Office Issues.
────୨ৎ────
BERULANG kali aku memperingatkan Athaya untuk menungguku di mobil saja, biar aku yang meminta izin pada Ayah. Kemarin-kemarin aku bahkan bersikukuh akan berangkat sendirian dan menemuinya di sana, tapi dia juga tetap bersikukuh akan menjemputku dengan alasan tidak enak katanya.
Sekarang aku tidak mengerti lagi kegilaan apa yang sedang Athaya lakukan. Karena ketika aku keluar dari kamarku dan turun ke lantai bawah, dia sudah duduk dan mengobrol bersama Ayah di ruang tamu.
Beberapa saat, aku menyadari kalau Athaya menatapku lekat selama beberapa detik, membuatku berdiri kaku merasa terbius dengan tatapannya yang mematikan itu. Sebelum akhirnya pandangannya terputus karena mendengar Ayah yang berdeham cukup keras.
"Ekhem... undangannya jam sebelas, 'kan? Lebih nyaman berangkat sekarang biar nggak terlalu panas," kata Ayah membuat Athaya merasa tertangkap basah telah memandangku agak lama.
Sebenarnya, penampilanku tidak semenakjubkan itu untuk membuat seorang Athaya terpesona tanpa berkedip. Aku bukan orang yang hanya berdandan ketika hendak pergi ke undangan atau keluar rumah saja. Penampilanku masih sama seperti biasanya.
Tentu saja, tanpa parfum juga. Bayang-bayang akan ancaman tabarruj dan dicap penzina hanya karena tercium wangi parfum oleh lawan jenis yang bukan mahram, sudah terbayang di pelupuk mata. Apalagi aku pergi bukan hanya bersama Athaya, tapi juga sopirnya.
"Eh, ada tamu ternyata. Mau berangkat ke undangan, ya?" kata Bang Hazm dengan wajah berkeringat dan terlihat mengatur napas berkali-kali. Mengingat ini hari Minggu, dia pasti baru selesai jogging keliling kompleks.
"Udah lama nunggunya, Bang? Shafira dandannya memang suka lama," tanya Bang Hazm pada Athaya, seolah menyapa tukang batagor di depan kompleks.
Bang Hazm bersalaman, lebih tepatnya melakukan high five dengan Athaya. Membuatku mengernyitkan kening memikirkan sejak kapan mereka sedekat itu sampai Bang Hazm berani bersikap begitu santai? Ayolah, Bang Hazm bahkan baru bertemu tiga kali dengan Athaya, saat di rumah sakit, GBK, dan saat di bioskop Selasa lalu.
"Lumayan, ini udah mau berangkat kok, Zam," jawab Athaya.
Siapa suruh dia tidak mengabariku bahwa dia sudah berada di rumahku. Kalau tahu dia sudah datang, aku mana mungkin berlama-lama di kamar sejak tadi.
"Kalo gitu, saya pamit sekarang, Om. Insyaallah, nanti saya anter pulang Shafira tepat waktu, selamat sentosa, sehat walafiat, dan lengkap," katanya membuat Ayah tertawa.
Aku bersyukur karena Pak Jonathan juga mengadakan pestanya pada siang hari, bukan sejenis night party. Jadi, aku tidak begitu khawatir pergi dengan Athaya.
"Hati-hati di jalannya, ya, titip Shafira, Nak Atha. Fii amanillah," jawab Ayah.
Setelah itu, Ayah ikut berdiri karena Athaya bangkit dari posisi duduknya. Aku mencium tangan Ayah sebelum meninggalkan pintu depan.
"Aku berangkat, Yah," kataku.
Ayah menanyakan sesuatu terlebih dahulu. "Kamu udah bilang sama Nak Afif tentang ini?"
Aku menggeleng pelan. Memang harus, ya, meminta izin di saat statusku hanya sebatas tunangannya? Kami belum sah menjadi sepasang suami istri, rasanya agak berlebihan kalau aku harus meminta izin pada Kak Afif juga.
"Kasih tahu Nak Afif. Biar nggak salah paham nantinya. Daripada dia tahu dari orang lain, 'kan? Memang belum menjadi kewajiban kamu, seenggaknya kita menghargai dia dan keluarganya," kata Ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomantikSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
