Hampir sebulan hidup dengan ketidak pastian seperti ini, setegar apapun aku mencobanya namun aku hanya seorang perempuan yang lemah dan butuh bantuan apa lagi ini kehamilan pertama buat ku dan jadi pengalaman pertama ku juga, banyak yang aku gak tahu dan hanya bantuan arahan dari Awan yang pernah mendampingi seorang perempuan hamil.
Seperti halnya saat ini perut ku terasa keram dan tidak bisa berbuat apa – apa karena untuk bergerak aja rasanya lebih nenyakitkan dari yang selama ini aku rasain. Menghubungi Indra adalah hal paling gak mungkin aku lakukan mau gak mau hanya Awan yang bisa membantu ku. Tidak lama Awan datang dan membawa ku kerumah sakit, dokter justru menertawakan ku karena kram seperti ini wajar dialami oleh ibu hamil persis dengan apa yang dikatakan Awan namun beginilah namanya juga baru hamil sekali jadi bawaanya panik.
“Indra kemana, kenapa loe gak memintanya untuk mengantar loe ke dokter? “ tanya Awan akhirnya tidak bisa lagi menahan rasa penasaranya.
“ Hmmm dia sedang sibuk, ya udah kalau loe gak mau bantuin gue lagi gak apa – apa kok gue bisa sendiri “ jawak ku asal dan justru terdengar seperti merajuk.
“ Vio tunggu bukan begitu, justru gue seneng banget saat loe seperti ini gue orang yang loe cari, tapi sepertinya ada sesuatu yang loe tutup – tutupi dari gue “ Awan mulai curiga dengan ketidak haridan Indra di samping ku disaat - saat seperti ini.
“ Apa? “ aku menatapnya dengan tatapan gak terjadi apa - apa.
“ Jangan bilang kalau loe belum kasih tahu Indra tentang kehamilan loe? Karena yang gue tahu dia sangat menyayangi loe, jadi gak mungkin dia sibuk dengan kerjaanya dari pada ninggalin loe sakit seperti tadi “ aku gak bisa berbuat apa - apa lagi, aku hanya mengangguk lemah untuk menjawab semua tuduhan Awan dan dia terlihat prustasi dengan jawaban ku.
“ Gue belum nemuni waktu yang pas untuk memberitahukan hal ini “ alasan itu yang bisa aku dapat semoga Awan bisa mengerti
“ Apa harus gue yang kasih tahu dia? “ apa yang akan Indra lakukan kalao dia tahu ke adaan ku justru dari orang yang membuatnya tudak nyaman seperti ini.
“ Jangan – jangan biar gue aja “ kilah ku cepat membayangkan ajah udah bikin aku mual apa lagi sampai dia melakukan beneran.
Akhirnya Awan mengantar ku ke café, dan aku hanya beberapa kali aja ke Vio’s Café dalam seminggu hanya Titin yang aku kasih tahu dan dia sangat bahagia mendengarnya. Menyadari banyaknya yang bahagia mendengar kabar ini memberikan dukungan tersendiri untuk ku.
Memang sekarang Indra sudah tidak pulang malam dan lebih sering dirumah namun sikap diam ku masih berlaku untuknya. Sampai kapan pun kalau bukan dia sendiri yang mengakui kalau dia salah dan berterus terang apa sebenarnya yang membuat dia berubah dengan sebegitunya. Setiap aku ingin memberitahukan perihal kehamilan ku, seketika itu juga aku selalu mengurungkanya biarlah aku sendiri yang menjaganya.
==#==
Hari yang sangat melelahkan menghabiskan hari libur di café memang selalu memberikan hal yang lain dari pada yang lain, sebenarnya ada perasaan gak enak meninggalkan Indra dirumah sendiri karena pasti dia meluangkan waktu untuk beristirahat dirumah dan mungkin ingin aku temani tapi gak sepatah kata pun keluar dari mulutnya saat aku berpamitan untuk ke café.
Rumah sepi seperti gak ada orang tapi ternyata ada Indra sedang duduk didepan TV dengan keadaan mati, entah apa yang sedang dia lakukan sebenarnya.
“Aku pulang “ sapa ku dan langsung naik kemakar tapi Indra lebih dulu menghadang ku karena tidak pernah sebegitu dekat lagi dengan Indra kini berhadapan denganya seperti ini membuat ku merasa kurang nyaman.
