Chapter 3 : Pertemuan dengan orang tuanya.

78 19 20
                                        

30 Desember, 2009. Hari dimana Dinka harus mempersiapkan banyak hal, hari dimana ia akan bertemu dengan orang yang sama penting dan istimewa seperti papah Ridia.

Di petang senja yang sangat indah, memantulkan cahaya jingga langit kepenjuru tempat tak terkecuali rumah-rumah di pedesaan yang berukuran besar seperti rumah sang kaya raya dan bahkan rumah-rumah kecil rakyat biasa. Senja yang membuat Dinka lupa satu hal.

"Besok sudah tanggal 31, hufft." Hela Dinka yang duduk di bangku balkon teras berhadapan langsung dengan langit senja.

"Kakak?" Tanya Kisya yang muncul dari dalam.

"Hemm?" Gumam Dinka menyahut.

"Siapa kau!" Teriak Kisya menunjuk Dinka.

"Heh?" Bingung Dinka.

"Kalau kakakku, jika aku panggil dia pasti akan membalas seperti ini 'ada apa adikku tercantik dan terimut sedunia?' Bukan hanya hemm seperti orang yang baru hidup kembali dari liang kubur." Ucap Kisya panjang lebar dan membuat Dinka tak terlalu peduli namun berhasil membuat Dinka berdiri dari ke malasannya yang sudah nyaman dengan suasananya.

Ptakk! Suara jitakan kecil dikepala Kisya.

"Iya ada apa adikku tercantik dan terimut sedunia?" Ucap Dinka sembari senyum jahat.

"Bunda! Kakak jahat!" Teriak Kisya.

"Dinka!" Teriak bunda dari dalam.

"Hehehe." Tawa jahat Kisya.

"Bocah kecil." Ucap Dinka sembari menoleh kearah lain.

"Aku udah gede kakak!" Teriak Kisya tidak terima ucapan kakaknya.

"Ada apa?" Tanya Dinka kembali ke topik.

"Aku mau jajanan tahun baru yang spesial." Ucap Kisya.

"Korban iklan tv." Keluh Dinka.

"Kakak ihh!" Gerutu Kisya.

"Nanti tanggal 1 Januari berarti ya?" Tanya Dinka.

"Iya ka, di dekat pasar bakal ada bazar besar awal tahun." Girang Kisya.

"Itu lanjutan dari bazar akhir tahun kan?" Gumam Dinka.

"Humm kak?" Rayu Kisya.

"Kita pergi kesana tanggal 1." Ucap Dinka.

"Siap captain." Hormat Dinka.

"Kakak mau mandi dulu." Ucap Dinka hendak masuk kedalam.

"Kakak ga kerumah kak Ridia?" Tanya Kisya.

"Kenapa?" Tanya Dinka balik.

"Bukannya kakak harus izin ke orang tua kak Ridia kalau ingin ngajak main kak Ridia di malam tahun baru?" Ucap Kisya.

"Kenapa kakak gakepikiran ya?" Bingung Dinka.

"Kakak masih kaya anak kecil pikirannya dan aku sudah besar hahahaha." Tawa Kisya.

"Terserah kau lah anak kecil." Ucap Dinka langsung berlari masuk kedalam.

"Kakak!" Teriak Kisya kesal.

"Ku tahu, bahwa hal indah seperti senja pun dapat membuat orang terhipnotis. Bukan hanya hal buruk yang dapat membuat orang lupa dan terlena tetapi hal yang indah pun sama. yahh, diriku paham bahwa semua hal itu memiliki pasangan. Seperti buruk dan baik"

Senja yang membuat Dinka lupa akan sebuah hal, dan dia harus melakukan hal itu karena sebuah ingatan datang di senja itu pula. Hal dimana ia harus menemui kedua orang tua Ridia yang belum pernah sama sekali ia temui sebelumnya terkecuali papahnya kemarin di pos ronda.

Air dan MinyakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang