Chapter 22 : Senyum yang Dirindukan.

35 9 8
                                        

Minggu, 24 September 2012.

Suasana hening kini menyelimuti ruangan kecil ini, keringat pun berceceran keluar karena merasa panik dan cemas.

Ridia, bunda dan Kisya kini hanya bisa menunggu dokter yang sedang memeriksa Dinka. Menunggu, menunggu dan menunggu, entah hasil apa yang akan diucapkan sang dokter nanti.

Terlihat Kisya menahan tangis dan berdiri di samping pintu keluar ruangan Dinka, Ridia yang terus memeluk bunda yang sedang menangis.

Tap! Tap! Suara dentukan kaki di lantai rumah sakit sangat terdengar jelas.

"Di mana abang?" Tanya Iniki yang baru sampai dengan memakai setelan baju kaos dibalut jaket kulitnya. "Di dalam," ucap Ridia menjawab Iniki.

Ternyata tak hanya Iniki, Imon, Tomira, Aniria pun datang bersamanya mengikuti di belakangnya.

"Di mana orang tua mu?" Tanya Iniki ke Ridia. "Mamahku sedang mengambil obat di lab, dan papahku sedang mengurus kepengurusan hukuman pak Bastoro di kepolisian," jawab Ridia.

"Bunda?" Panggil Iniki pelan ke bundanya. "Apa nak?" Sahut bunda yang melepas pelukan Ridia dan mengelap air matanya.

"Aku tahu bagaimana ayah dibunuh, dan yang membunuhnya bukanlah Tomira atau Bastoro," ucap Iniki yang membuat suasana hening, bunda mengeluarkan air matanya kembali.

"Tenang, aku sudah menemukannya dan ia sudah dipenjarakan." Ucap Iniki sembari mengelap air mata bunda. "Jadi dengan begini ayah sudah tenang di alam sana," lanjut Iniki.

"Siapa ia?" Tanya Ridia bingung. "Seorang yang Dinka benci," jawab Iniki membuat Ridia, bunda dan Kisya kebingungan.

"Orang yang merebut Aniria, tersiratnya ia mantan Aniria. Orang yang merebut Aniria dari Dinka, dan ia belum laa putus dengan Aniria. Ia mengetahui setelah Aniria putus dengannya, ia melihat Dinka berpelukan bersama Aniria di jalan dan membuat ia membenci Dinka, tanpa di duga ia berada dalam naungan pak Bastoro seperti Tomira jadi ia pun bisa dengan leluasa pulang pergi luar negeri." Jelas Iniki, penjelasan Iniki sangat jelas tetapi ada hal mengganjal dan membuat bunda serta Ridia menangis.

"Apa hanya karena ia berpelukan dengan Aniria, nyawa ayah diambil? Itu maksudnya?" Tanya Kisya sembari menangis, bunda pun hanya menutup mulut menahan untuk histeris. Dan Ridia, dia pun ikut menangis.

"Dinka berpelukan dengan Aniria? Benar itu Ani?" Tanya Ridia ke Aniria yang berdiri di belakang Iniki tepat di samping Imon.

"Sialan kau!" Teriak Kisya yang hendak mencakar Aniria dengan kukunya.

Ptak! Dengan cepat Iniki menarik Kisya dan menjitaknya keras.

"Lepasin bang!" Teriak Kisya. "Aku tak selembut kakakmu," ucap Iniki dengan tatapan tajam ke mata Kisya. "Imon tolong bawa dia ke manapun, Tomira temani Imon!" Ucap Iniki mendorong Kisya ke Imon dan ia memerintahkan Imon dan Tomira.

"Sudah! Sudah! Sini Kisya duduk sama bunda!," ucap bunda halus menyuruh Kisya. Imon pun melepas tangan Kisya dan Kisya menurut duduk tenang di samping bunda.

"Aku mohon jangan ada dendam lagi! Ayah ingin tenang di sana. Dan aku tahu, bahwa abang pun sedang bertarung untuk menemui kita lagi dalam keadaan hidup. Itu saja aku, mau ke toilet dulu." Ucap Iniki langsung membalikan badan, Imon mengetahui bahwa Iniki pun sedih, terlihat ia menangis dan menutupinya. Ia hanya ingin tidak terlihat lemah.

"Aku akan temani," ucap Imon mengikuti Iniki.

Tak lama berselang, dokter pun keluar dan ia mengucapkan beberapa kalimat ke bunda, ridia dan lainnya.

Terlihat senyum dan wajah sumringah dari bunda dan lainnya.

"Cukup maksimal 2 orang dulu yang bia menemuinya, ia sangat butuh istirahat ekstra karena lambungnya masih dalam proses penyembuhan. Baik itu saja, saya pamit dulu." Ucap dokter bersama suster yang baru keluar dari ruangan.

"Terima kasih dok," ucap bunda dan Ridia. "Aku mau ketemu kakak," pinta Kisya. "Yasudah bunda sama Kisya yang temuin Dinka." Ucap Ridia. "Iya sudah," jawab bunda.

Bunda dan Kisya pun masuk ke dalam, terlihat wajah lemas dan tubuh yang dibalut perban serta selang-selang infusan pun menempel di tubuhnya.

Wajah lemas dengan mata sayu menyambut kedatangan bunda dan Kisya, senyum tipisnya kini terlihat, senyumnya yang dirindukan banyak orang.

"Kamu sehat ya nak," ucap bunda yang sudah berada di samping Dinka. "I-iya bun," jawab Dinka agak susah. Kisya pun tanpa basa basi langsung merebahkan kepalanya di dekat tangan Dinka, dan Dinka paham akan kerinduan dan kecemasan adiknya. Ia mengelus kepala adik terimutnya dengan lembut,

"Dimana Ridia bun?" Tanya Dinka. "Dia di luar sama Aniria, Imon dan satu temannya." Jawab bunda. "Aku mau ketemu Ridia juga bun," ucap Dinka memelas.

"Iya, yaudah Kisya ayo keluar!" Ajak bunda. "Aku masih mau di sini ih," keluh Kisya. "Kisyaaa," panggil bunda panjang. "Iya iya bun, kakak sehat ya! Harus!" Ucap Kisya seperti seorang guru menyuruh muridnya. "Iya, hehe" tawa Dinka.

Bunda dan Kisya pun keluar, tak lama muncul lah seorang perempuan yang sudah tak asing di mata Dinka, begitupun perempuan itu menatap kembali Dinka yang sudah sadar.

"Hemm," senyum Dinka kepada perempuan itu. "I miss you," ucap perempuan itu, perempuan yang memerankan sang air.

...........

Maafkan diriku, updatenya kelamaan. Kesibukan di dunia real membuat diriku sibuk. Maafkan diriku ya

Jangan lupa voment, and read story ya . Jangan hanya mengevote.-,

Terima kasih para pembaca

@the_pooh1301

Air dan MinyakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang