CHAPTER 8

11.8K 509 12
                                        

" Ku tak ingin pernah membuat mu menangis, karena setitik air matamu adalah sejuta penyesalanku. "

-Resta Davano Akbar-

******

Nadia memperhatikan sesekali kearah jam yang ada ditanganya, ia tampak gelisah karena dari 1 jam yang lalu abang laki laki nya terus saja menelpon. Resta menatap heran Nadia,

"kamu kenapa sih ay? kek nya gelisah banget?" tanya Resta, Nadia menunjukan beberapa riwayat telpon dari abang nya.

Resta mengerenyitkan dahinya bingung, "abang kamu namanya Riyan?" Nadia mengganguk pelan, Resta segera mengambil kunci mobilnya beserta handphone hitam yang berada diatas meja belajarnya.

"ayok aku antar kamu pulang!" ucap Resta,

Nadia merasa bingung dengan sikap Resta, ia seperti terburu buru saat nadia menjawab pertanyaannya.

"kamu kenapa terburu buru banget sih Res?" resta tidak menjawab ucapan Nadia, ia langsung menarik tangan Nadia menuju kearah mobil, kemudian mobil berjalan keluar dari perkarangan rumah .

sepanjang jalan, tidak ada yang membuka pembicaraan terlebiih dahulu. resta kali ini entah kenapa pandanganya seperti terfokus pada jalan. sedangkan Nadia sesekali melirik kearah Resta. Nadia akui, wajah Resta memang tampan. mungkin itu keturunan dari Ayah nya. begitu juga Alvaro adiknya, mereka berdua sama sama tampan. pantas saja banyak para wanita yang mengilai kedua laki laki tersebut.

"kamu kenapa natapin aku kayak gitu?" taya resta, tanpa mengalihkan pandanganya sedikitpun.

"ngga papa." jawab Nadia, wajahnya memerah. kenapa Resta bisa mengetahui kalau dirinya sedang memperhatikanya.

resta tersenyum pelan, sayangnya Nadia tidak melihat itu "ngga usah malu. aku tau kamu perhatiin aku dari tadi."

"idih pede banget!" tukas Nadia, Nadia merutuki dirinya karena bisa ketahuan dan tertangkap basah sedang memperhatikan Resta.

Resta tersenyum pelan, Resta melirik sebentar kearah Nadia. ia belum siapa jika dirinya akan kehilangan seseorang yang ia usahakan untuk menjaga nya setiap saat.

10 menit berlalu, kini mobil Resta sudah terpakir rapi dihalaman rumah Nadia. Nadia segera menemui kaka laki lakinya.

"bang!" panggil Nadia, setelah itu terdengar bunyi derap langkah dari tangga. Nadia dan Resta menengok bersamaan. Riyan berdiri disana menatap datar Nadia dan Resta.

"kenapa kamu sama dia?" tanya Riyan menunjuk Resta dengan dagunya.

saat nadia akan menjawab Resta langsung memotongnya, "dia pacar gue!" Ujar Resta, wajah Riyan mematung mendengar ucapan Resta.

Nadia merasa bingung, apakah Riyan dan Resta pernah mengenal sebelum nya.

"Emang kalian udah pada pernah ketemu ya?" Tanya Nadia,

Riyan menatap tajam Resta, "Kaka Lo mana sekarang?" Riyan tersenyum smirk,

Resta tetap saja dengan wajah nya yang datar, bahkan seperti nya Resta sama sekali tidak memiliki ekspresi wajah yang lain.

"Ngapain Lo cari Kaka gue?" Ucap Resta,

"Gue kangen dia." Resta menatap dingin Riyan,

Riyan menatap sendu Resta, ia merindukan sosok itu yang sempat membuatnya tergila gila.

"Lo gampang bilang kangen, Yan. Kaka gue terpuruk karena Lo tinggalin dia gitu aja." Ucap Resta,

Setelah mengatakan itu, Resta menghadap kepada Nadia, "aku pulang. Kalo ada apa apa hubungin aku, jangan dekat dekat sama cowok. Bye"

My Possesive BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang