EPILOGUE

4.7K 265 7
                                        

Deburan ombak terdengar salimg bersahutan menggapai tepi pantai dengan pasir putih, sebagian hamparan pasir putih tersebut ditaburi berbagai macam kelopak bunga berwarna pink dan biru. Sebuah karpet merah tergelar menuju sebuah panggung sederhana yang terbuat dari kayu. Di kedua sisi karpet nerjejer kursi berwarna putih yang telah terisi oleh orang berpakaian hitam-putih, menyamakan dengan dress code yang telah ditentukan. Semua terlihat bahagia disana.

Lalu, dipanggung seorang pria yang mengenakan tuxedo hitam terlihat tersenyum menutupi kegugupan nya, hatinya berdetak hebat karena ini adalah hari yang paling ia nantikan. Pandangan pria itu lalu terkunci pada wanita dengan gaun putih dengan rambut pirang yang di gerai dengan sebagian sisi nya ditarik kebelakang, dengan gaun putih yang membalut tubuhnya, sangat cantik dan anggun sedang berjalan dari ujung karpet merah seraya menggandeng tangan seorang pria yang lain, senyum mengembang di wajah nya sesaat lalu ia menunjukan wajah cool nya untuk menjaga karisma.

"Dad, aku gugup." Bisik Nayara seraya mengeratkan pegangan pada Ayah nya.

"Atur nafasmu, sayang." Saran Ryan.

Nayara menuruti perkataan Ayah nya, ia menatap satu persatu tamu yang hadir. Ia menelan saliva nya sendiri, lalu pandangan nya beralih pada pria dengan tuxedo hitam. Darah nya berdesir, pipi nya yang merah terlihat merona sangat kontras dengan kulit putih nya.

Lalu disinilah Nayara sekarang, bersama Oliver, saling berhadapan dengan rasa gugup yang menyerang mereka berdua. Oliver terus memperhatikan Nayara, tubuhnya gemetar.

"Sst.."

Nayara mengadah perlahan menatap Oliver dan jatuh di mata coklat terang Oliver yang sukses membuat Nayara terbius dan juga menenangkan nya. Tatapan Oliver seolah mengatakan 'Tenanglah, aku ada bersamamu'.

Nayara tersenyum simpul, lalu menegarkan dirinya sendiri.

"I, Oliver, take you, Nayara Anderson, to be my wife. To have, and to hold, from this day forward. For better, for worst. In sickness until death do us part."

Oliver menghembuskan nafas nya perlahan dengan mata coklat yang masih mengunci manik biru milik Nayara.

"............ You have become husband and wife. And can now seal the agreement with a kiss. Today your kiss is a promise, you nay kiss the bride."

Oliver mendekat kan wajah nya pada Nayara dan menarik lembut dagu Nayara. Sekarang, hari ini. Oliver mencium Nayara didepan semua orang, dengan perasaan yang sangat memaksa untuk segera meledak. Sorakan semua orang terdengar riuh, mengalahkan ombak yang terus menghantam pantai dan batu karang, di tengah senja yang sedang menjemput malam.

Oliver melepas pagutan nya, mencium kening Nayara lalu memeluk gadis itu.

"Terimakasih." Bisik Oliver.

"Aku yang berterimakasih, Olv." Balas Nayara.

Mereka berbalik kearah Nirina dan Ryan yang sedang sibuk mengusap ujung matanya karena air mata ya g terus mengalir keluar. Nayara tersenyum bahagia, lalu turun dari panggung dan memeluk kedua orang tuanya secara spontan.

"Ah, kau sudah dewasa sayang." Ucap Nirina.

"Jika dia menyakitimu, bilang pada Dad. Kupastikan dia tidak bisa merasakan tubuhnya lagi." Ucap Ryan.

Nayara tertawa renyah dengan air mata yang keluar, ia sangat bahagia saat ini seakan hatinya telah meluap keluar.

"Ara, jangan kalah dari Oliver, oke? Jika Oliver mu itu berbuat seperti kemarin, tendang dia untuk ku." Ucap Danola.

Nayara terkekeh dan melirik Oliver yang sedang mengerucutkan bibir nya sebal, seperti anak kecil.

"Baiklah, aku akan melakukan nya." Jawab Nayara.

OPHELIX [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang