Between Us.
────୨ৎ────
SAAT masih kecil, aku selalu merasa senang ketika Ayah pulang kerja membawa sesuatu. Entah itu hanya sebatang lollipop rainbow atau bahkan plastik bubble wrap yang tidak terpakai dari tempat kerjanya. Well, itu memang bukan hal besar yang bisa dibawakan seorang ayah di luaran sana. Tapi, itu sangat berarti bagiku, memecahkan bubble wrap sampai ketiduran terasa sangat menyenangkan dan mampu menghilangkan stres yang kualami.
Kebiasaan itu berdampak sampai aku tumbuh dewasa. Tanpa diminta, setiap pulang kerja aku selalu membelikan sesuatu untuk orang rumah. Aku berhenti di pertigaan antara Jalan Cemara dan Cokroaminoto setelah melihat banner besar bertuliskan Martabak Menteng. Apalagi bau margarin leleh dan kacang memenuhi rongga hidungku. Tempat itu agak penuh, jadi aku harus sabar mengantre bersama bapak-bapak dengan jaket hijaunya.
Saat sedang menunggu pesanan martabakku dibuatkan, Bang Hazm tiba-tiba menghubungiku lewat video call. Aku sudah pernah bilang kalau Bang Hazm tiba-tiba menghubungiku seperti itu, kemungkinannya hanya ada dua. Pertama, ada masalah yang membuat dia marah karena ulahku. Kedua, dia akan menjadikanku seorang delivery order.
"Kamu udah pulang kerja belum?" tanyanya pertama setelah menjawab salam yang kuucapkan. Wajahnya terlihat berkeringat sekali. Handuk kecil yang tergantung di lehernya membuatku menebak bahwa dia baru saja selesai lari.
"Udah, kenapa? Mau pake motornya, Bang?" tanyaku.
"Kamu lagi di mana sekarang? Kok itu rame banget di belakang?" tanyanya lagi.
Aku memutar arah kamera menjadi kamera belakang. Memperlihatkan tulisan besar Martabak Menteng. "Lagi pesan martabak red velvet nutella kacang buat Ayah. Ngantri banget, banyak yang order online. Jangan bilang mau titip beli makanan lainnya, awas aja!" jawabku.
"Hehe... tahu aja. Abang lagi pengen banget makan zuppa soup, laper nih abis olahraga. Beliin sekalian pulang, ya? Uangnya Abang ganti kok, please... kamu, 'kan, adik yang baik." Dia memujiku ketika ada maunya saja.
"No, I'm bad. Ke kondangan aja sana kalo mau makan zuppa soup. Aku nggak tahu yang jualan zuppa soup di Menteng ada di mana. Ini juga beli martabak nggak sengaja lewat aja," kataku menolak permintaannya.
"Kan ada ponsel, cari aja di maps sekitaran situ apa susahnya? Yang deket pasti ada kok," kata Bang Hazm lagi.
Dia juga memegang ponsel sekarang, kenapa tidak pesan sendiri saja menggunakan aplikasi?
"Ya, udah, tapi nggak janji, ya. Kalau ada yang deket sekitaran sini aja," jawabku.
"Asik... makasih banget adikku tersayang, tercantik, termanis, tercinta—"
Mendengar Bang Hazm mulai berbicara over, aku langsung memotongnya dengan mengucapkan salam dan memutus panggilannya. Bukannya senang, aku malah merasa risih ketika dia banyak memujiku.
Ketika aku mencari tempat terdekat yang menjual zuppa soup di maps, pilihanku jatuh pada sebuah restoran bernama Morrissey. Sebuah tempat casual dining yang buka sejak pukul empat sore sampai sebelas malam. Tempatnya berada di Jalan Wahid Hasyim, masih berada di sekitaran pertigaan itu juga.
Setelah sampai di restoran tersebut, aku baru tahu bahwa tempat itu adalah restoran Italia. Namun, tidak hanya menyediakan makanan Italia saja, tapi juga makanan Barat dan Asia. Tempat itu masih terlihat sepi sekali, hanya beberapa meja yang nampak terisi. Waiter restoran itu menunjukkan buku menunya padaku ketika aku mengatakan memesan untuk take away.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
