"Namamu ukir diatas dan namaku dibawah ya." Ucap seorang remaja perempuan berumur 15 tahun
"Oke!" Jawab remaja laki-laki yang bersama remaja perempuan tersebut, dan remaja laki-laki itu berumur 3 tahun lebih tua.
Mereka pun menulis nama mereka masing-masing di sebuah pohon besar dipinggir danau, dan dipohon itu teukir 2 buah nama. "Dinka" yang berada diatas, dan "Ridia" yang berada tepat dibawah nama Dinka.
"Selesai!" Ucap Dinka bersemangat.
"Tunggu aku sebentar Dinka!" Pinta Ridia berteriak ke Dinka yang ingin meninggalkannya.
"Engga ah, dadah aku duluan ya, wleee" teriak Dinka yang berlari kecil menjauhi Ridia sembari memeletkan lidahnya meledeknya.
"Ah kamu jahat!" Teriak Ridia yang selesai mengukir namanya dan langsung mengejar Dinka.
27 Desember 2009, 4 hari menuju hari akhir di tahun 2009 dan juga hari dimana semua orang menyambut tahun yang baru.
Terletak tidak jauh dari danau terdapat sebuah taman kecil yang sangat asri dan indah. Terlihat burung-burung berterbangan diatas pohon-pohon besar yang masih sangat alami keasliannya, bangku-bangku yang di tata serapi mungkin terhiaskan bunga-bunga yang dirawat dengan baik.
Disalah satu bangku taman terdapat 2 remaja yang sedang menikmati es krim masing-masing di hari libur sekolahnya.
"Dinka?" Tanya Ridia yang duduk di sebelah Dinka.
"Hemm? Apa?" Sahut Dinka sembari menikmati es krimnya.
"Malam tahun baru nanti kamu ada acara ga?" Tanya Ridia lagi.
"Sebentar sebentar! Hemm, engga ada kayanya" jawab Dinka lalu melanjutkan menikmati es krimnya.
"Aku juga gaada acara" ucap Ridia sambil senyum-senyum ke hadapan Dinka.
"Hemm? Kenapa? Ko senyum-senyum?" Tanya Dinka kebingungan.
"Hemph dasar cowok" ambek Ridia memalingkan wajahnya.
"Dasar cewek" ucap Dinka juga menghabiskan es krimnya.
"Humm nanti saat malam tahun baru, kamu mau ga ikut denganku?" Tanya Dinka.
"Heh? Hemm kamu ya" senyum Ridia manja ke hadapan Dinka.
"Kenapa kamu? Gajelas dasar" celetuk Dinka.
"Iya aku mau, emang mau kemana?" Tanya Ridia.
"Ke pohon besar di pinggir danau itu, kita gelar karpet atau apalah itu dan kita makan-makan seperti ayam dan jagung." Jelas Dinka semangat.
"Kesana doang? Yahh bagus sih, oke aku setuju" jawab Ridia dengan senang hati.
"Oke karena kamu setuju, jadi kamu yang siapin ya semuanya hehehe" canda Dinka.
"Dinka! Engga!" Ambek Ridia.
"Hahaha bercanda ko, nanti kita siapkan semua berdua ok" ucap Dinka sembari tersenyum ke Ridia dan Ridia pun membalas senyum Dinka itu.
28 Desember 2009, disebuah desa yang memiliki jumlah penduduk tidak lebih dari 500 orang. Terdapat sebuah rumah besar dan megah di tengah-tengah desa tersebut, rumah yang dimiliki oleh seorang kaya raya.
"Kak? Adek nanti mau punya rumah kaya gitu kak." Tunjuk adik Dinka kearah rumah besar ditengah desanya.
"Humm, kamu mau tau ga kalo rumah gede gede biasanya banyak setannya?" Ucap Dinka dengan nada agak horor.
"Kakak! Aku sudah besar, kakak udah gabisa nakut-nakutin aku lagi. Wlee" balas adik Dinka.
"Iya iya kamu sudah besar," jawab Dinka.
"Padahal baru 8 tahun, dasar anak kecil" sambung Dinka meledeknya dan membuat wajah adiknya cemberut.
"Kakak??" Tanya adik Dinka.
"Iya iya, doakan kakak sukses ya! Dan bisa membuatkan rumah untuk bunda dan kamu dek" ucap Dinka ke adiknya sembari tersenyum dan membuat adiknya tersenyum juga.
