Bagian 3

129K 11.7K 808
                                        

Too Many Secrets.

────୨ৎ────

BANYAK orang ingin memiliki pekerjaan yang hanya duduk di ruangan ber-AC sambil menatap layar komputer. Mereka mengira bekerja di perusahaan ternama dan memiliki gaji yang besar adalah pekerjaan paling nyaman dan paling sempurna. Padahal setiap pekerjaan punya konsekuensinya masing-masing.

Terlalu lama duduk membuat punggung terasa sakit. Terlalu lama menatap layar komputer membuat mata terasa perih. Migrain seharian duduk tepat di bawah AC, sudah menjadi konsumsi harian. Namun, lebih baik menahan lelahnya pekerjaan, dibandingkan menahan lelahnya mencari pekerjaan.

Padahal, hidup bukan tentang membandingkan seberapa mudah pekerjaanmu dengan orang lain, bukan tentang seberapa tinggi pencapaianmu dengan pencapaian orang lain. Namun, tentang seberapa banyak rasa syukurmu dibandingkan rasa syukur orang lain. Kerja atau mencari kerja, dunia memang tempatnya lelah.

Itu petuah konyol yang pernah kudengar dari Bang Hazm yang selama ini masih menjadi aktivis kampus sambil mengejar S-2-nya, tanpa pernah merasakan kerasnya dunia kerja. Hanya karena satu pembicaraan saat makan siang tadi, aku langsung lupa bagaimana caranya bersyukur dengan pekerjaan ini.

"Hasil rekap data dan timeline proyek baru dengan perusahaan Patera Development udah selesai, Ra?" tanyanya tiba-tiba muncul di depan mejaku, menghalangi pemandangan matahari yang sudah berada di arah jam tiga sore.

Bukannya menjawab pertanyaan yang Athaya ajukan, aku malah fokus pada panggilan yang baru saja dia katakan. "Ra?" tanyaku.

"Kenapa? Nama kamu Shafira, 'kan? Ada Ra-nya di akhir."

Memang benar, tapi telingaku tidak biasa mendengar panggilan itu. Aku khawatir tidak menanggapi panggilannya ketika dia memanggilku dengan panggilan Ra. Karena biasanya, orang-orang lebih sering memanggilku Shaf dan keluargaku lebih sering memanggilku Fira.

Baiklah, terserah dia mau memanggilku dengan panggilan apa. Pikiranku sudah cukup kalut dengan menjadi sekretarisnya. Lebih baik dipanggil Ra daripada mendengar panggilan-panggilan yang dia ucapkan saat menghubungiku semalam.

"Udah saya update perkembangan terbarunya. Laporannya ada di meja, di map hitam. Tinggal nunggu keputusan mau lanjut atau enggak."

"Kalau masalah pembatalan rancangan di cabang dua, gimana? Mereka belum kirim email lagi terkait progres terbarunya, 'kan?" tanyanya lagi.

"Sambil nunggu keputusan final, saya udah nanya sama pihak sana tentang perkembangannya. Waktu dan tempat akan saya kabari lagi dan akan saya masukan ke schedule kunjungan bisnis setelah mendapatkan kabar terbaru."

Pria itu seperti tidak puas jika ada sesuatu yang belum selesai. Untuk masalah perempuan, mungkin Athaya bisa main-main. Namun, untuk masalah pekerjaan, Athaya itu perfeksionisnya luar biasa.

"Berarti sejauh ini aman, ya? Nggak ada kendala lain?" tanyanya dan aku mengiakan.

"Oh, iya, meeting sama manajer keuangan dijadwalkan kapan?"

"Besok pagi, jam sepuluh."

"Saya besok mau ambil cuti lagi setengah hari. Jadi, kemungkinan saya datang ke kantor sekitar jam sebelas atau after lunch kayak biasa. Manajer keuangan digantikan sementara sama Ilyana, 'kan?"

Aku mengangguk lagi untuk kesekian kalinya.

"Kalau gitu, tarik aja meeting-nya ke hari ini selesai jam kerja. Hubungi sekretarisnya Ilyana dan buat janji temu. Dia orangnya fleksibel kok kalau masalah jadwal, nggak seperti Pak Jonathan."

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang