Suasana Vio’s café sangat ramai sejak pagi ini, banyak orang yang berdatangan untuk makan, atau sekedar menikmati kopi atau coklat panas. Bahkan ada yang hanya meneduh karena di luar hujang sedang sangat deras, cuaca yang tidak mendukung ini membuat Vio’s café penuh dan para pelayan harus pintar – pintar memilih jalan untuk mengantarkan pesanan pelangganya.
Café yang aku bangun sendiri dari nol besar membuat ku berani member nama Vio’s Café, walau hanya sebuah café kecil dipinggiran jalan yang disampingnya berdiri deretan rukan – rukan elit yang sangat mendoninasi lingkungan ini. Café yang masih kecil menjadi alasan ku untuk memiliki anak buah sedikit juga, hanya ada satu koki, satu kasir, dan empat weters dan wetris, seorang asisten atau wakil ku kalau aku tidak bisa datang dan mengurus café.
“ Mbak Vio ada telpon dari mas Awan “ suara Titin asisten ku, membuat ku terkejut dan telpon di meja ku segera berdering dan selalu membuat ku tersenyum malu walaupun semua anak buah ku sudah tahu Awan adalah seseorang yang memiliki tempat paling special dihati ku.
“ Hai ada apa? “ Tanya ku, dengan penuh kebahagiaan mengingat hari ini adalah hari jadi ku dan Awan yang ke lima.
“ Vio….. “ kali ini suara Awan sedikit berbeda dengan yang biasanya, seiring waktu kebersamaan ku dan Awan tidaklah sebentar hampir semua kebiasaan Awan, aku tahu dan suara ini bukan yang biasanya, sepertinya dia sedang tertekan.
“ Ada apa Awan? “ jawab ku sersikap seakan – akan tidak merasakan apa – apa.
“ Vio…. Maaf hari ini aku gak bisa mampir ke café kamu “ kecurigaan ku semakin kuat pasti ada sesuatu yang telah terjadi, ahhh positive thingking Viona please ucap ku pada diri sendiri.
“ Ow kirain ada apa, ya udah kalau sekarang gak bisa mampir kan besok, lusa juga bisa kesini “
“ Bukan….. bukan begitu maksud ku “ hening sesaat Awan tidak melanjutkan kata – katanya seakan dia bingung sendiri memilih kata – kata untuk berbicara pada ku, tanpa sadar aku pun hanya terdiam menunggu kelanjutan kata – kata Awan. “ Mungkin aku tidak akan datang lagi ke café entah untuk sampai kapan atau bahkan bisa untuk selamanya “ akhirnya Awan selesai menyelesaikan kata – katanya yang terasa sangat sulit untuk dikatakanya.
“ Kamu ngomong apa sih, garing ah bercandanya “ jawab ku dengan tawa hambar.
“ Aku serius dan bahkan sangat serius “ jawabnya tanpa ada unsur bercanda sama sekali.
Tanpa sempat aku bertanya apa maksud perkataan Awan, dia sudah menutup telpon seluruh tubuh ku terasa sangat lemas bagaikan tanpa tulang, aku jatuh terduduk di sofa yang ada diruangan ku. Setelah menenangkan diri aku berusaha mengingat semua ucapan Awan, tidak ada sedikit pun ada unsur bercanda didalam setiap kata yang dia ucapkan. Kepanikan langsung melanda ku layaknya orang yang kehilangan harta berharga didalam hidupnya. Aku menekan nomor yang sudah sangat aku hafal yaitu nomor ponsel Awan dan ternyata aku harus menerima kekecewaan lagi nomor ponselnya diganti tidak ada satu pun yang aktif. Sebuah air mata mengalir jatuh ke pipi ku kekecewaan yang sangat dalam membuat hati ku sakit karena Awan mematika telponya tanpa memberikan sedikit pun penjelasan apa pun buat ku.
==#==
Viona Arlita nama yang tertera jelas di bok yang dibungkus coklat, seseorang telah meninggalkanya pagi tadi didepan café Titin asisten ku yang menemukanya pertama kali, namun tidak ada nama si pengirim sama sekali.
Semenjak telpon Awan saat itu, aku berusaha terus menerus untuk menghubunginya dan meminta penjelasan, seperti ditelan bumi Awan benar – benar tidak bisa dihubungi dimana pun, tak satu orang pun temanya yang mengetahui keberadaanya. Aku selalu memilih mengurung diri di ruangan dengan tatapan tertuju pada telpon dimejanya berharap dengan sangat Awan akan menghubungi ku lagi. Namun harapan hanyalah harapan seperti menunggu hal yang tidak akan terjadi.
