Bagian 5

98.7K 9.9K 1.3K
                                        

Different Side.

────୨ৎ────

SEBERAPA banyak kuyakinkan diri sendiri untuk mulai memerangi PTSD itu, membangun keberanian untuk kembali menaiki robot ular raksasa lagi, tetap saja hasilnya nol besar. Semuanya terlalu mengerikan, bahkan untuk sekadar dibayangkan.

Setelah deep talk yang kulakukan bersama Kinan di kafeteria waktu itu, sehari setelahnya aku tidak bisa tidur. Serentetan potongan kejadian kecelakaan itu kembali tebersit dalam mimpi-mimpiku dan membuatku terbangun tengah malam.

Tapi sepertinya Allah mendengar doaku. Dua orang panitia—termasuk Tsani—tidak ikut pergi naik kereta pada hari Jumat karena alasan pekerjaan dan memilih berangkat pagi-pagi di hari Sabtu.

Mereka akan naik mobil. Jadi, aku akan ikut mereka naik mobil untuk sampai ke JungleLand. Dengan begitu, Ayah memberikan fatwa bahwa aku boleh ikut pergi, selama aku yakin kalau aku akan baik-baik saja di sana. Yang jadi masalah adalah orang yang akan membawa mobil dan memberikan tumpangannya ternyata Athaya.

Ya, Athaya. Tidak perlu diulang untuk membuatku kaget. Ingin sekali kubedah kepalanya untuk mengetahui apa isi pikirannya. Bukankah dia sedang sibuk-sibuknya dengan semua pekerjaan yang masih seabrek itu? Jadi, kenapa dia tiba-tiba ikut acara ini?

Kabar tentang Athaya yang ikut baru kuketahui ketika aku membuka grup LINE yang dibuat untuk para relawan. Tahu, 'kan, username LINE itu akan secara otomatis ditambahkan ketika kita menyimpan nomor seseorang? Dan kutemukan username Athaya di antara anggota grup LINE.

"Kita nggak kepagian nunggu jam segini?" tanyaku.

Sejak pukul tujuh tadi aku, Tsani, dan Dita sudah menunggu di pinggir jalan dekat pintu masuk tol. Beberapa panitia yang memutuskan naik kereta sudah berangkat sejak kemarin sore dari Stasiun Gondangdia. Mereka benar-benar bermalam di sana.

"Ya, daripada kesiangan, kan? Lagian nggak enak kalau telat. Masa kita yang nebeng, dia yang nunggu. Mending kita yang nunggu..." jawab Tsani.

Aku mengangguk sambil kembali menghela napas.

"Kenapa kamu nggak ikut naik kereta sama yang lain, Dit?" tanyaku pada Dita.

Tsani jelas tidak ikut naik kereta karena rumahnya berada di kawasan Bintaro, lumayan jauh dari Stasiun Gondangdia. Meskipun dari Bintaro sebenarnya dia bisa naik kereta di Stasiun Pondok Ranji atau Jurang Mangu untuk sampai ke Bogor, tapi dia bilang dia tidak berani berangkat sendirian.

"Aku ada keperluan kemarin sore, tukeran shift sama temen biar hari ini bisa libur. Kamu tahu sendiri, kerja di supermarket beda sama kantor, liburnya giliran. Aku nggak bisa ikut kalo berangkatnya kemarin," jawab Dita, membuatku mengangguk mengiyakan.

Tak lama setelah perbincangan itu, dari arah kanan jalan, sebuah mobil Toyota putih menepi, lalu mengklaksoni kami. Kaca mobil itu menurun dengan sendirinya, memunculkan sesosok wajah dengan kaos hitam dan celana jeans berwarna krem.

"Ayo, naik," kata Athaya.

Betapa antusiasnya dua perempuan di sampingku ketika melihat pria yang sedang duduk di kursi kemudi itu. Meskipun bibir mereka tidak mengatakannya secara langsung. Namun, mata mereka yang mengambil jeda beberapa menit untuk berkedip, cukup menjelaskan segalanya.

Menggunakan setelan kantor saja, Athaya memang sudah terlihat "wah". Apalagi menggunakan pakaian kasual seperti sekarang, dia terlihat secerah matahari, dan itu adalah fakta yang tak terbantahkan.

Dengan gerakan wajahnya, Athaya memberiku instruksi untuk duduk di kursi depan. Sementara dua temanku masuk ke kursi belakang. Mobil itu berkapasitas untuk enam orang. Padahal, aku berencana duduk di kursi ketiga paling belakang.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang