Father Figure.
────୨ৎ────
MALAM itu kuhabiskan dengan duduk di ruang tengah membaca sebuah buku bercover soft pink dengan judul Mahkota Pengantin karya Majidi bin Manshur bin Sayyid asy-Syuri.
Sebenarnya kitab terjemahan itu sudah lama kubeli, tapi aku belum pernah selesai membacanya karena menjadi seorang pengantin masih jauh dari rencanaku. Kupikir belum tentu juga umurku bisa sampai di titik menjadi pengantin. Terbilang sangat terlambat, harusnya dari jauh-jauh hari kuselesaikan membaca buku ini. Entah akan sampai atau tidak, mempelajari sebuah ilmu tidak ada ruginya.
"Mama kamu dulu, waktu baru menikah sama Ayah, semua teman-temannya memberikan kado buku fikih pernikahan dan kiat-kiat menjadi istri yang baik dalam Islam, sampai Ayah ikutan dikasih buku juga," kata Ayah yang masih setia menyimak channel berita politik kesukaannya.
"Ayah sempet mikir. Kok orang baru nikah malah disuruh banyak baca buku? Bukan ngasih hadiah apa gitu yang umum dan bisa dipake. Tapi ketika Mamamu nyuruh Ayah baca buku-buku fikih itu, Ayah baru paham kalo memang semua itu penting, bukan cuma untuk pihak perempuannya aja yang belajar. Tapi laki-laki juga wajib," lanjutnya.
"Makanya Ayah suruh Abang kamu duluan tuh buat belajar. Dari mana pemuda muslim jaman sekarang mau belajar masalah sex education, kalo nggak dari buku fikih? Dari film-film nggak bener? Atau cerita-cerita dewasa yang nggak karuan? Itu nggak baik buat psikis. Padahal, Islam udah memudahkan segalanya dan ada aturannya," kata Ayah.
Aku sepakat dengan Ayah. Ketika masih duduk di sekolah dasar, anak-anak lain akan dimarahi orang tuanya ketika menanyakan apa itu menikah. Orang tua kerap kali mengatakan, "Kamu masih kecil!"
Tapi aku masih ingat bagaimana jawaban Ayah dulu ketika aku menanyakan hal yang sama, dia menjawab seperti ini: "Menikah itu ibadah paling lama, hidup bersama laki-laki yang kamu cintai dan memiliki anak dengan tujuan beribadah. Makanya besar nanti, kamu akan menikah dengan laki-laki saleh yang salat lima waktunya selalu di masjid."
Sampai sekarang, tertanam di benakku bahwa aku harus menikahi pria saleh. Itulah kenapa tidak semua pria baik, bisa terlihat baik juga dalam pandanganku.
Bersamaan dengan penjelasan Ayah tadi, ponselku yang ada di meja berdering. Ada satu panggilan masuk dari Athaya saat itu. Aku sengaja me-reject panggilan tersebut. Bukan karena ada Ayah di sampingku, tapi karena aku lebih nyaman berbicara melalui pesan chat dibandingkan menjawab telepon. Kecuali kalau dalam kondisi yang sangat urgent, baru kuangkat panggilannya. Athaya langsung mengirimku pesan setelah itu.
Athaya: I know this is not your job desc, tapi boleh nggak saya minta tolong kamu jagain Sheina besok? Saya harus flight ke Bandung buat ngurus beberapa hal penting di kantor cabang. Saya janji nggak akan lama kok. Saya flight jam tiga subuh. Jadi, kemungkinan jam satu siang udah landed lagi di Soetta.
Shafira: Oke.
Athaya: Makasih, Ra.
Aku tidak membalas pesannya lagi setelah itu.
Keesokan harinya, tentu saja aku pergi ke rumah sakit lagi. Sebenarnya, tempatnya lebih nyaman di ruang rawat inap Sheina dibandingkan di kantor. Ditambah ruangannya yang lumayan kedap suara membuat suasana terasa hening. Hanya saja yang namanya rumah sakit, bau khas obatnya tetap tidak bisa dihilangkan.
"Bandung deket, Na," kataku ketika berulang kali melihatnya menghembuskan napas gusar dengan bibir yang cemberut.
"Iya, tapi kan baru juga sebentar ketemunya, Kak. Masa harus udah pisah lagi. Jarang-jarang loh Kak Atha mau punya waktu dan mau bicara sama aku. Kasian juga dia, kemarin baru landed dari Osaka langsung pulang ke sini dan semalem nginep nemenin aku tidur di kursi. Subuh tadi, jam dua dia harus langsung pulang persiapan buat flight ke Bandung. Tubuhnya nggak remuk apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
