Semoga gue kuat menghadapin halangan yang bakalan buat gue deket sama lo
-JinggaBrovi
Viona dan Vita masih asyik memakan pical yang diberikan Angel tadi, mereka sangat lapar karena tidak makan dari pagi.
"Mah, Jingga gimana?" Tanya Bromo yang baru datang.
"Belum sadarkan diri pa". Jawab Viona lalu membungkus kembali pical nya yang sudah habis.
BEDUKKK!!!
Bunyi suara terjatuh dari dalam ruangan Jingga dan Samudra membuat Vita, Viona dan Bromo saling tatap dan langsung memasuki kamar ditambah dengan Gerry dan Ginzo yang baru datang.
"Astagfirullah". Vita mendekati anak nya yang sudah tidak sadarkan diri di lantai. Gerry dan Bromo mendekat menolong menaikkan Samudra ke atas ranjang.
"Bu..nnn..daa". Ucap Jingga terbata-bata.
"Jinggaaa!" Sontak Viona melihat ke Jingga yang sudah siuman. Viona dengan langkah cepat memanggil dokter, Dokter Nila, ia adalah dokter rumah sakit tersebut dan teman nya Viona dab Vita saat masih SMA.
"Tolong semua nya keluar". Perintah Nila, dengan langkah cepat semua keluar dari ruangan. Vita mondar-mandir di depan ruangan Samudra dan Jingga, tampak raut wajah nya yang cemas. Gerry mendekati Viona yang duduk di kursi depan ruangan Jingga.
"Bun, maafin Gerry". Ucap Gerry sendu.
"Gak salah kamu sayang". Viona membelai rambut Gerry dengan sayang.
"Seharusnya Gerry gak seceroboh ini bun, adek Gerry pingsan sampe masuk uks dan di jemput ayah pun Gerry gak tau, adek Gerry masuk rumah sakit baru kali ini Gerry dateng, Gerry gak guna Bun". Gerry menjabak rambutnya frustasi.
"Gaboleh ngomong gitu". Ucap Viona lirih.
"Sampe Ginzo juga gak tahu, kami berdua ngira bunda, ayah, Jingga pergi keluar kota". Tambah Gerry.
"Maafin Gerry bun". Viona menitikkan air mata yang tak bisa dibendung nya lagi, Gerry mendekat lalu memeluk Viona, tubuh Gerry yang kekar membuat dekapan nya begitu nyaman bagi Viona.
"Bunda jangan nangis, Gerry gak bisa lihat bunda nangis bun". Gerry melepas pelukan tersebut lalu menghapus air mata Viona.
"Bunda cuma bangga punya anak kayak kalian yang saling perhatian satu sama lain, jadilah anak bunda yang selalu begini". Ginzo dan Bromo mendekati Viona lalu mereka berempat berpelukan, Vita yang melihat adegan tersebut hanya bisa tersenyum bahagia melihat sahabat nya begitu sangat bahagia, namun ia sedih mengingat kebersamaan nya dengan Samudra. Afdal akan datang besok pagi karena ada meeting kerja, jadi Vita hanya sendirian menunggui Samudra hingga sadar. Nila keluar dari ruangan dan membuka masker yang ia kenakan.
"Nil, anak gue gimana?" Tanya Vita mendekati Nila.
"Samudra sempat siuman tadi, karna tubuh nya yang masih tidak stabil dan dia memaksa untuk berjalan membuat kesehatan nya menurun, Jingga sudah sadarkan diri. Ia istirahat dan oksigen nya pun juga sudah di copot. Jingga sudah sehat dan besok bisa pulang. Samudra harus tetap di rawat karena tubuh nya yang masih belum memungkinkan". Nila berjalan menjauh dari ruangan Jingga dan Samudra. Viona beralih kepada Vita, air mata seorang ibu ini tak henti-hentinya keluar.
"Sabar Vit, gue bakal nemenin lo disini sampe Samudra sembuh". Viona memenangkan Vita.
"Gak perlu repot-repot, lo masih banyak kerjaan, gue bisa kok sendiri". Vita mengembangkan senyum nya.
"Mungkin bukan cuma lo yang bakalan jagain Samudra, setelah Jingga sembuh total pasti Jingga sering kesini, gue harap anak lo cepat sembuh". Tambah Bromo yang melihat kesedihan di balik senyum Vita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jingga di Samudra [Completed]
Romance{tamat} [dalam tahap revisi] Cinta? Aku pernah mendengar kata itu. Namun bagaimana jika mencintai dia yang juga mencintaiku namun kami tidak bisa bersama karena banyak hambatan? Aku menjauhi nya disaat aku takut, dan setelah rasa takutku menghilang...
![Jingga di Samudra [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/142086125-64-k103159.jpg)