Chapter 4 : Pertanyaan.

68 19 31
                                        

"Terima kasih tan." Ucap Dinka ke ibu Ridia.

"Gausah sungkan! Sering-sering lah bermain kemari!" Ucap ibu Ridia, namun sebuah ekspresi aneh keluar dari wajah Ridia dan papahnya.

"Bila kamu ada waktu." Sambung ibu Ridia.

Dinka pun keheranan,

"Iya tan." Ucap Dinka sembari memikirkan sebuah hal.

"Memangnya kalian nanti malam mau merayakan malam tahun baru dimana?" Tanya papah Ridia.

"Di pinggir danau pak." Jawab Dinka sopan.

"Ekspresi dan tingkah laku dapat mencerminkan banyak hal. Bahkan hanya dengan melihat ekspresi mereka, aku tahu bahwa ada hal yang sangat mengganjal." Pikir Dinka sembari memasukan nasi kemulutnya.

.......

Bagi Dinka bertemu dengan kedua orang tua perempuan yang dekat dengannya bukanlah hal biasa, iya harus bisa memberikan sebuah kesan kepercayaan kepadanya karena yang Dinka tahu, bahwa orang tua perempuan tidak akan segan dan tidak akan main-main dalam mempercayakan anak perempuannya kepada seorang pria walau hanya berteman. Dinka yang memiliki hubungan pertemanan dengan Ridia, dan diketahui bahwa Dinka adalah teman pria satu-satunya Ridia, itu meyakinkan bahwa tak sembarang pria bisa dekat dengan Ridia, walau hanya sebatas teman.

"Kamu kelas 3 SMK ya?" Tanya ibu Ridia ke Dinka.

"Iya tan," jawab Dinka menjawab dengan santun.

"Kamu mengambil jurusan apa?" Tanya papah Ridia.

"Humm, Rekayasa Perangkat Lunak pak." Jawab Dinka.

"Jurusan tentang apa itu?" Tanya ibu Ridia.

"Program komputer tan." Jawab Dinka.

"Oalah, begitu ya." Respon ibu Ridia.

"Iya tan, yah semoga saja itu jurusan yang sesuai dengan saya." Senyum Dinka.

"Toh, kamu sudah kelas 3 yah pasti itu cocok denganmu lah." Jawab papah Ridia.

"Salah kata aku." Pikir Dinka.

"Humm, maksud saya semoga cocok dengan diri saya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan untuk bekerja pak." Ucap Dinka.

"Oiya, saya paham. Jurusan di SMK itu mempelajari hal dasarnya ya." Ujar papah Ridia.

"Kamu memang mau melanjutkan kuliah dimana nak Dinka?" Tanya ibu Ridia.

"Saya belum tahu bu, tapi keinginan saya ingin melanjutkan kerja sembari kuliah di universitas di kota bu." Jawab Dinka.

"Menandakan kau belum jelas masa depanmu." Ucap papah Ridia membuat Dinka sedikit kaget begitupun Ridia.

"Saya ingin bekerja terlebih dahulu pak, dan saya akan kuliah saat sudah memiliki uang untuk biaya kuliah itu." Ucap Dinka.

"Bukankah terlalu beresiko?" Tanya ibu Ridia.

"Keluarga saya, keluarga yang sederhana dan tidak terlalu mampu tan." Senyum Dinka.

"Kita juga bukan keluarga kaya raya, tetapi Ridia akan meneruskan pendidikan hingga perguruan tinggi." Ucap papah Ridia.

"Iya pak saya tahu ko, tetapi saya minta maaf jika bapak dan tante tersinggung. Saya memiliki alasan akan semua hal itu dan semua sudah saya pikirkan." Ucap Dinka.

"Yang terpenting isinya atau ilmunya bukan tempatnya." Celetuk Ridia yang menunduk menatap piringnya yang telah kosong.

"Tetapi sebuah tempat itu dapat menentukan tingkatan ilmunya." Ucap papah Ridia.

Air dan MinyakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang