Yang tersulit adalah membuat keputusan namun tak menyakiti hati yang lain..
❌ ❌ ❌ ❌
"Woojinie.."
"Hmm.."
Pria gingsul itu memeluk erat Jihoon sambil menyeludupkan wajahnya diceruk leher Jihoon.
Mereka sudah terbangun sejak tadi, lebih tepatnya Woojin yang bangun lebih dulu pindah ke tempat tidur milik Jihoon lalu memeluk kekasihnya itu erat membuat tidur Jihoon terusik. Dan setelah Jihoon bangun, giliran Woojin yang menutup matanya lagi.
"Jangan tidur ! Dengarkan akuu.." Rengeknya karena Woojin sekarang memeluknya seperti guling.
"Bicara saja, telingaku masih berfungsi." Gumam Woojin membuat leher Jihoon terasa hangat karena di terpa nafas Woojin.
Bibir Jihoon mengkerucut karena Woojin tak menatapnya, namun ia tetap melanjutkan pembicaraannya.
"Semalam aku mendengar percakapan Jinyoung dengan Guanlin." Cerita Jihoon, tangan nya gemas memainkan rambut Woojin yang terasa kaku.
"Apa yang mereka bicarakan ?" Woojin menanggapi.
"Guanlin meminta Jinyoung melepaskan Daehwi. Aku bisa mendengar Guanlin tampak begitu frustasi dan tak ingin kehilangan Daehwi, tapi entah kenapa aku menangkap perasaan Guanlin sebagai sebuah obsesi. Ia terobsesi pada Daehwi, dan aku takut itu menyakiti hati mereka berdua."
"Lalu Jinyoung menjawab apa ?"
Jihoon terdiam sebentar, ia benar-benar terkejut mendengar jawaban Jinyoung yang begitu bijak. Padahal beberapa waktu yang lalu Jinyoung sempat memaksanya untuk membalas perasaannya.
"Dia menjawab dengan sangat dewasa." Lirih Jihoon.
"Mereka harus membuat keputusan.. hanya saja, keputusan apapun pasti tetap akan ada pihak yang tersakiti." Jihoon mendesah frustasi.
"Kita harus membantu mereka.. Yak ! Jauhkan wajahmu dari leherku !" Jihoon menjambak rambut belakang Woojin membuat kepala itu menjauh dari lehernya yang sedari tadi di beri kecupan-kecupan ringan yang membuat Jihoon geli.
Woojin hanya terkekeh sambil mengusap kepala belakangnya yang terasa perih, lalu mencuri sebuah kecupan di bibir Jihoon membuat pipi Jihoon memerah.
"Membantu bagaimana maksudmu ?" Tanyanya mulai serius menanggapi ucapan Jihoon.
Ia memiringkan badannya lalu menopang kepalanya dengan satu tangan agar bisa menatap Jihoon lebih jelas.
"Membantu mereka membuat keputusan, maksudku aku tau jika Jinyoung membalas perasaan Daehwi maka Guanlin akan tersakiti, lalu jika Guanlin memaksa Daehwi untuk membalas perasaannya tentu saja semuanya akan bertambah buruk. Aish.. bagaimana aku menjelaskannya, rumit sekali sih !" Jihoon jadi kesal sendiri.
Lagi-lagi Woojin terkekeh melihat ekspresi kekasihnya yang menggemaskan itu, diusapnya surai Jihoon sayang.
"Aku mengerti maksudmu. Pertama-tama Daehwi dan Guanlin harus menyesaikan masalah mereka terlebih dulu. Karena sebenarnya permainan mereka yang membuat semua ini semakin rumit." Tutur Woojin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rumit | Maknae Line [END]
Fanfiction[END] Cinta itu kayak rumus fisika, walaupun rumit tapi selalu ada cara buat nyelesein nya. Tapi gimana cara selesein nya kalo nyatanya Daehwi suka Jinyoung, Jinyoung suka Jihoon, Jihoon suka Woojin, Woojin suka Daehwi dan Guanlin terjebak diantara...
![Rumit | Maknae Line [END]](https://img.wattpad.com/cover/137698299-64-k34811.jpg)