Chapter 13

975 101 18
                                        


Makan malam mereka selesai dengan menyenangkan. Usai makan, Hijikata minta izin untuk merokok di luar restoran karena keadaan di dalam cukup ramai.

Hijikata berjalan keluar, ke sisi kanan restoran, dan membakar rokoknya. Dia menoleh ke belakang, dan jendela belakangnya memperlihatkan sosok Mitsuba yang sedang berbincang dengan Kagura.

"Jangan salah tingkah," Gintoki muncul sambil memegang kiseru dan mengisapnya. "Kau tidak selemah itu."

Hijikata tidak menjawab. Dia hanya menatap lantai yang dipijaknya dan memainkan rokoknya.

Hijikata mendongak dan mendengus. "Apa yang kalian rencanakan di belakangku?"

Gintoki mengembuskan asap dari kiseru-nya dengan perlahan. "Aku tidak tahu. Tapi, aku tahu mereka ingin kau untuk lebih aktif bergerak."

"Mendekati Mitsuba?"

"Apalagi?"

Hijikata terdiam. "Keberanianku belum sampai ke tahap yang kalian inginkan."

"Memangnya, apa yang kami inginkan?"

Kedua mata Hijikata mendadak lembut, seakan dirinya sedang memandang Mitsuba.

"Sudahlah, Gintoki. Biar Sougo saja yang memulai hidup barunya lebih dulu," ucapnya pelan.

Hijikata menoleh pada Mitsuba yang berada di belakangnya. "Aku tidak tahu apakah Mitsuba bisa bahagia jika dia hidup denganku yang berlumuran darah ini."

Kiseru Gintoki menghajar dahi Hijikata. Hijikata terhuyung ke belakang sambil memegangi dahinya.

"Kamu pikir, aku tahu apakah Tsuki bahagia hidup denganku atau tidak?" kata Gintoki. Nadanya meninggi.

Hijikata tak menjawab. Dia masih memandangi Gintoki yang mengisap kiseru-nya.

"Aku sudah pernah bilang padamu berkali-kali. Aku ingat, aku pertama kali mengatakannya padamu beberapa hari sebelum aku menikahi Tsuki, saat kita sedang makan malam di Ichiran," Gintoki mengembuskan asap dari kiseru-nya. "Sampai detik ini, aku tidak tahu apakah Tsuki bahagia hidup denganku atau tidak, tapi aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuknya."

Gintoki menatap Hijikata. "Paling tidak, aku bertanggung jawab dengan keputusanku. Aku hanya ingin melindungi orang-orang yang aku sayangi, dan aku terus melakukannya sampai sekarang. Aku tidak peduli apakah aku layak. Yang jelas, aku memilih Tsuki karena aku ingin dia membantuku agar aku menjadi pria yang layak untuk dinikahi. Tak ada yang berjuang sendiri-sendiri, kami berjuang bersama."

Gintoki menatap Tsuki melewati jendela. Mata mereka beradu.

"Dan saat kau mengetahui orang yang kau pilih mau berjuang bersamamu, perasaan itu tidak bisa digambarkan. Saat aku menatap Tsuki yang tidur di pelukanku dan dia tertidur pulas, aku lega. Dia nyaman berada di dekatku, dia merasa aman. Bahagiaku sederhana, yaitu melihat Tsuki yang tertidur pulas di sampingku."

Gintoki tersenyum pada Tsuki. Tsuki membalasnya dengan senyum lebar. Pandangan Gintoki beralih pada Hijikata.

"Saat kau mengatakan 'Apakah Mitsuba bahagia jika dia hidup denganmu', kau pikir Sougo dan Kagura akan bahagia jika mereka hidup bersama? Mereka sama saja dengan aku dan Tsuki," kata Gintoki.

Hijikata mematikan rokoknya ke lantai dan membakar rokok baru. Dia masih tak menjawab dan masih menatap ke bawah. Tatapannya kosong.

"Kau dan Sougo adalah orang yang sama. Kalian Shinsengumi, hidup kalian berlumur darah untuk memberi pelajaran pada para kriminal. Itu pilihan kalian, dan kalian tidak masalah dengan itu. Kalian banyak melindungi nyawa orang-orang yang kalian tidak kenal, apa salahnya untuk membahagiakan diri sendiri?" kata Gintoki.

Hijikata menatap Gintoki dan mengisap rokoknya. "Beri aku waktu sampai hari Minggu. Jika tidak, aku akan melakukan seppuku."

"Atau Sougo akan menggantikan posisimu," timpal Gintoki disambut Hijikata yang menyeringai.

"Aku masih lapar. Aku akan kembali ke dalam," Gintoki mengisap kiseru-nya. "Ingat, ada waktunya kau merasa lelah untuk melakukan masturbasi dengan bantuan tanganmu sendiri."

Hijikata tak menjawab. Dia hanya melihat Gintoki yang berjalan masuk ke dalam restoran.

Hijikata berdecak. "Kenapa si tolol itu selalu benar?"

Life After WarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang