"Aku pergi dulu, Kagura," Gintoki berdiri dan memperhatikan sepatu boots yang dia pakai.
"Hati-hati, Gin-chan!" Kagura melambai dan Gintoki menutup pintu.
Gintoki berjalan menuruni tangga menuju vespa tuanya. Dia menyalakannya, membiarkannya untuk beberapa saat, dan menaikinya. Dia mengarahkan vespanya ke arah Yoshiwara untuk melaksanakan tugasnya, yaitu menjemput istrinya pada pukul 18.00.
Gintoki tiba di Yoshiwara sekitar pukul 17.46. Dia memberhentikan vespanya dan melihat Tsuki sedang bicara dengan Hinowa di kediamannya.
"Terima kasih, Tsuki!" kata Hinowa sambil melambai pada Tsuki. "Hati-hati, Gintoki!"
Gintoki melambai pada Hinowa sambil tersenyum lebar. Tsuki menghampiri Gintoki dan langsung menumpang vespanya. Keduanya pun pergi dari situ menuju rumah.
"Honey, kamu mau jus?" tanya Gintoki. "Aku ingin minum jus di Blok K."
"Ayo," kata Tsuki sambil memeluk erat suaminya.
Gintoki dan Tsuki tiba di sebuah kedai jus yang sering mereka datangi. Mereka beruntung karena kedai tersebut tidak terlalu ramai akan pengunjung.
Gintoki membeli dua jus, yakni jus melon dan jus stroberi. Tsuki menunggu di meja yang berada di luar kedai sambil mengisap kiseru. Gintoki pun meletakkan dua gelas jus besar di atas meja dan duduk berseberangan dengan Tsuki.
"Ada hal yang mau kau bicarakan?" tanya Tsuki yang sadar akan gelagat Gintoki yang aneh; dia tiba-tiba mengajak Tsuki minum jus di luar rumah.
Gintoki mendengus dan mengeluarkan rokok dari yukatanya. Dia mengambil satu batang rokok, membakarnya, dan mengisapnya dengan pelan.
"Kagura," Gintoki mengembuskan asap rokoknya. "Sougo mengajaknya untuk menikah."
Mata Tsuki mendadak berbinar. "Benarkah? Oh, ini berita bagus!"
Tsuki mengisap kiseru-nya dan menyemburkan asap dengan cepat. "Aku sudah menduganya! Mereka adalah pasangan yang menyenangkan dan sangat cocok. Aku mendukung mereka."
Gintoki mendengus keras. "Aku tidak percaya ini. Kaguraku, bayiku..."
"Hey, kamu harus senang," kata Tsuki.
Gintoki memainkan batang rokoknya dengan jarinya. "Kagura masih terlalu kecil untuk menikah."
Gintoki menyeruput jusnya. Tsuki pun menyusul dengan menyeruput seteguk jus melonnya.
"Di mataku, Kagura belum bisa menjadi seorang istri. Dia masih terlalu kekanak-kanakan. Dia sedang jatuh cinta, dan itu membutakannya," terang Gintoki.
"Kamu meremehkannya," sahut Tsuki. "Dia tidak akan dewasa jika kamu terus berpikiran seperti itu."
Gintoki terdiam dan menatap Tsuki. Tsuki mendengus.
"Mungkin kamu tidak terlalu memperhatikan Kagura. Dia punya sisi dewasa. Dia bisa memilih bahan makanan yang murah di supermarket," kata Tsuki.
"Itu aku yang pilih!" ucap Gintoki. "Entahlah, mungkin aku belum rela anak perempuanku akan pergi dariku."
Gintoki menatap Tsuki dalam-dalam. "Apakah, kita harus punya anak?"
"Tahun depan saja. Aku masih ingin mengenakan stocking jaring-jaring dan mengisap pipa," jawab Tsuki sambil mengisap pipanya.
"Aku lelah mengeluarkannya di luar dan merasa tersakiti melihat anak-anakku mati sia-sia," ujar Gintoki.
"Kalau begitu jangan dikeluarkan, simpan mereka baik-baik di dalam buah zakarmu," balas Tsuki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Life After War
FanfictionUsai perang, kehidupan para pahlawan yang telah memberikan Edo kehidupan punya jalan mereka masing-masing. Hijikata dan Sougo, misalnya, yang akan menikahi orang yang mereka cintai.
