Troublesome.
────୨ৎ────
AKU memukul bahu Bang Hazm dengan tumbler yang kupegang ketika pria itu sudah duduk lebih dulu dengan sekujur tubuh yang basah dengan keringat. Weekend ini dia mengajakku untuk jogging di GBK. Jogging dan lari memiliki perbedaan dalam tingkat intensitas kecepatan.
Di mana-mana yang namanya jogging itu lebih santai. Dia mengajakku untuk jogging, tapi malah lari maraton sendirian. Meninggalkanku seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di tempat seluas ini. Jelas-jelas aku tidak suka berada di tempat ramai sendirian!
Bang Hazm malah tak menghiraukan dan lebih memilih bangkit untuk segera melakukan gerakan pendinginan. "Lari gitu doang udah capek. Lemah!" cibirnya ketika melihatku memilih duduk daripada melakukan pendinginan.
Aku bukan lari karena niat, aku terpaksa lari demi mengejarnya. Semua ponsel dan dompetku ada di tas selempangnya. Kalau sampai ditinggal, aku tidak bisa pulang.
"Kamu tuh kerjanya kebanyakan duduk, Fir. Makanya badan kamu gampang banget capek karena jarang gerak. Lihat orang-orang kantor yang lain, mereka ikut event maraton sekaligus mengumpulkan medalinya."
Aku hanya menatapnya tajam sembari mengatur napas. Ya, Tuhan, tolong jaga tangan hamba untuk tidak melemparkan tumbler ini ke arah wajahnya.
Rasanya perlu kusodorkan cermin besar pada Bang Hazm. Tidak sadarkah dia seberapa tinggi tubuhnya dan seberapa panjang kakinya itu? Langkahku hanya setengah dari langkahnya. Di rumah saja kalau naik ke lantai atas, dia selalu menginjak dua anak tangga sekaligus.
"Sesekali gantiin kerjaan aku di kantor, Bang. Abang belum pernah naik turun tangga dari lantai dua puluh pas lift lagi mati, 'kan? Lagian, aku bakalan ikut event maraton kalau diperbolehkan pake gamis, plus track lari ikhwan-akhwat dipisah," kataku.
"Dikira masjid pake pisah track. Elah, dua puluh lantai doang. Gunung Semeru aja Abang naik turun. Apalagi cuma tangga," katanya meremehkan.
Aku tidak peduli, rasanya kakiku sudah mati rasa.
Beberapa kali perempuan yang masih olahraga di jogging track menatap ke arah Bang Hazm. Pria dengan tubuh menjulang tinggi tanpa darah itu menggunakan kaus oblong hitam, celana selutut putih dengan stocking, dan sepatu sneakers. Wajahnya yang basah karena keringat tersorot oleh cahaya Ilahi. Menciptakan daya tarik tersendiri.
Sepertinya, binar fajar sangat mendukung penampilannya untuk terlihat semakin maskulin. Sayang sekali, orang-orang itu hanya mengagumi luarnya Bang Hazm. Mereka tidak tahu seberapa tengilnya anak ini.
"Pulang, yuk?" ajaknya, tepat setelah dia melakukan pendinginan.
Aku memaksakan diri untuk bangkit ketika mendengar ajakannya. Bang Hazm mengajakku berjalan sembari merangkulkan lengan kirinya ke pundakku.
Beberapa orang yang melihat akan berpendapat bahwa kami adalah siblings goals. Tak jarang ada yang mengira kami adalah pasangan. Namun percayalah, ada hidden act yang disembunyikan Bang Hazm dari tindakannya. Dia sengaja merangkulku supaya keringat dari ketiaknya menempel semua di hijabku, niatnya kentara sekali.
"Kak Shafira."
Aku merotasikan pandangan ketika mendengar suara perempuan memanggil namaku beberapa kali. Namun, ketika menemukan sosoknya, aku memilih menarik Bang Hazm untuk pergi lebih cepat dan pura-pura tidak mendengar apa pun.
"Itu Sheina, ya?" Sayangnya, Bang Hazm melihat anak itu lebih dulu sebelum aku menariknya pergi.
Masalahnya, Sheina tidak sedang sendirian, Athaya berdiri tak jauh di sampingnya. Kenapa harus ketemu dia, sih? Memangnya Jakarta sesempit ini sampai harus menemui Athaya di hari libur berkali-kali?
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
