Bagian 21

91.9K 9.2K 2.5K
                                        

Epiphany.

────୨ৎ────

Dua tahun kemudian, Dar Al Tawhid Intercontinental Hotel, Makkah.

TETES demi tetes itu keluar dari keran shower membasahi tubuhku. Setelah seharian aku berada di luar hotel, akhirnya semua rasa gerah itu larut dengan air. Inginnya aku berendam di bathtub saat itu, tapi aku tidak punya waktu untuk melakukannya sekalipun fasilitasnya disediakan.

Beberapa menit yang lalu, aku sempat mengecek suhu dari layar ponsel sebelum mandi tadi. Udara panasnya mencapai 31 derajat Celsius, sekarang bahkan hampir mencapai 33 derajat Celsius.

Dua tahun terakhir tinggal di Bandung, aku selalu mandi dengan air hangat karena udara dingin. Tapi di tempat ini, mandi dengan air dingin dan bertemu ruangan ber-AC adalah surga. Terlebih setelah menjelajahi Jabal Tsur di kawasan Al Hijrah selama berjam-jam lamanya dan hanya berteduh sebentar di perpustakaan Makkah Al Mukarromah.

"Shaf, kamu mau ikut makan di Abraj Al Bait nggak? Kakak mau ke sana sama Bang Hazm sekaligus nyari oleh-oleh," ajak Kak Hasna yang saat itu sedang sibuk memperbaiki riasannya setelah mandi lebih dulu.

Dar Al Tawhid Intercontinental—hotel yang kutempati selama berada di Makkah ini—jaraknya memang sangat dekat dengan pelataran Abraj Al Bait. Hanya perlu waktu lima menit untuk bisa sampai di bangunan seratus dua puluh lantai itu. Letaknya berada di seberang pintu Abdul Aziz, Masjidil Haram. Empat lantai pertama gedung itu memang merupakan pusat perbelanjaan.

Satu cita-cita Bang Hazm yang pada akhirnya dapat tercapai setelah dua tahun lamanya. Kami melakukan ibadah umrah bersama. Dia bekerja sangat keras untuk bisa mewujudkan ini. Meski kami pindah ke Bandung, Bang Hazm hampir tidak pernah ada di kota Bandung karena tugasnya yang mengharuskan dia keliling kota.

"Lā... lā... badan aku udah nyerah duluan. Kakak aja sama Bang Hazm yang jalan-jalan." Aku menolak ajakannya sambil meniru bagaimana orang-orang Arab melakukan penolakan. Kakiku benar-benar sudah berada di ambang batas.

"Zuhur nggak akan ikut berjamaah di Masjidil Haram dong?" tanya Kak Hasna lagi.

Aku sangat ingin melakukannya, namun aku tidak yakin kakiku masih berfungsi setelahnya. Semalam saja aku sudah menelan satu tablet meloxicam untuk bisa melakukan kegiatan hari ini. Tubuh di usia 25, sudah tidak bisa semaksimal saat masih muda.

"Aku salat zuhur dari hotel aja, Kak," jawabku. Pemandangan Masjidil Haram memang terlihat sangat dekat dari balkon hotel ini. Apalagi kalau menyewa hotel di lantai tujuh Abraj Al Bait tadi. Mungkin setelah beristirahat sebentar, salat asar nanti aku bisa berjamaah ke sana.

"Padahal Kakak butuh banget kamu buat nego barang nanti. Ya udah, istirahat dulu aja. Tapi nggak apa-apa 'kan kalau ditinggal sendirian di hotel? Ayah lagi bareng sama rombongan umrah yang lain soalnya."

Dua hari terakhir itu, kami memang diberikan waktu bebas setelah serangkaian acara yang disusun oleh pihak travel. Aku hanya mengacungkan jempol untuk menanggapi perkataan Kak Hasna saking lelahnya.

Awalnya, Bang Hazm menemani Ayah untuk berangkat umrah sekaligus pergi bulan madu karena selama setelah menikah, Bang Hazm dan Kak Hasna tidak pernah pergi berdua. Dia benar-benar langsung sibuk bekerja setelah wisuda. Dia lupa bahwa menjalankan umrah biasanya tempat tidur laki-laki dan perempuan harus dipisah. Dia tidak bisa berbulan madu, kecuali kalau dia mau membayar denda. Apalagi kami umrah memakai jasa travel bukan berangkat secara pribadi. Akhirnya, Kak Hasna malah satu kamar denganku dan Bang Hazm satu kamar dengan Ayah.

"Pasti ada penjual yang bisa berbahasa Indonesia kok, Kak," tambahku.

Banyak orang Arab yang ternyata bisa berbahasa Indonesia, khususnya untuk masalah jualan. Jangan aneh ketika keluar pintu masjid akan terdengar ibu-ibu Arab berucap, "Kerudung bagus-kerudung bagus lima riyal." Itu gegar budaya pertama yang kualami saat keluar dari Masjid Nabawi saat di Madinah minggu lalu. Tidak-tidak.

SHAF ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang