Maaf yah aku udah ngerevisi part ini cuma selalu gak bisa ke save. Maaf ini murni kesalaan ku dan kelupaan ku.maaf udah bikin kalian semua pembaca bingung.
Buat @dhi_saito yang selalu meninggalkan jejak koment disetiap part makasih banyak sukses membuat ku senyum - senyum malu ketebak apa yang aku pengenin hehehe....
^_^ ♡♥♡ →☆←
Diusia kandungan ku yang sudah memasuki bulan ke lima, dan sudah mulai jarang merasa mual dan emosi ku sudah mulai setabil tidak seperti di usia kandungan ku saat awal - awal kehamilan. Dan kali ini Indra benar - benar sudah tidak mengijinkan ku untuk sekedar mengunjungi Voi's café walau hanya sebentar dia pernah bilang kalau dia lebih rela membayar orang untuk menggantikan pekerjaan ku dari pada harus melihat ku bekerja, sebenernya aku juga tidak bekerja seperti yang dia pikirkan hanya mengecek keperluan dan beberapa laporan café aja tapi itu tidak menggoyahkan sedikit pun keputusanya. Ya sudahlah aku benar - benar tidak mau lagi mempermasalahkan hal sepele seperti ini, yang terpenting untuknya dan aku tentunya hanya kesehatan calon anak kita nantinya.
Sebuah pelukan dibelakang ku mengagetkan ku saat aku sedang melamun sembari mencuci buah - buahan, ow ya satu lagi semenjak aku melewati masa kandungan tri semester sekarang Indra jadi lebih manja dan kadang aku kewalahan menghadapinya. Walaupun kadang aku merasa kewalahan jujur aku juga menikmatinya dia juga semakin memanjakan ku. Indra memeluk ku dari belakang dan meletakan kepalanya disela - sela leher ku dan itu sangat membuat ku geli.
" Ndra..... geli tau " aku mencoba melepaskan diri dari pelukanya tapi kayaknya sia - sia aja karena dia justru malah memper erat pelukanya.
" Kenapa sayang? " Kali ini tidak hanya memeluk ku tapi mulai menciumi leher jenjang ku dan usahanya dibantu dengan posisi rambut ku yang di ikat. Tangan kanannya memeluk pinggang ku dan tangan kirinya mengelus - elus perut ku yang semakin besar.
" Kamu kenapa sih, aku lagi nyuci buah nih tar gak selesai - selesai " akhirnya aku berbalik dan menghadap ke arahnya, melihatnya dengan keadaan seperti ini membuat ku sangat gemas, rambut yang masih acak - acakan dan mata yang sendu khas orang bangun tidur membuat ku tidak bisa menahan senyuman sekuat apapun aku berusaha.
" Apa ada yang lucu dimuka ku? " tanyanya panic saat melihat ku tersenyum saat menatapnya.
" Enggak apa - apa " tawa ku pecah saat dia mulai mengelitik ku tanpa ampun walau aku sudah meminta ampun padanya tapi terus terang aku sangat menyukai mukanya saat seperti itu.
" Masih gak mau bilang hemmm..... " Indra masih terus mengelitik ku menunggu sampai aku menyerah.
" Okey aku nyerah, kamu lucu saat bangun tidur Ndra " Indra tersenyum dan tiba - tiba dia sudah mendekatkan dirinya dan mencium bibir ku yang masih terasa bengkak karena ulahnya semalam.
Semakin lama ciumanya semakin dalam dan menuntut, dilumat habis kedua bibir ku atas dan bawah secara bergantian seperti ini adalah terakhir kali dia bisa melakukan ini. Kecupanya sangat lembut dan memabukan membuat ku seketika tanpa sadar mengerang mengeluarkan suara - suara yang aku sendiri tidak sadar berasal dari mana,
" Ahhhhh...... Ndra "
" Hmmmm..... " hanya geraman yang menjadi tanggapanya, dia benar - benar tidak bisa diganggu kalau udah seperti ini fokusnya melebihi saat dia sedang menghadiri meeting di kantornya.
Bibirnya meninggalkan bibir ku untuk member ku kesempatan menghirup oksigen dalam - dalam sebelum dia melanjutkan lagi aksinya, kali ini berpindah pada pipi, bagian telinga belakang kemudian berlama - lama menggoda leher ku dan berakhir lagi di bibi ku. Tanganya yang sejak tadi mengelus - elus pungung ku mulai menjelajah setiap jengkal kulit ku dan sentuhan kulit tanganya dengan punggung ku membuat ku menegang saat menyadari aku masih tidak memakai dalaman apapun karena belom sempat memakainya setelah kelakuanya semalam. Sedetik kemudian badan ku sudah langsung bisa menyesuaikan dengan setiap sentuhannya dan dia semakin memperdalam ciumanya dengan kadang terdengar geramanya disela - sela mulutnya yang dengan terampil membuat ku ikutan mengeluarkan suara desahan.
