka ketahui?" tanya seorang Pemimpin Pasukan Udara.

Nayara mengangguk, "tentu saja! Kau bisa mengubah air itu menjadi apapun yang kau mau!"

Semua orang disana mengernyit, Raja dan Ratu menepuk kepala mereka sendiri. Apalagi Oliver yang terlihat sudah gemas ingin menoyor kepala mate nya itu. Apa Oliver lupa memberitahunya? Itu hanya berlaku untuk nya, bukan orang lain!

"Kenapa?" heran Nayara saat melihat perubahan ekspresi juga suasana di ruangan yang kini ia tempati. Gadis dengan rambut pirang itu menatap satu persatu orang yang ada disana. Dan ia memastikam bahwa ada yang salah dengan ucapan nya.

"Ara, aku belum mengatakan sesuatu kepadamu," ucap Oliver.

"Tentang apa?"

"Air nitran, bisa berubah menjadi apapun hanya jika kau yang menggunakannnya, itu artinya... Tidak berlaku untuk orang lain," jelas Oliver.

Nayara mengernyit, mencoba mengingat beberapa hari kebelakang saat pertama kali ia mengubah air itu menjadi sebuah anak panah yang ia gunakan untuk membunuh kaum Orc.

"Ah, aku ingat!" Nayara menjentikan jarinya, tapi ia cepat-cepat menurunkan tangan nya kembali, dan menekuk wajah nya dalam-dalam.

"Maafkan aku."

"Jadi bagaimana?" tanya salah satu dari mereka.

"Ya bagaimana putri?" sahut yang lain.

Nayara menggigit bibir bawah nya, melempar pandangan pada Mom dan Dad nya secara bergantian. Mereka hanya mengangguk, dengan artian memberi kepercayaan pada Nayara yang nantinya memang akan menjadi penerus mereka.
Nayara pasrah, kini ia menatap Oliver yang berada di sebrang nya. Lelaki itu melakukan hal yang sama, seraya berucap 'Kau bisa!' tanpa suara.

"Eng..." Nayara bergumam.

Gadis iris biru itu mencoba mengingat apa yang bisa ia lakukan. Jika hanya ia yang bisa mengubah air tersebut, itu artinya...

"Ah! Olv, apa kita bisa ke gua Nitran sekarang? Kurasa ide ku kali ini akan berhasil."

Lagi, semua mata mengarah pada Nayara.

"Percayalah padanya," ucap Ryan. "Lakukan, sayang."

Nayara mengangguk antusias dan cepat-cepat berlari meninggalkan ruangan, disusul Oliver yang mengekor dibelakang nya.

• • • •

Biru itu menatap lurus air jernih didepan nya sekarang, mencoba meraih nya, dan menangkupkan dengan kedua tangan nya. Ia mulai memejam, membayangkan bahwa yang ia pegang saat ini ada sebuah busur panah. Beberapa detik kemudian, benda yang ia pegang terasa mengeras. Gadis itu tersenyum, dan membuka mata.

OPHELIX [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang