Sungwoon gantian mencoba menghubungi Minhyun di Hp nya tapi Minhyun tidak mengangkatnya juga.
Jantung mereka semakin berdetak kencang teringat surat dari masa depan itu. Di surat itu tertulis jika tanggal 31 Desember adalah tanggal kematian Minhyun. Pikiran buruk langsung terbayang dipikiran mereka.
“Ayo kita coba ke rumahnya” Kata Daniel khawatir
“Iya” sahut Guanlin
Mereka berlari meninggalkan kuil dan pergi ke rumah Minhyun. Sampai disana mereka bertemu nenek Minhyun yang bilang jika Minhyun setelah mandi langsung pergi.
“Ayo cari dia!” kata Daniel
“Terima kasih banyak!” pamit Daniel
Mereka lalu berlari mencari Minhyun disepanjang jalan dari rumah nenek Minhyun. Mereka berpencar mencari Minhyun tapi mereka tidak menemukan Minhyun.
“Minhyun?!” teriak Seongwoo memanggil manggil Minhyun.
Ia bertemu Daniel
“Daniel!”
“Apa kau melihatnya?” Tanya Daniel.
“Dia tidak disini”
Daniel menelpon Guanlin
“Halo? Guanlin? Apa kau menemukannya?”
“Dia tidak ada di persimpangan sini” Jawab Guanlin.
Sungwoon juga berlari mencari Minhyun tapi tidak bertemu. Ia melihat Jihoon yang berlari.
“Jihoon! Apa kau menemukannya?”
“Tidak”
“Dimana dia?!” gumam mereka khawatir
Guanlin terus mencari Minhyun. Saat ia melihat ada seorang bersepeda. Ia langsung mengira itu Minhyuun.
“Minhyun! Oh Maaf. apa kau melihat siswa SMA naik sepeda lewat sini?” Tanya Guanlin pada cowok itu.
Sungwoon dan Jihoon mencari Minhyun bersama-sama.
“Minhyun! Minhyun!” teriak-teriak mereka
Guanlin menghubungi Daniel yang sedang berlari bersama Seongwoo.
“Halo?” jawab Daniel.
“Aku bertanya pada orang disini apakah ada yang melihat orang yang seperti Minhyun, kita harus mencari ke arah depan”
“Baik, kita cari kesana”
Daniel mengajak Seongwoo pergi ke tempat yang ditunjukkan cowok tadi ke Guanlin.
-dilain tempat-
Minhyun mengayuh sepedanya dengan perasaan sedih teringat-ingat ibunya. Air matanya turun membasahi wajahnya. Minhyun terus mengayuh sepedanya menuruni jalanan yang berbelok belok tajam. Ia teringat Seongwoo, wajah dan ucapan Cowok manis itu berkelibat dikepalanya.
“Minhyun? Minhyun? Aku memperhatikanmu, aku memperhatikanmu”
Minhyun teringat ucapan Daniel “Jika terlalu berat, kau tidak perlu menanggung semua beban sendirian kami semua ada disini”
Air mata semakin deras mengalir diwajah Minhyun. Ia tersenyum terharu teringat sahabat-sahabatnya itu.
Tiba-tiba sebuah sinar yang sangat terang dari lampu sebuah truk mengagetkan Minhyun. Ia mencoba mengerem laju sepedanya yang menuruni jalanan penuh belokkan itu.
Daniel, Seongwoo, Jihoon, Guanlin dan Sungwoon juga sudah sampai tempat itu dan melihat laju sepeda Minhyun yang turun dengan cepat dan sebuah mobil yang melaju cepat ke depan Minhyun. Jatung mereka berdetak kencang.
Saat Minhyun melihat sinar lampu mobil itu, semua bayangan teman-teman berkelibat didepannya. Minhyun membanting arah sepedanya ke kiri sampai ia terjatuh terguling-guling ke trotoar. mobil itu melaju dengan cepat melewatinya.
Seongwoo dan sahabat-sahabatnya melihat Minhyun yang tergeletak dijalanan. Mereka berlari panik ke tempat Minhyun berada.
“MINHYUNNN!!!”
“Minhyun”
Daniel yang pertama sampai ke tubuh Minhyun yang tergeletak itu. Ia memeluk tubuh kakeru dan menyenderkan tubuh Minhyun ke dadanya.
“Minhyun!”
“Kau baik-baik saja? Minhyun!”
“Minhyun apa yang kau pikirkan?!!!”
Mereka jongkok didepan tubuh Minhyun dengan tangisan penuh kepanikan dan ke khawatiran.
“Aku harus mengucapkan permintaan maaf pada ibu.” Isak Minhyun dengan suara bergetar
“ini salahku, maafkan aku tapi sesaat aku ketakutan. Jika aku mati, kenangan yang telah aku lalui bersama kalian apakah itu semua akan hilang?”
Tangis mereka semakin menjadi mendengar ucapan Minhyun itu.
“Mulai sekarang dan seterusnya, aku ingin membuatlebih banyak kenangan. Jika memungkinkan aku berpikir tidak ingin mati. Dengan kalian semua, aku ingin bersama kalian semua” tangis Minhyun
“Kami senang! Kami juga ingin bersamamu Minhyun! Aku ingin lebih banyak berbicara denganmu!” ucap Jihoon terisak.
“Beritahu kami kalau kau ada masalah, kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu!” isak Sungwoon.
“Jangan mati, dasar bodoh!” teriak Guanlin dalam tangis.
“Koleksi mangaku, aku akan meminjamkannya sebanyak yang kau mau. Sesuatu yang akan membuatmu tertawa.”
“Dasar bodoh! Aku tidak bisa membayangkan kalau aku tidak bisa bertemu denganmu lagi! Jika kau mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu!” seru Daniel menangis.
“Maafkan aku Minhyun” ucap Seongwoo.
Minhyun melihat Seongwoo yang menangis terus didepannya.
“Seongwoo, ada hal lain yang harus kau katakana selain meminta maaf bukan?” ucap Minhyun sedikit bercanda.
Semua memperhatikan Seongwoo dengan tersenyum meski mata mereka masih penuh air mata.
“Minhyun, saranghae” ucap Jihoon menjawab permintaan yang Minhyun ingin dengar dari Seongwoo “Begitu, kan Minhyun?"
“Aku juga! Aku mencintaimu Minhyun” kata Sungwoon.
“Aku juga! Minhyun aku menyukaimu” ucap Daniel menatap Minhyun yang rebah dibahunya.
“Su...su…ka… aku menyukaimu Minhyun” ucap Guanlin terbata-bata
Semua langsung tertawa mendengarnya.
“Terdengar menjijikkan Guanlin” gerutu Jihoon
“Berisik” sahut Guanlin.
Semua mata menoleh pada Seongwoo yang belum mengucapakannya.
Seongwoo menatap Minhyun yang juga sedang menatapnya.
“Aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu!” ucap Seongwoo.
Minhyun tersenyum “Aku juga. Aku mencintai kalian! Punya sahabat seperti kalian. Aku sangat bersyukur” ucap Minhyun menatap wajah sahabat-sahabatnya.
Mereka langsung melingkar memeluk Minhyun.
“Terima kasih Minhyun.”
“Terima kasih~~~”
“Kau benar-benar membuat kami sangat khawatir, dasar bodoh”
“Minhyun terima kasih”
TBC!!
Vote and comment jangan lupa
Chapter selanjutnya adalah epilog nantikan ya minggu depan
KAMU SEDANG MEMBACA
ORANGE [OngNielHwang]
FanfictionKisah Seongwoo yang mendapat surat misterius dari dirinya yang ada dimasa depan. Isi surat tersebut mengatakan bahwa Seongwoo yang harus menyelamatkan Minhyun. Main cast: 1.Ong Seongwoo 2.Hwang Minhyun 3.Kang Daniel 4.Ha Sungwoon 5.Park Jihoon BxB a...
![ORANGE [OngNielHwang]](https://img.wattpad.com/cover/124352044-64-k980387.jpg)