Chapter 20 : Aku Cinta Kamu

66 11 7
                                        

Rabu, 20 September 2012.

11 hari setelah kepergian ayah Dinka, kini Dinka, bunda, Kisya, Aniria telah pulang ke rumah di Jakarta.

Iniki kini bekerja sama dengan Imon, asal kalian tahu mereka berdua adalah programmer 2 perusahaan di Jepang dan Iniki pernah menang akan mengcrack sistem yang dijaga oleh Imon dan membuat Imon di turunkan jabatan oleh perusahaan,

Tak selang dari meninggalnya ayah, 4 hari kemudian pak Shienarto pun meninggal dan itu membuat Aniria bersedih sedalam-dalamnya.

Ada pembunuh di dalam kejadian ini, dan Iniki berkata bahwa ia sedikit lagi akan menemukan siapa pembunuhnya.

Imon orang yang cukup terkenal di wilayah Tokyo, ia pun dapat bantuan dari detektif-detektif handal disana. Iniki yang di temani Tomira terus berusaha menyelidiki semuanya dan Iniki mengerahkan pasukan gengnya untuk berjaga disetiap sisi kota.

Ridia kini tinggal sendiri di rumahnya di kota Jakarta, ia sudah tidak tahu ingin melakukan apa. Ia sempat berkata bahwa ia tahu siapa pembunuh ayah Dinka, tapi itu tanpa barang bukti dan bisa menjerumuskan ia ke penjara, karena itu Dinka menyuruhnya untuk diam saja.

Sebuah kesimpulan tercipta antara selidik Imon dan Iniki, mereka menemukan beberapa petunjuk yang mengarah ke beberapa orang.

Di lain sisi di Jakarta, Dinka hendak bertemu dengan Ridia di taman kota.

..........

Tokyo, Jepang.

"Apa kau yakin?," tanya Iniki ke Imon yang memegang pistol di tangannya. "Sangat yakin," jawab Imon.

"Aku tak pernah berpikir akan bekerja sama denganmu," ucap Iniki yang hendak membuka pintu yang akan mereka labrak.

Imon dan Iniki di bantu oleh agen rahasia dan anggota-anggota geng Iniki, kini mereka telah menemukan satu orang tersangka.

Buaghh! Pintu tersebut ternyata terkunci dan terpaksa mereka mendobraknya.

"Kalian siap melihat ia mati?," tanya perempuan yang tak asing di mata Imon, dan terlihat ia menodong pistol di kepala seorang perempuan yang tak asing juga.

"Hentikan ia!," ucap parau seorang pria terbaring di pojok ruangan dengan luka di perutnya.

"Pak Wahdira?," kaget Imon melihat papah Ridia tersungkur di pojok ruangan dengan luka di tubuhnya.

"Lepaskan Tomira!," teriak Iniki menodongkan pisau ke arah perempuan yang menodong pistol ke perempuan yang ternyata ia adalah Tomira.

"Irayani?, apa ini kau?, aku sungguh tak percaya bahwa ini kau?," ucap Imon agak gugup sembari menodongkan pistol kearah perempuan yang menodong pistol ke Tomira yang tak lain ialah Irayani Mika.

Jrabbs! Terlihat Wahdira menusuk kaki Irayani dengan pecahan botol dan seketika Irayani berontak kesakitan, Tomira memanfaatkan kesempatan dan langsung melepaskan diri dengan cepat pula Imon menyergap Irayani, namun Irayani memanfaatkan kesempatan dengan baik, ia sempat menembak sebuah peluru asal dan itu tepat mengenai bahu Tomira, Tomira pun terpental dan Iniki dengan sigap menangkapnya.

Imon dengan segera memborgol Irayani, dan seluruh agen pun membantu Imon, agen medis pun lansung bertindak mengobati Wahdira dan Tomira.

"Kalian seharusnya cepat keluar!, kalian tidak tahu bahwa seseorang akan membunuh lagi!," teriak Irayani dan langsung dibawa oleh agen-agen ke bawah menuju mobil.

"Ridia sendiri di Jakarta?," ucap Wahdira bingung. "Ada apa?," tanya Imon. "Ridia dalam bahaya!," ucap Wahdira. "Pria bernama Bastoro lah dalang dari semuanya!," ucap Tomira yang mengagetkan seluruh isi ruangan.

Air dan MinyakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang