Sabtu, 20 Juni 2015
Hari yang akan menjadi sejarah untuk Dinka. Tepat di hari inilah ia mengakhiri statusnya sebagai seorang mahasiswa.
Dinka, bunda dan Kisya pergi bersama ke tempat wisuda berlangsung yaitu di Balai Sidang Jakarta Convention Center.
Sesampai di sana Kisya sangat terkagum akan suasana yang sangat luar biasa, ada banyak penjual bunga, ada juga yang menjual boneka wisuda dan banyak fotografer yang hampir ada di setiap penjurunya.
Kini bunda dan Kisya memisahkan diri duduk di tempat yang telah disediakan, Dinka yang telah mengenakan jubah pelengkap dan asesoris lain. Dan sekarang ia tengah berjalan menuju kumpulan manusia dengan seragam yang sama dengannya.
Kini Dinka duduk di antara ribuan mahasiswa lainnya, Dinka pun terlihat senang namun ada hal yang mengganjal dirinya.
Terlihat gerak tubuhnya dan kepalanya yang menengok-nengok ke bangku para tamu, bertingkah seakan mencari hal yang sangat penting.
"Kamu dimana?" Pikir Dinka.
Acara pun berlangsung, sambutan-sambutan pun telah di ucapkan. 20 menit namun Dinka yang seharusnya terlihat santai dan senang kini menjadi orang yang sangat gelisah.
Dan, sekarang dimulainya acara pidato perwakilan mahasiswa masing-masing jurusan.
............
"Ah elahhh! Apa apaan sih ini!" Bentak Ridia yang terlihat berdiri di samping mobilnya yang berada di pinggir jalan raya. "Maaf mba, saya gak sengaja." Ucap seorang anak remaja pria memelas meminta maaf kepada Ridia.
"Iya saya tahu kamu salah, dan orang salah itu minta maaf. Tapi selain minta maaf harus tanggung jawab juga dong! Saya udah telat nh jadinya, kamu udah bikin kesalahan yang berlipat tau ga!" Bentak Ridia. "Tapi jangan bentak-bentak juga dong mba!" Ucap remaja wanita yang berdiri di samping remaja pria yang meminta-minta maaf ke Ridia.
"Oke kalau gitu, saya telepon polisi sekarang." Ucap Ridia sembari mengeluarkan handphone dari tasnya. "Gak perlu mba, saya bakal panggil ojek online untuk mengantar mba ke tempat tujuan mba. Dan saya bakal panggil petugas bengkel untuk benerin ban mba yang saya tabrak, biaya bengkel dan ojek saya yang tanggung dan ini KTP, SIM dan ATM saya mba pegang sebagai jaminan. Gimana?" Tanya remaja pria tersebut.
Ridia pun menerima kartu pengenal remaja pria tersebut dan melihatnya, remaja dengan nama Ardi Syahtari dan berumur 18 tahun.
"Oke, saya mencoba percaya. Tapi kalau melanggar, inget kita bakal main hukum!" Ucap Ridia. "Iya mba," jawab remaja pria tersebut.
"Dinka pasti kecewa banget nih, aduh" keluh Ridia dalam pikirannya.
..........
Acara pidato perwakilan dari mahasiswa masing-masing kejuruan pun selesai, kini saatnya acara prosesi dimulai. Begitu acara dibuka secara resmi oleh rektor, nama mahasiswa langsung dipanggil satu persatu sesuai abjad. Mahasiswa perwakilan kejuruan hukum terlebih dahulu dipanggil dan menerima penyerahan ijazah langsung dari bapak rektor.
Selang 15 menit, kini kejuruan IT mendapat giliran. Nama berawalan huruf A dan B pun mulai maju dan akan saatnya awalan huruf C akan maju.
"Aku mohon," harap Dinka.
Kini awalan huruf D mulai dipanggil, 'Dafa Azyaro' , 'Dastur Muzandi' ....... wajah Dinka semakin gelisah, namun dengan jeda sepersekian detik. Ada sebuah pemandangan indah yang membuat wajahnya cerah, semangat da segar kembali. Sang air kini suda tiba dan dengan cepat duduk di tempat duduk yang telah disediakan tepat disamping bunda, bunda pun hanya tersenyum. 'Dimiar Turanko' , nama-nama terus terpanggil. Kini Dinka kembali gagah dengan setelan wisudanya. 'Dina Rosnia' , 'Dinka Saytara'. Nama Dinka pun terpanggil, kini berjalan dan menerima ijazah. Ia pun menoleh kearah Ridia sebelum kembali berjalan dan tersenyum untuk sang air yang telah hadir.
