1.7

9.7K 811 24
                                    

Jika memang kita bukanlah jodoh, rasa kita tidak akan sekuat ini

-Disa-

****

Disa Pov

Kali ini, aku tau.

Aku tau jika memang akulah penyebab dari semua kejadian yang ada. Benar kata Sherina, dari awal memang aku tidak pantas di cintai oleh orang sebaik Dave.

Aku menyesal, jelas. Aku yang sudah sakit, kini semakin terluka dengan kenyataan pahit ini.

Sekarang yang hanya bisa aku lakukan adalah duduk dilantai sambil terisak di depan pintu ICU. Hanya bisa merapalkan doa dan menyesal. Hanya bisa terdiam tanpa tau aku harus bagaimana.

Aku sangat bodoh. Aku akui hal itu. Aku tidak bisa mengelak.

Tapi aku juga terluka. Aku dalam kondisi tidak stabil.

Kalian bisa bayangkan, bagaimana perasaan kalian jika kalian di posisiku? Aku sangat terluka. Aku sudah lelah berlari dari sekolah hingga rumah Dave, sudah berusaha menahan tangis bahagia, tapi yang ku dapatkan?

Melihat dirinya yang memeluk Sherina.

Aku bukannya tidak mau mendengar penjelasannya, tapi aku hanya tidak siap. Bagaimana jika nanti penjelasannya justru membuat aku semakin terluka?

Memutuskan Dave juga bukan keinginanku. Itu hanya karna aku yang jujur, tidak bisa mengontrol emosiku. Aku terlalu di butakan oleh kemarahan hingga tak sadar akan langkah yang ku ambil.

Aku memejamkan mataku. Air mataku seakan tak berhenti menetes. Rasanya dadaku sesak.  Aku betul-betul hancur kali ini.

Hingga sebuah tangan mengusap lembut kepalaku. Aku membuka mata dan melihat Tante Lesti, ibu kandung Dave yang menatapku tak kalah sendu.

"Disa, ayo duduk di kursi, jangan di lantai, kamu bisa masuk angin" ujarnya sambil ikut berjongkok, mensejejerkan tubuhnya denganku.

Aku menggeleng lemah. "Gak apa-apa Tan. Disa cuma pengen lihat Dave sembuh. Disa cuma pengen Dave..."

Lagi-lagi aku menangis. Aku memang terlihat sangat rapuh sekarang.

Tante Lesti menarikku ke dalam pelukannya. Aku memejamkan mata dan rasanya dada ini semakin sesak. Apa yang harus ku perbuat?

"Di dunia ini, kita tidak akan pernah luput dari kesalahan, Dis. Kamu harus bisa menerima, mungkin memang ini adalah takdir dari yang di atas. Dave pasti baik-baik saja" ujar Tante Lesti seakan memberi tau jika ini bukan salahku.

Tapi yang bisa aku lakukan adalah dengan tetap menangis. Hingga tak lama, pintu ruangan ICU itu dibuka.

Seorang pria berjas putih keluar masih dengan maskernya.

Tante Lesti langsung berdiri, sedangkan aku masih terduduk. Kakiku seakan tak kuat jika harus bangkit.

"Gimana keadaan anak saya, dok?" tanya Tante Lesti.

"Karna kecelakaan tadi, pasien kehilangan banyak darah. Jadi, yang kita butuhkan adalah transfusi darah. Pasien bergolongan darah AB. Apakah di keluarga ibu ada yang bergolongan darah AB?" jelas dokter itu.

"Golongan darah anak saya sama dengan ayahnya dok, tapi ayahnya sudah meninggal. Bag--"

"Golongan darah saya sama dengan Dave dok" potongku cepat.

Dokter itu menunduk, melihat ke arahku. Aku langsung berdiri dan menyeka air mataku.

"Saya siap harus mendonorkan darah saya. Kalau bisa secepatnya, agar Dave cepat sadar" ujarku tak sabaran

Dokter tersebut tampak menganggukan kepalanya. "Kamu ikut saya dulu. Kita cek dulu apa darah kamu bisa. Kalau memang bisa, kita akan lakukan transfusi darah" ujar Dokter Bram.

Aku mengangguk. Aku langsung berjalan mengikuti dokter itu, tapi tangan Tante Lesti membuatku menoleh.

"Kamu gak perlu melakukan ini, Dis. Tante bisa cari pendonor lain" ujar Tante Lesti sambil menggelengkan kepalanya.

Aku tersenyum, lalu menggenggam tangannya.

"Mencari orang bergolongan darah AB itu cukup sulit Tan, dan tante gak mungkin bisa nemuinnya dalam sekejap" ujarku sambil tersenyum.

"Sedangkan di dalam sana, Dave butuh pertolongan. Disa sayang sama Dave, Disa cinta sama Dave, Disa gak mau buat hidup Dave sia-sia hanya karna kecelakaan yang jelas-jelas Disa sendiri penyebabnya" lanjutku.

Tante Lesti menggeleng, tak setuju dengan ucapanku.

"Tapi Dis--"

"Dave udah buktiin kalau Dave cinta sama Disa, tan. Dan biarin sekarang Disa buktiin kalau Disa juga sayang sama Dave. Disa juga gak bisa kehilangan Dave. Tante tau, Dave kecelakaan saja bikin jiwa Disa pergi, gimana kalau Dave meninggalkan Disa?"

Tante Lesti hanya bisa tersenyum pasrah, dan aku membalasnya dengan pelukan.

"Tante bantuin doa ya, supaya darah Disa cocok, dan Dave langsung sadar. Disa pergi dulu" aku tersenyum samar sebelum melepaskan pelukan dan berjalan menjauh.

Aku memantapkan hatiku. Dari dulu, aku sangat trauma dengan jarum suntik. Aku sempat pingsan lima kali hanya karna ingin di suntik.

Dan kini, aku melangkahkan kakiku mantap, melawan segala rasa takut dan traumaku, hanya untuk bisa membuktikan jika aku sungguh menyesal.

Aku sungguh menyayangimu, Dave.

****

Hai guys!

Mohon di vote dan di comment, biar semangat up.

Tapi sih kayaknya bakalan slow up, karna...

Aku mau try out. Heheh :)
Doain aku supaya dpt nilai bagus  yaa! :)

Salam,

Negita.

ComebackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang