Dua Puluh Enam

8.8K 336 11
                                        

Semilir angin berhembus dengan begitu halus menerpa wajah Kenya. Rasa hangat yang berasal dari api yang berada di hadapannya membuat kesan yang begitu menyenangkan. Saat ini Alex dan Kenya sedang memanggang marshmello di kebun belakang rumah. Mereka duduk di atas alas yang digelar di atas rumput. Dengan leluasa mereka bisa memandang langit yang bertabur bintang dari sana.

"Alex,marshmello ku hangus." protes Kenya yang mendapati jika marshmello nya sudah berwarna hitam pekat.

Alex berdecak. "Kenapa tidak kau balik dan segera angkat marshmello mu itu."

"Aku tidak tau." ujar Kenya pelan. Memang ini salahnya,ia terlalu sibuk melamun hingga tidak menyadari jika marshmello nya sudah hangus terbakar.

"Kau ini,ada-ada saja." omel Alex. Meskipun begitu Alex malah mengganti marshmello milik Kenya dengan miliknya.

"Tapi itu kan milikmu." ucap Kenya tidak enak hati ketika Alex memberinya marshmello baru bahkan sudah terbakar sempurna dengan baik.

"Aku bisa memanggangnya lagi." ucap Alex acuh.

Meskipun kadang merasa kesal dengan tingkah laku Alex,tapi kali ini melihat Alex yang bersikap manis seperti ini rasanya begitu senang. Apalagi Alex selalu ada kapanpun ia membutuhkannya. Andai saja Damish bersikap seperti Alex yang terus berada di sampingnya,pasti ia begitu bahagia. Tapi sepertinya itu tidak mungkin,bahkan sekarang untuk sekedar mengabarinya saja pria itu tidak sempat.

Kenya beranjak dari duduknya dan segera mendekati Alex yang sedang duduk sedikit membelakanginya sambil menaruh kayu lagi agar api nya tetap menyala. Ia memeluk tubuh Alex tiba-tiba,yang sontak itu membuat Alex terdiam.

"Ada apa?" tanya Alex kemudian.

Alex hanya merasakan sebuah gelengan di punggungnya. Ia menghela nafas,kemudian berbalik menghadap Kenya dan kembali memeluknya dengan erat.

"Aku tidak tau apa yang sedang dipikirkan otak cantikmu itu,tapi aku berharap kau tidak menyimpan masalahmu sendiri. Kau bisa berbaginya denganku." ujar Alex yang merasa jika Kenya sedang memikirkan sesuatu yang membuat gadis itu sejak tadi hanya melamun.

"Aku baik-baik saja." ucap Kenya berbohong.

Alex mengelus kepala Kenya perlahan. "Aku tau kau bohong,tapi tidak masalah aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya padaku."

"Terima kasih,Alex. Tetaplah seperti ini,aku ingin memelukmu." lirihnya.

Tidak ada balasan,itu artinya Alex mengizinkannya. Ditambah kini Alex memang semakin membuat Kenya merasa nyaman dengan posisi mereka saat ini. Hingga Kenya tertidur di pelukan Alex pun,Alex tetap tak bergeming dari posisinya.

Udara sejuk dan kicau burung di pagi hari membuat Kenya menggeliat dalam tidurnya. Kenya merasa kasurnya tidak seempuk kasur pada umumnya dan itu membuat keningnya berkerut sambil mencoba membuka matanya perlahan. Pertama kali saat dia membuka matanya yaitu dia melihat hamparan langit luas di pagi hari. Kenya membelalakan matanya karena terkejut dan segera duduk, bangun dari tidurnya. Dia menoleh ke samping kanannya dan terlihatlah Alex yang masih memejamkan mata. Kenya menatapnya miris,pasti tubuh Alex pegal-pegal karena tidur hanya mengenakan alas karpet dan tangannya semalaman dijadikan sebagai bantal oleh Kenya.

Dengan lembut Kenya menepuk wajah Alex."Lex,bangun." ujarnya dengan berat hati membangunkan Alex. Karena dari pada pria itu lebih lama tidur di sini lebih baik dia pindah ke kamar dan melanjutkan tidurnya agar lebih nyaman.

"Hmm." gumam Alex masih belum membuka matanya.

"Alex,lebih baik pindah ke kamar. Tubuhmu akan sakit nantinya." ucap Kenya dengan terus mengguncang tubuh Alex.

My Stepsister Is MineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang