Rabu, 27 September 2012.
Dinka pun menjalankan masa pemulihan, ia sekarang selalu ditemani Ridia, bunda dan Kisya.
Iniki dan lainnya kini menjalankan kegiatan mereka masing-masing seperti semula.
Aniria berangkat ke negara Jerman, ia hendak melanjutkan pendidikannya di sana, mungkin ingin membuat kehidupan baru dengan suasana baru.
Kini Wahdira, papah Ridia. Ia mengetuai perkumpulan pemilik perusahaan yang berkelompok itu.
Seiring waktu Kisya menerima kenyataan atas meninggal ayahnya dan sudah mulai akrab kembali dengan Ridia.
Dinka yang masih dalam masa pemulihan pun kini bisa bersama dengan Ridia, berdua menghabiskan waktu yang ada.
Di pagi hari yang sejuk, kicau burung yang memeriahkan sejuk pagi dan dedaunan yang berterbangan dihembus angin dingin pagi hari.
"Aku mau ke taman," ucap Dinka yang memohon ke Ridia yang duduk di samping kasurnya. "Tapi dingin tau di luar." Jawab Ridia.
"Hemmm," gumam Dinka dengan wajah bad. "Jelek, yaudah ayuk tapi kamu pake kursi roda aja! Aku gamau bopong-bopong ngangkut kamu kalo gakuat nanti," perintah Ridia.
"Iya iya, yaudah ambilin kursi rodanya," ucap Dinka dan Ridia pun mengambil kursi roda untuk Dinka.
Ridia pun membawa Dinka mengelilingi rumah sakit, dan berakhir di taman tengah rumah sakit. Taman rumah sakit sengaja dibuat di bagian tengah rumah sakit, di taman ada pohon besar yang besar dan banyak daunnya. Pohon yang dapat membuat siapapun berteduh di bawahnya kesejukan dan nyaman akan rindangnya dirinya.
Semilir angin sejuk pun membuat Dinka nafsu sarapan, Dinka yang sangat susah untuk makan atau sarapan kini ia yang memintanya. Namun Dinka mengeluarkan sisi manjanya, ia meminta disuapin Ridia.
"Dasar manja," ucap Ridia sembari menyuapi makanan ke mulut Dinka. "Kalo gamau dan ngeluh mulu kasih yang lain aja buat nyuapin aku," ucap Dinka sembari memanyunkan bibirnya.
"Dasar ambekan," ucap Ridia sembari menyuap paksa bubur ke mulut Dinka yang masih penuh. "Ishh, kamhhu mmhhaaahh." Ucap Dinka kesulitan bicara.
"Hemm?" Gumam Ridia mengancam Dinka dengan sendok siap bersedia meluncur ke mulut Dinka dengan bubur di atasnya. Dinka pun menunjukan dua jari berbentuk v simbol peace, menandakan perdamaian.
Glekk, "piss," ucap Dinka setelah menelan habis buburnya. "Iya sayang." Ucap Ridia dan ucapannya membuat Dinka kaget terdiam, Ridia pun tanpa sadar. Ia pun menutup mulutnya saat sadar bahwa mengucapkan kata 'sayang'.
"Ridia?" Panggil Dinka. "Jangan lihat aku! Aku malu aahh," ucap Ridia memalingkan wajahnya dan menutup mata Dinka dengan tangan kirinya.
"Aku masih bisa ngomong loh, wlee," ledek Dinka. "Dinka iihhhh!" Geram Ridia menahan malu.
Plap! Dinka pun memegang lembut tangan Ridia yang berada di matanya dengan tangan kanannya yang ditempelkan selang infusan, menurunkan pelan tangan Ridia namun tetap memejamkan matanya. Tangan kiri Dinka pun meraih tangan kanan Ridia yang berada di pangkuan Ridia.
"Dinka?" Tanya Ridia penuh heran, dan Dinka pun perlahan membuka matanya.
"Umurku kini sudah 21 tahun dan kamu 18 tahun, kuliahku tinggal 4 semester lagi mungkin karena kejadian-kejadian sebelumnya aku harus mengulang 2 semester, jadi aku harus menyelesaikan 6 semester untuk lulus kuliah. Umurku saat itu pasti sudah 24 tahun, dan saat itu juga aku akan melamarmu. Mau kan kamu nunggu 3 tahun lagi?" Tanya Dinka yang memegang lembut kedua tangan Ridia dengan tatapan serius.
"Aku gamau nunggu kamu lamar aku," jawab Ridia yang membuat Dinka tersentak. "Aku mau nunggu kamu nikahin aku," lanjut Ridia dengan senyum manis yang terpancar dari bibir indahnya. "Aku suka senyummu, baiklah kalau gitu. Aku mau sehat dan selesaiin kuliah terus dapetin pekerjaan yang lebih layak terus nikahin kamu." Ucap Dinka penuh semangat. Air mata Ridia pun menetes jatuh, air mata bahagia dengan hiasan senyum indah terus terpancar. "Yaudah sekarang makan lagi! Aahhmm," ucap Ridia menyuapi paksa Dinka dengan bubur.
"Egghhmm kkaamhu iish," geram Dinka. "Hehe," tawa Ridia. Dinka pun menelan habis buburnya, Ridia yang hendak menyuapi lagi kini tangannya dihentikan oleh Dinka.
"I love you Ridia Harumi." Ucap Dinka dengan wajah yang sangat tulus sekali. "Heeemm, i love you too Dinka Saytara." Jawab Ridia dengan air mata bahagia jatuh di ujung matanya.
............
"I love you"
...........
Akhirnya setelah sekian lama bisa update lagi, maaf ya kalau lama.
Terus baca kisah Dinka dan Ridia ya, mohon dukungannya oke.
Terima kasih
Arigatou gozaimasu
Thank you very much
@the_pooh1301
**
KAMU SEDANG MEMBACA
Air dan Minyak
RomanceHigh rank : 3 - #air [30-07-2018] , 13 - #sliceoflife [31-07-2018], 1 - #minyak [20-03-2019] Semua yang diciptakan itu pasti berpasangan, namun tidak semuanya bisa bersatu. Tapi tuhan itu baik, walau tidak bisa bersatu tapi bisa selalu berdampingan...
