Annoying Lunch.
────୨ৎ────
SATU bulan penuh Bang Hazm menepati perkataannya. Aku seperti memiliki sopir pribadi. Dia mengantar-jemputku hampir setiap hari, termasuk ketika aku memiliki kegiatan di luar kantor atau memiliki janji dengan teman-temanku. Sejauh ini, baru Bang Hazm satu-satunya laki-laki yang perkataannya selalu sinkron dengan perbuatannya.
"Bayarnya sesuai aplikasi, ya, Bang," kataku ketika turun dari motor.
Tak!
Dia menyentil helmku dengan jari-jarinya. Membuatku meringis karena tenaganya yang cukup kuat. Wajahnya hampir tertutupi semua karena dia menggunakan helm off-road, padahal dia mengendarai motor matik. Dari matanya, aku bisa melihat Bang Hazm melempariku dengan tatapan kesal seolah menyiratkan perkataan: "Dasar Adik Durhaka!"
Dulu dia pernah memiliki motor cruiser berwarna hitam yang cocok dengan helm off-road-nya itu. Hanya saja motor cruiser itu dia jual untuk biaya kuliah S-2-nya, tapi helmnya tidak dia jual dengan alasan untuk kenang-kenangan. Jadi, setiap kali dikomentari kenapa menggunakan helm off-road dengan motor matik, dia selalu menjawab, "Helm itu untuk melindungi kepala, bukan untuk melindungi motor."
"Kamu hari ini jam berapa?" tanya Bang Hazm tidak jelas.
"Ngomong apaan sih, Bang?" kataku sembari menyerahkan shorty helmet cokelat yang kugunakan padanya.
Dia melepas helmnya terlebih dahulu supaya suaranya terdengar lebih jelas. Kemudian menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari-jari tangan.
"Hari ini pulang jam berapa?" ulangnya.
"Jam empat sore, kayak biasa."
"Bener, ya? Awas aja kalau kayak kemarin! Bilang jam empat, tahunya azan Isya baru keluar. Abang nunggu selama tiga jam di pos security. Mana kamu susah dihubungi, kebiasaan." Bang Hazm sampai dikenal security di kantorku karena kemunculannya di jam masuk dan jam pulang.
"Iya, maaf. Ponselku lowbat kemarin, aku nggak bawa charger," jawabku.
Kemarin aku membantu Athaya menyusun laporan ad hoc direksi. Tidak enak kalau aku pulang duluan sementara dia overtime sendirian, padahal pekerjaanku juga banyak. Mau mengabari Bang Hazm dengan telepon kantor, aku tidak hafal nomor ponselnya. Nomor sendiri saja aku tidak hafal.
Karena semua pekerjaan sudah kuselesaikan kemarin, aku tidak memiliki satu pekerjaan apa pun yang bisa kukerjakan hari ini. Tidak ada schedule Athaya yang harus ku-update, tidak ada jadwal meeting, tidak ada laporan yang harus kuketik, tidak ada email dan surat masuk yang harus kubalas, dan tidak ada berkas yang harus difotokopi. Bahkan, tidak ada satu pun panggilan yang masuk ke telepon yang ada di meja kerjaku.
Biasanya jam-jam kosong seperti ini kuisi dengan memandangi browser internet sambil mendengarkan suara recitation Quran Nasser Alqatami melalui earphone. Mulai dari situs kajian online, novel online, sampai situs belanja online pun aku kunjungi. Namun, ketika mengetahui melakukan kegiatan pribadi di jam kerja termasuk dalam korupsi waktu, aku tidak melakukannya lagi. Meskipun itu merupakan kegiatan yang positif, tetap saja aku digaji per jam di tempat ini untuk bekerja.
Jadi, pekerjaanku hari ini benar-benar longgar.
Setelah berada di titik bosan karena hanya duduk dan bernapas, akhirnya telepon di mejaku berdering. Ada satu rules bahwa sekretaris tidak boleh lambat dalam menjawab panggilan. Apalagi membiarkannya berdering lebih dari tiga kali. Sekilas terdengar mudah, tapi aktualnya tidak semudah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
