Seminggu Kemudian...
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdsngar menggema diruangan yang terlihat gelap dan lembab itu, ruangan yang awalnya penuh dengan karisma dan juga terlihat hidup kini terlihat mati. Bahkan jendela tidak dibuka karena pemiliknya tidak ingin membiarkan satu cahaya pun masuk.
Beberapa detik kemudia, suara pintu berderik terdengar nyaring. Seorang wanita dengan paras cantik masuk lebih dalam, dengan msmbawa nampan berisi makanan diatas nya. Wanita itu berjalan perlahan, lalu duduk dibibir kasur. Ia mengambil nampan hang berisi buah-buahan yang sudah layu bahkan membusuk dan mengganti dengan nampan yang baru ia bawa sekarang.
"Olv, kau harus makan, sayang."
Wanita itu berucap sambil membelai lembut rambut lelaki yang sejak seminggu setelah kejadian malam musim gugur tidak kunjung bergerak dan juga berbicara. Ia bahkan enggan keluar dari kamar, tidak makan bahkan minum. Kulit nya bahkan berubah putih, hampir pucat.
"Mom sangat khawatir." Tambah nya lagi meski tidak mendapat respon.
"Pergilah, aku tidak ingin menyakiti mu, Mom." Suara serak keluar dari mulut lelaki itu untuk pertama kalinya.
Nirina menghela nafas lalu menghembuskan nya perlahan, ia sakit melihat Oliver yang seperti ini. Sekarang, hanya Oliver yang ia miliki sebagai putra nya.
"Tapi dengan sikap mu yang seperti ini membuat Mom sakit." Lirih Nirina.
Oliver membalikan tubuhnya, lalu mendudukan nha secara perlahan. Baru kali ini ia angkat bicara setelah satu minggu.
Oliver menatap kosong Nirina yang mulai menangis.
"Maaf, hati ku hanya belum bis amenerima bahwa Nayara pergi, Mom." Ucap Oliver. Tangan nya bergerak lalu mengusap air mata Ibu keduanya itu.
"Mom juga sama, Olv. Tapi kumohon, jangan seperti ini. Nayara tidak akan suka jika melihatmu seperti ini."
Oliver mengangguk perlahan, lalu tersenyum kecil.
"Makan ya?"
Oliver mengangguk.
Nirina lalu mengusap kepala Oliver dan meninggalkan nya sendiri dikamar nya.
Oliver menghela nafas, lalu menatap makanan yang ada dinakas tanpa gairah.
"Apa kau sedih melihatku seperti ini, Ara? Lagipula kau tidak tahu, bukan?" Tanya Oliver melakukan monolog.
"Ara... Rasanya aku sudah meninggal saat ini. Kenapa aku masih harus memakan ini?" Ucap Oliver lagi.
Hatinya masib kosong, beberapa kali ia ingin melakukan percobaan bunuh diri, tapi sialnya Mom dan Dad nya selalu tahu. Untuk itu, Oliver lebih memilih diam dan tidak makan apapun ataupun minum. Sampai ia mati kelaparan, mungkin?
"Aku tidak mau ini, aku hanya menginginkanmu. Nayara Anderson."
Dark Forest
Danola menghembuskan nafas lega saat, dua kelopak mata itu terbuka setrlah seminggu lamanya pemulihan. Mata biru gadis dihafapan nya menerawang langit-langit kamar, mengerjap beberapa kali. Lalu mengedarkan pandangan nya keseluruh penjuru ruangan, dan berkahir pada Danola yang berada di sisi nya.
"K– kakek?" Lirih gadis itu.
"Ssstt.. Jangan banyak biacara dulu, oke? Biar ku periksa keadaan mu." Ucap Danola dengan senyum yang mengembang.
Gadis itu menurut, ia belum bisa berfikir jernih saat ini. Hanya satu yang terlintas dalam fikiran nya, mate nya.
"Grandpa sangat bersyukur kau bisa diselamatkan, sayang." Danola berucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasía[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)