"Aku sayang kakak" ucap adik Dinka memeluk erat tangan Dinka yang sedari tadi memegang tangannya seperti seorang kakak yang gagah perkasa menjaga adiknya dan menuntun adiknya selalu disampingnya agar terjaga dari orang-orang lain.
"Tapi janji kamu jangan cengeng hehehe" ucap Dinka terkekeh.
"Nyebelin" ketus adik Dinka
Setelah berjalan-jalan ditengah desa hingga petang mereka berdua pun pulang kerumah, dan disambut oleh hidangan makanan masakan dari sang bunda tercinta mereka.
"Bunda! Bunda!" Panggil adik Dinka teriak-teriak.
Pltakk! Suara jitakan ringan dikepala adik Dinka.
"Kakak ihh!" Rengut adik Dinka.
"Adik kakak itu sopan, ucapkan salam bukan teriak-teriak gitu!" Ucap Dinka menasihati adiknya.
"Humm iya kak, maaf." Ucap adik Dinka pelan.
"Kisya? Dinka? Kalian udah pulang?" Tanya bunda Dinka yang keluar dari kamarnya.
"Bunda! Bunda! Tadi kan aku ketemu sama bapak-bapak yang kaya banget tau bun." Ucap adik Dinka yang bernama Kisya dengan riang ke bundanya.
"Itu bun, orang kaya raya yang memiliki rumah besar di tengah desa." Ucap Dinka sembari menarik kursi di meja makan dan duduk.
"Terus apa yang kalian bicarakan?" Tanya bunda Dinka yang ikut duduk dikursi dan Kisya pun duduk dikursinya.
"Biar Kisya aja yang cerita!" Sahut Kisya dengan cepat.
"Silahkan saja, toh kakak juga emang gamau ceritain tentang kamu yang gajelas itu." Ledek Dinka.
"Tuhkan kakak nyebelin bun." Keluh Kisya.
"Udah udah ah! Ayo coba ceritain hal seru apa yang pengen kamu ceritain ke bunda?" Tanya bunda Dinka.
"Jadi kan tadi kakak ngajak jalan-jalan terus lewat rumah gede itu bun, terus Kisya minta aja ke kakak bikinin rumah gede kaya gitu buat Kisya sama bunda lagi juga nanti kan kakak mah pergi kan sama kak Ridia ya kan bun?" Ucap Kisya tanpa berhenti.
"Anak kecil." Ucap Dinka seadanya, dan dibales kedipan Kisya.
"Terus pas jalan lewat depan gerbang rumahnya bun, dan ketemu deh sama bapak-bapak pemiliknya. Dia punya kumis sama jenggot putih bun, tapi yang keren tuh dia pakai cincin emas, gelang emas, dan disampingnya ada pengawal gitu bun dua orang." Jelas Kisya panjang lebar.
"Itu tamunya bun bukan pemiliknya." Celetuk Dinka.
"Ihh, yang bener yang mana ini?" Bingung bunda Dinka.
"Hehehe Kisya salah, kak ceritain dong! Kisya belibet nh kan masih kecil." Cengir Kisya.
"Kita ketemu tamu dari pemilik rumah itu bun, dan yah tamunya walau kelihatan sombong tapi dia orang ramah dan gak lama pemilik rumah keluar deh sama anak perempuannya, seumuran denganku sih. Nah, yang dimaksud Kisya ketemunya pas disitu bun. Kita diajak masuk tapi aku bilang harus segera pulang dan yang menyebalkannya, anak kecil yang bernama Kisya ini ingin masuk kesana." Jelas Dinka.
"Terus gimana lagi kelanjutannya?" Tanya bunda Dinka.
"Kita pamit bun, tapi ada satu hal yang sebenarnya ingin Dinka kasih tau. Pemilik rumah itu kenal sama ayah dan ingin bertemu sama ayah dan bunda secepatnya." Jawab Dinka yang membuat bundanya lumayan kaget dan bingung.
......
......
KAMU SEDANG MEMBACA
Air dan Minyak
RomanceHigh rank : 3 - #air [30-07-2018] , 13 - #sliceoflife [31-07-2018], 1 - #minyak [20-03-2019] Semua yang diciptakan itu pasti berpasangan, namun tidak semuanya bisa bersatu. Tapi tuhan itu baik, walau tidak bisa bersatu tapi bisa selalu berdampingan...
