Sabtu, 3 Januari 2010.
Terlihat seorang remaja perempuan duduk dibangku belakang mobil,
"Kamu harus jadi kebanggaan papah ya." Ucap papah Ridia yang duduk di bangku supir.
"Pah?" Tanya ibu Ridia.
"Tenang mah!" Ucap papah Ridia.
"Aku gak apa-apa mah." Ucap Ridia pelan.
"Kamu berangkat duluan, dan disana ada anak teman papah yang bakal jemput kamu. Papah dan mamah bakal menyusul hari kamis nanti." Ucap papah Ridia tetap dengan tatapan mengendarai mobilnya.
"Iya pah." Jawab Ridia.
Terlihat wajah Ridia dengan raut wajah sedih, matanya yang sembab sehabis menangis.
"Aku dan kamu bisa bersama walau kita tak bersatu." Kalimat yang selalu teriang-iang di benak Ridia.
........
(Kembali ke masa sekarang..)
........
"Kenapa?" Tanya Dinka yang belum beranjak sama sekali.
"Kakak!" Teriak Kisya dari luar yang hendak masuk lagi ke kamar kakaknya.
"Berisik." Lirih Dinka.
Kisya pun masuk lagi ke kamar kakaknya dan ia akan melakukan sesuatu.
"Bangun!" Bentak Kisya.
"Berisik." Ucap Dinka.
"Bangun!" Bentak Kisya.
Dinka pun membangunkan tubuhnya.
"Berisik! Pergi sana!" Bentak Dinka.
Plakk! Sebuah tamparan terdengar.
"Kau bukan kakakku!" Ucap Kisya sinis dan langsung meninggalkan Dinka sendiri lagi.
Pipi Dinka terlihat merah karena tamparan adiknya, namun itu hanya sesaat dan tidak begitu sakit yang ia rasakan di pipinya. Namun hatinya pun merasakan sakit lebih parah karena telah membentak adiknya.
"Kisya?" Lirih Dinka memegang pipinya yang terkena tamparan telak adiknya.
Dinka pun tersadar dan langsung beranjak dan berlari keluar kamarnya.
Terlihat bunda yang berdiri diruang keluarga, dan Kisya yang masuk ke kamarnya dengan membanting pintu kamarnya.
"Bun?" Tanya Dinka.
"Kamu kuat sayang." Ucap bunda memegang pipi Dinka.
"Hemmz." Gumam Dinka dan terlihat sebuah mata yang membendung air yang ditahan agar tak tumpah.
"Sebaiknya kamu selesaikan dan perbaiki kesalahanmu dulu yang barusan ya." Ucap bunda lembut mengelus pipi anaknya.
"Iya bun." Ucap Dinka.
Dinka pun berjalan pelan, tenang ke arah kamar Kisya.
Tokk! Tokk! Suara pintu kamar Kisya yang diketuk oleh kakaknya.
"Aku masuk." Ucap Dinka yang tak menghiraukan Kisya yang tidak menjawab langsung membukanya.
"Aku tak mengizinkan!" Teriak Kisya yang menutupi wajahnya dengan bantal dengan posisi duduk bersandarkan bantal diatas lututnya.
"Maafkan aku." Ucap Dinka.
".....hks.... hks...hks." Kisya tak menghiraukan kakaknya yang berdiri mengucap maaf di dekat kasurnya.
Dinka pun duduk di pinggir kasur dan mulai mendekati adiknya.
"Untuk apa kau kemari?! Untuk apa kau meminta maaf!" Bentak Kisya dengan wajah masih menghadap bantal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Air dan Minyak
Roman d'amourHigh rank : 3 - #air [30-07-2018] , 13 - #sliceoflife [31-07-2018], 1 - #minyak [20-03-2019] Semua yang diciptakan itu pasti berpasangan, namun tidak semuanya bisa bersatu. Tapi tuhan itu baik, walau tidak bisa bersatu tapi bisa selalu berdampingan...
