Epilog.
────୨ৎ────
Pullman Zamzam Madina. King Abdul Aziz Rd, Endowment, Abraj Al Bait, Makkah.
PEMANDANGAN Ka'bah dari jendela langsung, sepertinya akan menjadi candu untukku seumur hidup. Keindahannya tiada tara. Akan menyenangkan bisa tinggal di tempat ini selamanya. Namun dalam dua minggu saja, aku sudah sangat bersyukur. Kufur nikmat namanya kalau sampai aku tidak mensyukuri semua ini.
Dari kaca yang menembus ke balkon hotel, aku menatap bagaimana orang-orang di bawah sana bergerak mengelilingi Ka'bah. Lantai yang bersinar memancarkan pantulan cahaya matahari, lampu yang kelap-kelip menjadi sebuah simfoni yang sangat harmonis untuk menyejukkan mata. Apalagi menikmatinya dari ketinggian.
Tiba-tiba saja, dua lengan kekar memelukku dari belakang. Membuat aku hampir saja menjatuhkan mug berisi cokelat panas yang sudah kupegang. Wangi daun mint langsung tercium menggantikan wangi cokelat, napasnya yang hangat begitu terasa di telingaku.
"Mau salat duha di Masjidil Haram lagi, Sayang?" tanyanya.
Hal kedua yang menjadi candu untukku setelah pemandangan Ka'bah dari luar kaca, panggilan sayang dari laki-laki yang menjadi suamiku. Apalagi dengan suara bangun tidurnya.
"Ayo... habis salat duha aku mau jalan-jalan ke Masjid Quba ya? Atau ke Al Qiswa Factory, habis itu ke perpustakaan lagi," kataku bersemangat.
"Nggak capek memangnya semalam?" tanyanya tersenyum asimetris.
Aku menoyor pipinya dengan jari telunjuk. Jiwa-jiwa Athaya-saurus belum hilang sepenuhnya. Dia hobi sekali menggodaku atau memandangku dengan pandangan seduktifnya.
"Aku tahu kamu udah melarang aku untuk membahas masa lalu. Tapi aku mau mengatakan ini sama kamu. Terserah kamu mau percaya atau enggak." Athaya mendadak terdengar sangat serius. Saat itu dia masih memelukku dari belakang, kami sama-sama menatap pemandangan Ka'bah di luar.
"Apa?" tanyaku karena dia mengambil jeda agak lama untuk berbicara lagi.
"Sebelumnya aku nggak pernah tidur dengan perempuan mana pun..."
"Ini nggak berbohong buat menyenangkan istri, 'kan?" tanyaku.
Athaya malah tertawa. Kalau Athaya yang dulu berbicara padaku seperti ini, mungkin aku sama sekali tidak akan mempercayainya. Namun untuk sekarang, aku sangat mempercayai apa pun yang dia katakan.
"Karena aku nggak mau makin banyak anak di luaran sana yang lahir seperti aku. Nggak bisa dinasabkan ke papanya. Aku tahu sulitnya menjalani hidup seperti itu kayak apa."
"Wah... heroik sekali ya, Bapak satu ini," pujiku.
Dia hendak meminum cokelat dari mug yang sedang kupegang. Namun, aku menjauhkannya segera.
"Jangan minum sambil berdiri, ini cokelatnya juga masih panas," kataku.
Dia melepas pelukannya. "Ya, udah, siap-siap turun dulu yuk. Aku pake baju dulu," katanya.
Beberapa menit kemudian kami turun dari hotel. Ka'bah tidak terlalu ramai karena masih sangat pagi saat itu. Kami menjalankan salat duha berjemaah enam rakaat di tempat yang sangat dekat sekali dengan Ka'bah. Itu menjadi sebuah rutinitas selama tinggal di kota ini.
Setelah salat duha, biasanya aku akan duduk berdampingan dengan Athaya sembari mulai membaca zikir pagi. Kebiasaan yang Athaya lakukan, tangan kirinya menggenggam tanganku, tangan kanannya digunakan untuk menghitung zikirnya. Setelah dia selesai aku mengatakan sesuatu padanya.
"Aku pernah berpikir bahwa perempuan yang terikat pernikahan dan berdiri satu saf di belakang kamu adalah mimpi buruk."
"Ternyata beneran mimpi buruk, ya?" tanyanya.
Aku menggeleng dan tersenyum padanya. Saat itu kami masih dalam keadaan duduk dan menggenggam tangan satu sama lain. Di hadapan tempat yang menjadi kiblatnya semua muslim di segala penjuru dunia. Tempat di mana cinta Aminah dan Abdullah bersemi.
"Nggak. Ini jadi mimpi indah. Indah banget sampai rasanya nggak mau bangun. Aku bahagia banget hari ini. Feel blessed to have you, Mr. Athaya Khalil Adnan Adyatama," kataku sembari menatap matanya dalam.
Dia tersenyum cerah, senyum yang kini hanya aku yang bisa melihatnya.
"This is what I prayed for. The most beautiful gift in my life is imaan. And having you as my wife, Ra..."
TAMAT.
────୨ৎ────
Author's Note
Terima kasih sudah membaca yaa :)
Silakan follow instagram @morfemima untuk informasi karya terbaruku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
