Jangan lupa vote dan komentar hehe. happy reading!
***
Naya menyedot habis sebotol susu Indomilk rasa melon miliknya yang ia beli pagi tadi. Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Tetapi, lain seperti anak kelas sepuluh dan sebelas yang bisa dengan riang gembira langsung berhamburan keluar kelas untuk pulang, Naya dan seluruh anak-anak lain yang duduk di bangku kelas 12 tidak bisa pergi begitu saja dari sekolah karena akan ada jam pemantapan materi.
"Hari ini kita Matematika. kan?" tanya Irvan sebelum ia kembali menyuapkan nasi kebuli buatan ibunya ke dalam mulut. Naya dan Sekar langsung mengangguk malas sebagai jawaban.
"Gue kayaknya balik, deh." Sekar tiba-tiba bicara dengan bibir yang sedikit ia lengkungkan kebawah. "Nenek gue masuk rumah sakit lagi soalnya."
Naya diam. Mengamati teman sebangkunya itu bicara. "Demi apa, sih? Gue males banget duduk sendiri."
"Tenanaaaaang.." sambar Fahmi dengan dua telapak tangan yang ia angkat seakan ingin menyetop laju sesuatu. "Ada abang Fahmi yang siap melindungi."
"Najis, lo!" sahut Naya dan Sekar nyaris bersamaan.
Irvan yang sejak tadi sibuk makan reflek ikut tertawa menghina teman sebangkunya itu, "mampus dinajisin."
"Tai," balas Fahmi.
Sekar baru saja selesai menutup tas nya. Perempuan itu lalu bersiap meninggalkan bangku sembari meraih lengan tangan Naya, "anterin gue ke ruang guru piket, sih..."
"Mau cabut beneran, lo?" tanya Naya memastikan. Yang ditanya mengangguk.
"Iya." Sekar menggaruk pipinya. "Kalo nggak urgent gue juga males banget dah bolos pemantapan materi. Mana pas mapel Matematika lagi. Bisa pelanga-pelongo gue besok pas UN," cerocosnya.
Naya kemudian menghela napas, ia mengangguk cepat dan ikut bangkit berdiri. "Yaudah, yuk?"
Naya dan Sekar tidak perlu memakan banyak waktu untuk tiba di ruangan guru piket yang dimaksud Sekar. Dua cewek berseragam putih abu-abu itu langsung mengambil selembar surat izin keluar dari sekolah, dan Naya membiarkan teman dekatnya itu untuk mengisi apa-apa saja yang dibutuhkan.
"Kok di sini?" Suara seorang anak lelaki yang tiba-tiba menongolkan kepalanya di balik pintu ruang piket membuat Naya yang sedang menatap ponsel langsung mengalihkan pandangan. Dan di detik yang sama, wajahnya berubah semangat.
"Reza?"
"Ngapain?" tanya Reza tanpa menjawab sapaan Naya. Cowok itu ikut masuk dan mengamati apa yang di tulis Sekar di surat izin. "Lo izin, Kar?" tanyanya kemudian tanpa perlu menggunakan embel-embel 'kakak'.
"Yoi."
"Ooh," Reza manggut-manggut. Lalu ia menatap Naya. "Lo?"
"Apa?" tanya Naya.
"Ikut pemantapan materi kan?" Yang ditanya mengangguk lemas. "Bagus."
"Lo abis ini mau kemana?" tanya Naya ingin tahu.
Reza tampak diam sejenak. Ia berpikir tempat nongkrong yang mana yang akan ia datangi setelah ini. "Ya kemana lagi," sahutnya kemudian. "Kalo nggak ke Babe ya ke Sutris, lah!"
"Sutris udah jualan lagi emang?" tanya Sekar ikut bergabung dalam obrolan sepasang kekasih itu.
Reza mengangguk dua kali. "Kata Pamor sih udah."
"Gue kirain dia masih pulang kampung," kata Sekar diikuti anggukan kepala dari Naya.
Sutris sendiri adalah seoarang penjual bakso yang biasanya mangkal di belakang sekolah Naya dan Reza. Pria yang usianya kira-kira sudah memasuki kepala empat itu memiliki kulit yang hitam, kumis tebal dan wajah yang sangar. Tetapi, bagi yang sudah mengenalnmya, Sutris adalah seorang bapak berhati hello kitty.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stardust
Fiksi Remaja#21 in Teen Fiction (31/01/2018) "Apapun akhir cerita yang kita punya, bagaimanapun akhir yang kita ciptakan nanti, aku ingin kamu tahu satu hal. Tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban. Dan kita, mungkin adalah salah satu diantaranya," kata Naya s...
