Malam sangat dingin, seakan menusuk dan meresap pada tiap tiap tulang dalam tubuhku. Aku melihat jam yang berdetak dengan teratur di dinding ber-cat silver itu.
"Jam 02.00" gumamku. Lagi lagi aku terbangun karena suara orang yang memanggilku. Ah! Ini sangat menyebalkan! Aku putuskan untuk turun dari kasurku dan menuju balkon. Angin malam langsung menerpa lembut wajahku.
Sudah tiga tahun saat kepergian orang tuaku, aku mulai terbiasa hidup sendiri. Tapi akhir akhir ini, aku sering mendengar orang memanggilku.
"Hey sedang apa? Ayo! Kembali! Mereka menunggumu!"
Aku terperanjat kaget. "Si–– siapa kau?" tanyaku dengan suara gemetar. Suara itu, suara yang selalu membuat ku bangun ditengah malam kini terdengar lagi. Dengan mengatakan hal yang sama.
"Heh! Tenanglah!" Ucapnya lagi.
"Aku bertanya kau siapa?!" tanyaku lagi.
"Baik.. Aku keluar.."
Tak lama bayangan seseorang muncul dari kamarku dan berjalan menuju balkon. Bayangan itu mulai semakin jelas. Kaki ku gemetar karena takut, tapi perasaan itu sirna begitu saja saat aku melihat pria dengan wajah tampan, putih pucat dan bola mata warna coklat terang.
"Kau siapa?" tanya ku.
"Ayo ikut saja! Para Ophelix sudah menunggumu!" ujarnya lagi.
Aku melempar pandangan heran. "Ophe–– apa?" tanyaku masih bingung dengan ucapanya.
"Untuk seorang yang terkuat kau sangat lemot!" tukasnya. Aku hanya mendengus sebal dikatai lemot.
"Ah ayolah!" dia menggenggam tangan ku dan melompat dengan cepat dari balkon.
"Kau gila?!" pekikku.
"Sedikit.." kekehnya.
Aku sudah tak bisa berkata apapun saat tubuhku yang sebentar lagi akan menghempas aspal jalanan. Tak terbayang rasa sakitnya olehku, atau mungkin saja aku akan mati.
Ini sungguh gila! , batinku.
BRUUUKK!!!
Tunggu, kenapa tidak sakit? Aku membuka mata yang daritadi terpejam secara perlahan.
"Hutan?" gumamku saat pertama kali yang kulihat adalah barisan pohon besar yang mengelilingi. "Dan.. Aku tidak mati!" pekikku senang seraya merab tubuhku memastikan tak ada bagian yang hilang atau pun terluka.
"Kau tidak akan mati secepat itu bodoh!" Cibir cowok yang menarik tanganku tadi. "Ayo ikut aku." lanjutnya.
"Tunggu! Aku tidak mau! Aku tak mengenalmu! Dan kau mau membawaku kemana?!" tanyaku memekik. Langkah nya terhenti dan sekaramg ia sudah ada didepan ku lagi.
Cepat sekali.. Pikirku.
"Tapi aku mengenalmu,Nayara Anderson. Kita akan ke Negri Ophelia,nanti kujelaskan semua disana. Dan ada yang sangat ingin sekali menemui mu disana." jelasnya, nadanya datar.. Dingin. Terkadang mendengar nada bicaranya yang sangat dingin membuat ku seakan dihujam oleh es! Sangat dingin!
"Eng.. Lalu, namamu siapa? Es?" tanya ku penasaran.
Ia berbalik dan menatapku, "Es? Aku punya nama bodoh! Aku Oliver Johanson. Panggil aku sesuka mu." jawabnya.
Apa susahnya? Tinggal jawab nama tanpa harus menyebutku bodoh. Menyebalkan sekali.
"Oke,Es!" ketusku.
"Kenapa kau terus saja me––"
"Kau yang bilang aku bebas memanggilmu,ingat?" selak ku cepat. Dia hanya diam dan memutar matanya. Aku tersenyum puas,melihat nya ngambek. Dia lucu sekali..
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasy[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)