Chapter 18 : Taman Bermain.

33 10 6
                                        

Sabtu, 8 September 2012.

"Dinka? Dinka?, ayo dong bangun!," ucap Aniria yang menggoyang-goyangkan tubuh Dinka yang ia tutupi selimut tebal.

"Pergi sana!, aku tak butuh siapapun," ucap Dinka. "Kasian badan kamunya ini ish!, makan napa!, susu yang aku buatin juga ga diminum sama sekali." Keluh Aniria menatap 1 gelas susu penuh dan piring berisikan nasil lengkap dengan lauk.

"Aku sudah minum," ucap Dinka dengan tetap menutup dirinya. "Kau cuma minum air bening!," bentak Aniria, namun Dinka tetap tak memperdulikannya.

"Dia memang begitu kak Ani, dan dia sudah mengingkari janjinya padaku." Ucap Kisya yang berdiri di pintu kamar.

"Seharusnya kau tidak usah menjadi abang tertua di keluarga ini!," ucap seseorang dari belakang Kisya, suara laki-laki yang mengagetkan Dinka, Aniria, dan Kisya.

"Aku pulang," ucapnya. "Abang?," tanya Kisya. "Hahaha, cuma kamu yang manggil aku abang." Ucap orang tersebut mengacak-acak rambut Kisya.

Dinka pun langsung terbangun dan membuka selimut yang menyelimuti dirinya.

"Bagaimana kau tahu rumah ini?," tanya Dinka. "Bukankah seharusnya kau menyambutku dahulu, abang?," tanya pria tersebut.

"Aku bingung," keluh Aniria. "Ini bang Iniki, dia anak kedua di keluarga kami," jelas Kisya.

"Salam kenal," ucap pria tersebut yang ternyata Iniki. "Ouhm, iya salam kenal." Jawab Aniria.

Iniki pun berjalan mendekati Dinka, dan seketika pun Aniria dengan spontan beranjak dari kasur Dinka.

"Kau sedikit mengecewakanku, bang." Ucap Iniki yang sudah berada di dekat Dinka.

Buagh! Suara pukulan cukup keras terdengar.

Iniki memukul telak pipi Dinka, dan itu membuat Dinka tersungkur dan mengeluarkan darah.

"Abang?!" Terika Kisya, "hey, lebih baik kau keluar!," perintah Aniria yang memegang pundak Iniki.

"Sebaiknya kau yang keluar, dan aku hanya memberi tahu kalau dia sangat tidak pantas jadi kakak tertua," ucap Iniki.

"Dasar lemah. Kalau kau tahu, pria yang bersama Ridia itu bernama Imon, dan dia adalah sainganku di Jepang." Ucap Iniki yang membuat Dinka terhenyak.

"Aku akan memikirkannya, lebih baik kau ajak Kisya main keluar sana!, aku tak ingin dia memandang buruk dirimu saat baru bertemu setelah sekian lama." Ucap Dinka yang sudah sangat paham apa maksud dari adiknya.

"Yah, tanpa kau suruh pun aku ingin bersenang-senang dengan adik tercinta dan terimut di dunia," ucap Iniki yang beranjak dari kasur. "Ayo Kisya!, kakak lemahmu ingin mengumpulkan kekuatan dulu katanya," sinis Iniki menyindir sembari tersenyum ke Kisya.

"Iya bang, ayo." Jawab Kisya.

Iniki dan Kisya pun pergi keluar, Aniria yang masih ada di kamar pun mendekati Dinka lagi. Ia pun duduk di samping Dinka dan memeluknya,

"Kamu kuat," bisik Aniria. "Hug me!," bisik Dinka.

Aniria pun memeluk Dinka erat, ia tahu Dinka sangat membutuhkan seseorang yang peduli dengannya saat ini.

Banyak orang yang peduli dengannya, cara mereka peduli pun berbeda-beda. Kisya, Iniki dan Aniria adalah orang yang sangat peduli terhadap Dinka.

"Ayo keluar, ikut Kisya." Ucap Dinka yang mengagetkan Aniria. "Humm, ayo." Jawab Aniria melepas pelukannya terhadap Dinka.

.......

Mereka pun pergi ikut dengan Iniki dan Kisya, mereka berniat ke taman bermain terkenal di Jakarta.

Iniki yang mengendarai mobil menjadi sangat di kagumi oleh Kisya, dan Iniki selalu menyombongkan diri dan menyindir Dinka. Seperti itulah candaan keluarga.

