"Suatu hari nanti, tiga orang terkuat, akan memenuhi takdirnya untuk melindungi ketiga negri peri. Semuanya berjalan baik, tawa dimana-dimana. Tapi, tidak ada kebaikan yang sempurna. Kejahatan ada diantara mereka, salah satu dari yang terkuat."
• • • •
Gelap. Tidak ada sesuatu yang bisa kulihat disini, semuanya menghening... Kemana Oliver? Dimana aku? Kenapa aku bisa ada ditempat segelap ini? Bahkan saat mati lampu di dunia manusia ku, tidak sampai segelap ini. Apa aku... Mati? Tapi, aku sedang tidak melawan siapapun. Atau aku sedang bermimpi? Tapi, kapan aku tidur? Bukan kah tadi aku sedang ditaman bersama Oliver?
Aku semakin bingung, dan mulai panik karena semuanya gelap. Tapi, tidak lama ketakutan ku sedikit memudar saat seberkas cahaya memasuki mata ku. Cahaya itu lama kelamaan semakin membesar dan menyeruak kesagala penjuru arah, membuat pandangan ku semakin jelas.
Aku mengerjap beberapa kali, memastikan pandangan ku kembali normal. Aku melihat sekeliling, sepi. Tempat yang kupijaki sekarang begitu asing bagiku, untuk sekali lagi, aku bertanya, ini dimana?
"Dia akan tetap menjadi yang terkuat..."
Aku menoleh saat mendengar gumaman yang masuk kedalam telingaku. Siapa? Pikirku.
Aku terhenyak saat menyadari bahwa sekarang aku berada dalam sebuah kamar. Bagaimana bisa?
Kamar ini, terlihat sangat rapi, aku terus mengedarkan pandangan dan iris biru ku terkunci pada sosok wanita dengan rambut putih keabuan yang sedang terduduk gelisah di bibir kasur nya, tubuhnya menghadap kearah jendela yang langsung menghubungkan nya pada sebuah taman.
Dia siapa? Pikirku lagi. Kenapa dia begitu terlihat gelisah?
"Tenanglah, dia tetap akan menjadi yang terkuat," gumam wanit itu lagi.
Jujur, aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi sepertinya aku mengenal wajah itu. Tapi otakku ternyata terlalu lama untuk mencerna sesuatu.
Ayolah! Wanita itu... Sebentar, rambut putih keabuan itu, tanduk yang menempel pada kepalanya... Bukan kan dia... Azris? Jadi ini kamar Azris? Gawat! Kenapa aku ada disini? Aku harus cepat-cepat bersembunyi!
Krieet...
Aku tersentak saat suara derit pintu terdengar menggema diruangan ini, sial! Sepertinya aku akan segera menjadi santapan lezat Azris.
"Hey," ucap Azris disertai dengan kepalanya yang ikut menoleh.
Apa dia melihatku?
"Hey, Ma."
Ya, keadaan ini semakin membuatku bingung, apalagi saat seorang lelaki kira-kira berumur 14 tahun muncul dari balik pintu. Aku cepat-cepat bersembunyi, meski aku tidak yakin apa mereka melihat kehadiranku disini atau tidak. Tapi, pastinya tidak.
Diam-diam, aku memperhatikan keduanya, mendengar percakapan mereka. Semua hanya percakapan ringan, sampai...
"Sebenarnya apa yang menggangumu?" tanya lelaki itu.
Azris tersenyum, sangat manis, bahkan aku tidak pernah mengira ia bisa tersenyum semanis itu.
"Tidak ada," jawab Azris.
"Kau berbohong padaku, Ma."
Azris menghela nafas, "Aku hanya sedikit ketakutan."
"Tentang ramalan itu? Percayalah, tidak apa-apa, anak mu ini tetap yang terkuat."
Azris tersenyum kembali, tangan nya bergerak mengelus pipi lelaki tersebut.
"Ya.. Memang seharusnya begitu."
"Jadi, ayo kita pergi, pasti mereka sudah menunggu."
Pergi? Mereka mau pergi kemana? Tiba-tiba pandangan ku kembali kabur. Hanya beberapa detik, dan kini aku sudah berada disebuah ruangan yang dipenuhi banyak orang.
Suasana sangat ramai, penuh dengan orang yang berperawakan sama denganku, dan aku yakin sebagian dari mereka adalah kaumku. Tapi jika benar, aku tidak melihat Mom dimanapun.
Lagi-lagi aku kebingungan, ini dimana lagi? Kenapa keadaan ini sangat membingungkan bagiku?
Mata ku kembali menatap sekitar, mengamati satu persatu orang yang sedang bersenda gurau disana, dengan pakain rapi yang mereka miliki. Dan jika diperhatikan lagi, sepertinya pemilik istana ini sedang mengadakan pesta.
Tidak ada yang kukenal, semuanya asing.
Aku kemudian berjalan, menyusuri tempat yang tidak ku kenal ini. Entah kenapa, kaki ku bergerak begitu saja, menyusuri sebuah lorong yang entah akan membawaku kemana.
Akhirnya, aku berhenti diujung lorong. Didepan ku terdapat sebuah pintu kayu, tangan ku bergerak membukanya. Sebuah taman.
Taman seperti di istana ku sekarang, dan disana hanya ada seorang anak lelaki dan seorang pelayan. Aku tersenyum saat melihat anak lelaki yang sangat lucu itu, ia bermain sendirian dengan ditemani seorang maid yang mengawasinya.
Maid itu mendekat pada anak.lelaki yang masih sibum memainkan busur panah mainan nya. Entah apa yang dikatan maid tersebut, tapi itu membuat anak lelaki yang ada didepan nya menekuk wajah dalam-dalam. Aku terkekeh sebentar, entah kenapa melihat anak itu mengingatkan ku pada Oliver.
"Hannah! Hannah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
OPHELIX [COMPLETED]
Fantasy[Amazing Cover By : MagicalLantern] [COMPLETED] [END] Menjadi keturunan terakhir sang ras terkuat bukanlah hal yang mudah! Bayangkan saja , kehidupan normal mu berubah dalam satu malam. Hanya karena suara yang berkata "Kau yang terkuat! Pulanglah! K...
![OPHELIX [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/125413182-64-k651082.jpg)