Dishonesty.
────୨ৎ────
RAPAT direksi selalu membuat pening beberapa peserta rapatnya. Rapat yang membahas management concern ini berakhir dengan pertemuan yang membosankan dan memakan waktu. Namun, kali ini rapat direksi berakhir lebih cepat. Bu Rina mengikutiku pelan ketika kami berjalan di lorong untuk kembali ke ruangan masing-masing.
"Cieee... kapan acara resepsinya? Keren banget kamu bisa dapet orang Astra Land. Jangan-jangan cinlok pas lagi meeting, ya?"
Aku agak kaget ketika mendengar Bu Rina mengatakan itu. Pasalnya, aku tidak pernah mengatakan tentang rencana pernikahanku pada siapa pun. Seingatku orang kantor yang tahu bahwa aku sedang mempersiapkan pernikahan hanyalah Athaya dan Kaira. Tapi, aku sangat yakin Kaira orang yang mulutnya terkunci rapat untuk urusan seperti ini dan aku juga sangat tahu kalau Athaya tidak akan membicarakan hal yang tidak ada sangkut paut dengan dirinya.
"Tahu dari mana, Bu?" tanyaku akhirnya.
"Ada salah satu staf divisi perizinan yang punya teman di Astra Land. Orang itu sebelumnya kerja di Nata Adyatama juga. Dia lihat kamu ketemu sama atasan mereka di sebuah kafe. Terus foto kalian lagi ngobrol di kafe itu jadi viral deh. Entah di Nata Adyatama maupun di Astra Land."
"Fotonya lagi berdua?" tanyaku lagi.
Masalahnya kalau di fotonya aku sedang berduaan, maka dapat dipastikan bahwa orang di foto itu bukanlah aku.
Bu Rina mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi chat untuk menunjukkan fotoku yang ada di grup karyawan dan benar saja bahwa orang dalam foto itu adalah fotoku dengan Kak Afif saat makan ramen setelah fitting baju. Padahal, ada Raihan di sana.
"Selamat, ya. Semoga lancar sampai hari H, Shaf. Jangan lupa undangannya diperbanyak," kata Bu Rina sembari memberikan seutas senyum ketika kami hendak masuk lift.
Aku hanya tersenyum tipis sambil mengucapkan terima kasih. Kepalaku malah semakin terasa pening mendengar berita tersebut. Di samping itu menjadi sebuah klarifikasi bahwa isu tentang affair antara aku dan Athaya terpatahkan, ada kekhawatiran tersendiri yang memenuhi benakku ketika kabar itu ternyata sudah tersebar di antara orang-orang kantor.
Bu Rina malah dengan sengaja mengusili Athaya yang saat itu juga berada di lift. "Gimana nih, Tha? Masa keduluan nikah sama sekretaris sendiri," kata Bu Rina.
Athaya menekan tombol close setelah tidak ada lagi orang yang akan masuk.
"Ya... gimana lagi, Bu? Lagian nikah itu bukan perlombaan. Belum tentu siapa yang paling cepat menikah, dia yang paling bahagia."
"Maksudnya, ngedoain pernikahan Shafira nggak bahagia, Pak?" tanya Mas Dean yang juga berada di tempat.
"Nggak gitu juga, Dean. Saya mengambil hipotesis seperti itu karena banyak teman-teman saya yang udah nikah duluan, tapi ternyata setelah menikah mereka nggak sebahagia yang saya lihat di awal-awal. Tentu banyak juga yang bahagia beneran setelah menikah. Jadi, benar 'kan? Pernikahan itu bukan perlombaan? Orang punya timing-nya masing-masing, nggak bisa disamaratakan."
"Athaya tuh bukan belum nemu timing-nya. Dia belum kepikiran aja soal pernikahan," tambah Pak Jo yang kukira tidak ikut menyimak.
"Bener banget, Pak. Saya memang belum kepikiran ke arah sana. Soalnya, saya masih merasa umur dua puluhan," jawab Athaya membuat Bu Rina, Mas Dean, dan orang-orang yang ada di lift itu tidak terfokus pada kabar pernikahanku.
Setelah sampai di lantai dua puluh, Athaya kembali masuk ke ruangannya dan aku kembali ke meja kerjaku. Aku mencoba mengumpulkan fokusku, meskipun sebenarnya pikiranku sudah berkelana sejak kemarin. Mencoba seprofesional Athaya yang tidak pernah membawa masalah pribadi ke kantor.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