Setelah menerima ijazah dan menuruni tangga panggung acara, benar saja, bunda dan Kisya melambai-lambaikan tangan diantara orangtua mahasiswa yang lain. Namun Dinka bisa dengan jelas melihatnya. Ia tau mereka pasti merasa bangga. Dinka hanya bisa melambaikan balik tangannya pada mereka. Ucapan selamat tertulis melalui sms di HP Dinka yang ia selipkan diantara baju Toga.
"Terima kasih," senyum Dinka sendiri sembari menatap handphonenya dan duduk kembali di kursinya.
Setelah acara bla bla bla dan bla.. akhirnya semua prosesi selesai dijalani. Ucapan selamat bagi orang-orang terdekat melantun dengan sendirinya.
Acara terakhir adalah acara foto-foto bersama keluarga dan teman. Karena Dinka tak ada memiliki teman disana satupun, jadi ia hanya foto-foto dengan bunda, Kisya dan Ridia saja. Jepret sana jepret sini sampai bosan. Dan akhirnya acara berlanjut dengan makan-makan disebuah restaurant.
Dinka memilih restaurant khas Betawi, dan kini Ridia tahu akan sebuah fakta bahwa ayah Dinka ialah orang Betawi. Dan bukan hanya itu, ternyata Dinka telah mengundang papah dan mamah Ridia untuk makan di sana.
Mereka berdua telah duduk di bangku yang sudah dipesan, tak luput di pojok belakang ada tiga orang yang tak asing, terlihat Iniki, Imon dan Aniria duduk sembari melambaikan tangan.
Ridia pun kebingungan, dan kini semua orang di sana menatap bangku Ridia dan Dinka. Sangat tepat karena bunda dan Kisya telah pindah ke tempat orang tua Ridia.
Dinka kini berdiri di hadapan Ridia, dan terlihat Ridia sangat gugup dan kebingungan. Dinka pun memegang kedua tangan Ridia, ia pun langsung tersenyum indah.
Dinka pun melepas halus tangan Ridia, dan ia merogoh sesuatu dari saku. Tangannya pun mendapatkan sesuatu dan ia keluarkan perlahan.
"Maukah kamu menikah denganku?" Ucap Dinka sembari membuka kotak cincin yang ia ambil dari sakunya dan ia ucapkan di depan banyak orang. "Dinka?" Kaget Ridia yang langsung menutup mulutnya yang seakan mau terbuka lebar, tampak sang mata mengeluarkan air bening yang membuat mata menjadi lebih indah.
"Hemm?" Gumam Dinka. "A-Aku mau, aku mau Dinka, aku mau nikah sama kamu." Ucap Ridia sembari menangis bahagia dan memeluk Dinka.
"Ridia? Kamu seneng ya?" Bisik Dinka bertanya. "Aku bahagia sayang," jawab Ridia dengan berbisik.
Ridia pun melepas pelukannya, dan menegaskan. "Aku mau ko nikah sama kamu, Dinka." Jawab Ridia dengan senyum manis nan indah dan membuat semua orang bersorak sorai teriringi tepukan tangan.
Keluarga Ridia dan Dinka pun tersenyum dengan air mata bahagia melihat Dinka dan Ridia berbahagia.
"I love you my water," ucap Dinka di depan wajah Ridia sembari mencubit pipinya. "I love you to my oil," jawab Ridia yang juga ikut mencubit pipi Dinka.
.............
.............
Akhirnya mereka akan menikahhhhhh, yeaaayyyyyyy.
Tapi.....
Apa benar akan menikah? Atau tertunda? Atau pula gagal?.
Jawabannya nanti deh ya hehehe.
Terima kasih para pembaca.
Thank you very much.
Arigatou gozaimasu.
@the_pooh1301
KAMU SEDANG MEMBACA
Air dan Minyak
RomanceHigh rank : 3 - #air [30-07-2018] , 13 - #sliceoflife [31-07-2018], 1 - #minyak [20-03-2019] Semua yang diciptakan itu pasti berpasangan, namun tidak semuanya bisa bersatu. Tapi tuhan itu baik, walau tidak bisa bersatu tapi bisa selalu berdampingan...