Mereka pun sampai, Iniki pun membeli tiket untuk 4 orang dan masuk ke tempat taman bermain penuh dengan wahana-wahana ekstrem.

"Bang?, Kisya mau naik Roller Coaster ," ucap Kisya menarik baju Iniki. "Iya ayo, hemm kalian berdua jika mau nyusul saja ya," ucap Iniki yang terseret oleh adiknya.

Dinka dan Aniria pun duduk di bangku taman, mereka pun sesekali berbicara. Membicarakan apapun yang ada.

"Naik sesuatu yuk?," ajak Aniria. "Naik apa?," jawab Dinka dengan pertanyaan balik. "Kamu gaada keinginan naik sesuatu?," tanya Aniria lagi. "Bianglala," jawab Dinka singkat.

"Yaudah ayuk!," ucap Aniria beranjak dan langsung menarik lengan baju Dinka. "Ehh iya, iya tunggu!," ucap Dinka sedikit kaget.

Dinka dan Aniria pun mengantre akan menaiko bianglala, tak lama. Giliran mereka pun tiba, dimana bergantian dengan yang baru turun dari 1 ruang bianglala.

Dinka yang menunggu penghuni bianglala yang akan ia taiki keluar seakan agak kesal karena mereka lama sekali, terlihat 2 orang keluar dan mereka pun turun lalu berjalan kearah Dinka dan Aniria. Mereka pun berpapasan, 2 orang yang membuat Dinka tercekat.

Ridia dan pria yang bersamanya di restaurant, kini mereka bertatapan karena Ridia menghentikan langkahnya. Ridia tak kalah kaget karena melihat Dinka bersama perempuan lain, sebuah pikiran Secepat itukah ia menggantikanku?, terlintas di benak Ridia.

Tidak jauh dari mereka,

"Sepertinya bakal ada perang ke-3 dek," ucap Iniki yang berjalan menggandeng Kisya. "Perang apa bang?," tanya Kisya agak polos.

"Aku akan masuk ke dalam sana, hehe," ucap Iniki pelan sembari berjalan menghampiri Dinka.

"Maaf," ucap Ridia singkat dan akan meninggalkan Dinka, Ridia pun menarik lengan baju pria disampingnya. Namun Dinka dengan cepat menarik lengan baju Ridia.

"Tunggu," ucap Dinka. Ridia pun berhenti tanpa menoleh, "Bisa kau lepaskan?," ucap pria disamping Ridia.

"Hay, apa kabar? Imon?," ucap Iniki yang baru tiba dengan wajah meledek. "Kau?," geram pria yang bersama Ridia, yaitu Imon.

"Sungguh tak sopan, yasudah apa ada sebuah kejadian disini?," tanya Iniki lagi dengan nada menyinggungg.

"Ayo pergi," ucap Ridia pelan ke Imon. "Aku pergi dulu, pria urakan." Ucap Imon terhadap Iniki.

Ridia dan Imon pun hendak beranjak. "Menjadi aib perusahaan itu sangat memalukan bukan?, hingga kembali ke tanah Indonesia yang kucinta ini." Ucap Iniki.

"Apa maksudmu?," tanya Imon menghentikan langkahnya. "Imon?!," ucap Ridia.

"Kalian camkan!, tak akan kubiarkan siapapun bahagia jika sudah membuat keluargaku sedih dan tersakiti!, sebuah negara pun akan kulawan loh," ucap Iniki dengan nada menyindir. Imon pun tanpa menoleh berkata.

"Kini kutahu siapa kau," ucap Imon. "Dan kau Ridia!, kau telah menyakiti abangku bukan?, yahh sudah kau pasti tahu ucapan ku selanjutnya." Sindir Iniki.

"Jangan macam-macam kau ya!!," bentak Imon yang langsung berbalik dan menarik kerah Iniki serta mendorongnya hingga ke pagar pembatas antrean.

Seketika pandangan semua orang telah tertuju kepada mereka.

"Selamat untukmu," seringai Iniki di depan wajah Imon.

..............

"Seburuk apapun diriku, tak akan kubiarkan siapapun menyakiti keluargaku. Karena merekalah yang kucintai, karena hanya mereka yang tidak menganggapku manusia buruk.."

...........

Terima kasih para pembaca yang sudah setia membaca hingga kini,

Jangan lupa tinggalkan jejak ya, vomentya lohhh,

Bantu diriku dengan memberi jejak ya, supaya semangat juga untuk melanjutkan cerita ini.
Diriku butuh kalian

Terima kasih para pembaca setia

@the_pooh1301

Air dan MinyakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang