PB 13

67.3K 2.5K 32
                                        

Cidnya terbangun saat matahari belum muncul, 3 subuh Cindya dibangunkan Devon.

"Kita mesti sekolah" Ucap Devon sambil bangkit dari tidurnya.

"Perushaan papa bangkrut dan mama juga jadi gak mungkin aku sekolah" Ucap Cindya dengan pasrah.

"Gak, kamu harus sekolah, biar aku aja yang urus hidup kamu" Ucap Devon dengan tegas membuat Cindya tertawa.

"Iya deh" Ucap Cindya dengan pasrah.

Devon belum bisa memberitahu segala kepada Cindya, karna ia tidak mau Cindya makin kesusahan karena dirinya.

Mereka menaiki bis yang akan berjalur ke dalam kota.

"Lo seneng amat naik bis" Ucap Devon sambil melihat Cindya yang duduk disebelah jendela dengan wajah tersenyum.

"Impian gue hidup sederhana akhirnya bisa tercapai" Ucap Cindya dengan bangga.

"Enakan naik mobil kali" Ucap Devon yang mulai gerah.

"Kenapa lo gak bawa mobil lo?" Tanya Cindya yang baru sadar akan mobil kesayangan Devon.

"Gue balikan ke bokap" Ucap Devon dengan santai.

Cindya hanya menganggukkan kepala dan menatap keluar jendela.

"Gue bukan orang kaya lagi, jadi lo jangan morotin gue" Ucap Devon dengan serius membuat Cindya menatapnya pun ikut serius.

"Gak, gue bohong" Ucap Devon sambil tersenyum.

Cindya menatap Devon dengan aneh, dari kemarin tingkah laku Devon benar-benar aneh.

Cindya mengacuhkannya dan melanjutkan menikmati angin masuk lewat jendela.

Saat pulang sekolah Novia mencari Devon kesana -kemari.

"Dev!" Teriak Novia dengan marah.

Devon dan Cindya ikut terkejut melihat Novia yang datang dengan marah-marah.

"Kenapa lo nyiksa diri lo sendiri?" Tanya Novia yang langsung membuat Cindya mengerutkan alisnya.

"Kita bicara ditempat lain" Ucap Devon sambil menarik tangan Novia pergi menjauh dari Cindya.

Sesampainya ditempat yang cukup sepi Devon membuka suara.

"Diam! Kalau lo tahu sesuatu" ucap Devon dengan tatapan tajam.

"Lo gila tahu? Lo yakin bisa hidupi 2 orang sekaligus dengan status lo yang masih pelajar kayak gini?" Tanya Novia dengan marah.

"Yakin bisa Nov!" Ucap Drvon dengan serius.

"Papa bilang lo nolak gue dan lebih memeilih Cindya" Ucap Novia yang kecewa dan langsung dianggukkan Devon.

"Gue anggap lo kayak adik gue sendiri" Ucap Devon dengan lembut sambil mengelus rambut Novia.

Novia menatap Devon dengan mata berkaca-kaca.

"Gue harap lo gak nangis, jangan beritahu apa pun kepada Cindya" Ucap Devon dengan senyum dan pergi meninggalkan Novia yang menangis akibat tolakan Devon.

Sudah bertahun-tahun Novia menyukai Devon tapi ia tidak dianggap lebih dari sahabat.

Devon kembali ketempat dimana ia meninggalkan Cindya. Devon melihat Cindya sedang duduk dikursi sambil menatap sepatunya.

"Cin, kita pulang" Ucap Devon dengan ramah membuat Cindya menatapnya dan memberi senyum.

Mereka menaiki bis hanya setengah perjalanan saja, Cindya memintanya karena ia ingin berjalan kaki menikmati jalan bersama Devon.

Pasangan Debat {COMPLETED}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang