CHAPTER 27

5.4K 166 13
                                        

  Semiliar angin sore membuat perlahan rambut coklat Nadia bergerak, matanya meneliti sebuah titik didepanya. Tanganya sudah bersiap untuk melempar benda ditangannya, tetapi sebuah tangan langsung menahan tanganya.

"apaan sih!" kesal Nadia. 

Ia menyampingkan poni panjangnya ke belakang telinga kanan nya, "lo ngapain sih?!"

"lo yang ngapain, tajam amat ngeliatin mangga gue, " tukas laki laki itu. 

Wajah nya memerah menahan malu karena ketahuan sedang membidik mangga tetangganya. 

"dih ngga ye, fitnah lu! " ucap Nadia, masih ingin membela diri, ya walaupun dalam dirinya sudah merasa sangat malu. 

"Lah, ini mangga memang punya keluarga gue. Nah lu ngapain kalo gitu disini? Pake acara ngebidik segala!" tukas laki laki itu. 

"gue cuman ngeliatin doang ye," bela Nadia. 

Laki laki itu tersenyum melihat wajah Nadia yang menahan rasa kesal nya, terlihat jelas sekali wajah nya memerah dan matanya mendelik tajam menatap sekitar. 

"yaudah ntar kalo udah berbuah gue anter kerumah lu!"

Jari jarinya menyampingkan rambut panjang nya ke belakang telinga sebelah kanan, "terserah lu dah! "

Nadia berbalik badan membelakangi laki laki itu. "btw nama lo siapa?"

"Nadia."

"gue Langit. " ucapnya sambil mengulurkan tangan kepada Nadia yang sudah membalikan badanya kembali menghadap kearah nya. 

Dahi Nadia mengerenyit bingung mendengar nama laki laki didepan nya yang notabane nya adalah tetangga nya. 

"Langit? "

"Langit Bagaskara Putra Angkasa." ucap nya memperkenalkan nama panjang nya. 

Ada keterkejutan ketika Nadia tau jika orang didepan nya ini adalah teman dari salah satu sahabat Bunda nya. 

"Lo anak nya tante Jasmin kan?" tanya Nadia yang dijawab anggukan dari Langit. 

"mau main kerumah?" tawar Nadia. 

"oh jadi ceritannya galak nya hilang nih karena tau gue anak sahabat nyokap lu." ucap Langit, 

kedua alis nya bertautan mendengar penuturan Langit, "kok lo mikir nya gitu, gue baik ya nawarin lu. Bukan nya dijawab malah gitu." kesal Nadia. 

ia pergi meninggalkan Langit, padahal kan niat nya baik. Malah digituin, siapa yang ngga kesel coba. pikir Nadia. 

"loh dek mangga nya mana?" tanya Riyan. 

"noh dipohon" jawab Nadia asal asalan, rasa kesal masih melekat didalam tubuhnya.

Langit benar benar membuat mood nya menjadi turun drastis. 

"lah lu kata mau nyolong mangga tadi, gue udah nungguin juga." sahut Riyan,

Suara tv menggelegar di segala penjuru rumah,  entah apaa yang sedang ditonton oleh Riyan, Nadia tidak memperdulikan nya. 

Hari ini tumben Resta ga ada kabarnya, pikir nya ketika membuka hp nya dan sama sekali tidak ada notifikasi dari laki laki itu. 

Biasanya pagi pagi begini juga sudah ada notif nangkring di layar hp nya. 

"kemana aja sih tu anak?" batinya mulai mempertanyakan keberadaan laki laki itu. 

Ia memilih untuk menaruh kembali hp nya diatas meja belajar dipojok. Dan melanjutkan kegiatan membersihkan kamarnya, rencananya sih Nadia mau merevisi ulang kamarnya. 

My Possesive BoyfriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang