S

3.6K 501 402
                                        

Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, bukan ?

❌ ❌ ❌ ❌

"Kau yakin dengan ini ?"

"Ini bukan ide buruk, ikuti saja."

"Tapi.."

"Kau tak percaya padaku ? Aish !"

"Yak ! Kenapa kau jadi sensitif sekali sih aku kan cuma bertanya."

"Kau mau membantu tidak ? Cerewet sekali !"

"Baiklah.. baiklah, tapi aku tak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu."

"Yak pabo ! Kau pikir apa yang akan kulakukan !"

Daehwi mencebik pada Guanlin yang sedari tadi mengoceh dibelakangnya. Setelah selesai dengan urusannya Daehwi pun berbalik pada Guanlin sambil berkacak pinggang.

"Dengar, jangan mengacau !" Tunjuknya galak.

"Tapi Hwi, nanti Jihoon hyung akan.."

"Guanlin !" Geram Daehwi.

Guanlin pun menghela nafasnya pasrah. Sambil mengangguk setuju. Setelah itu si pria tinggi di seret oleh yang lebih kecil meninggalkan dapur.

Sesampainya di ruang tengah, saat Daehwi akan merebahkan tubuhnya si mungil itu tersentak karena Guanlin menarik balik tangannya hingga ke kamar Guanlin.

Dikamar, Guanlin langsung melepaskan tangan Daehwi dan berkacak pinggang.

"Sekarang kau yang dengarkan aku dan jujur akan pertanyaanku."

Daehwi menaikkan satu alisnya sembari menunggu Guanlin lanjut berbicara.

"Diantara Woojin hyung, Jinyoung hyung dan... Aku. Siapa yang akan kau pilih ?" Tanya Guanlin sedikit ragu saat menyebut dirinya sendiri sebagai kandidat.

Mendengar pertanyaan Guanlin, Daehwi tak langsung menjawab. Ia malah berjalan kearah kasur Guanlin dan mendudukkan dirinya disana sembari menarik bantal keatas pangkuannya. Menatap Guanlin lekat.

"Tidak ada." Jawab Daehwi seakan tak perlu dipikirkan lagi.

Alis Guanlin terangkat satu. "Alasannya ?"

Sebelum menjawab, Daehwi menghela nafas terlebih dahulu.

"Pertama, Woojin hyung.. aku telah menolaknya asal kau tau. Kedua kau, kau tau sendiri perasaanku sebenarnya pada siapa."

"Lalu Jinyoung hyung ? Bukankah dia berjanji akan segera datang padamu."

Daehwi mendecih pelan dengan sebelah bibir yang terangkat seperti tengah menyeringai.

"Aku tak akan terjebak lagi oleh kata-kata dari mulut manisnya itu."

Guanlin masih menunggu Daehwi melanjutkan ucapannya.

"Dia mengatakan hal itu tidak dari hatinya. Dia hanya kesal karena aku membuat Jihoon hyung cemburu kemarin. Hati seseorang tak akan berubah secepat itu Linlin-ie. Apalagi yang kutau Jinyoung hyung amat sangat mencintai Jihoon hyung." Daehwi menghela nafasnya yang terasa menggumpal di dalam paru-paru.

Rumit | Maknae Line [END] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang