Last Discussion.
────୨ৎ────
PERKATAAN Abyan tentang mengetahui masalah dari orang lain akan terasa lebih menyakitkan membuatku berpikir ribuan kali untuk mengatakan ini pada Ayah dan Bang Hazm. Pada akhirnya, mereka akan tahu juga dan kurasa lebih baik mengetahui masalah ini dariku sebelum mendengarnya langsung dari Kak Afif.
Sekitar setelah salat isya, aku mencoba mengajak Ayah berbicara serius. Saat itu, Bang Hazm juga sedang berada di dekat kami dengan laptopnya. Belum apa-apa aku sudah merasa sesak tidak beralasan. Membayangkan reaksi apa yang akan mereka tunjukkan membuatku penuh pertimbangan untuk mengatakannya.
"Yah, aku mau bicara penting," kataku akhirnya.
"Soal apa?" Ayah belum menanggapinya begitu serius.
"Pernikahan aku sama Kak Afif kayaknya harus dibatalkan."
Ayah dan Bang Hazm menoleh hampir bersamaan. Aku mengatakan ini tepat empat hari sebelum hari-H. Di mana persiapannya sembilan puluh lima persen sudah selesai.
"Kenapa harus dibatalkan?" tanya Bang Hazm.
"Kamu baik-baik aja?"
Pertanyaan Ayah berhasil membuat pertahanan yang sudah kubangun sejak beberapa jam yang lalu goyah kembali. Entah untuk keberapa kalinya aku menangisi masalah ini.
Bang Hazm meninggalkan laptopnya dan menghampiriku, dia menenggelamkan kepalaku di pundaknya. Tindakan yang sejak dulu selalu dia lakukan untuk menenangkanku. Aku mencoba berhenti menangis dan menjelaskan alasannya pada Ayah.
Jujur, aku juga sudah sangat lelah terus-terusan seperti ini.
"Aku yang salah karena ngasih jawabannya kelamaan. Mungkin dalam waktu dekat Kak Afif akan datang ke rumah untuk menjelaskan ini. Tolong jangan marah sama Kak Afif, Yah. Bertunangan dengan dua perempuan sekaligus juga bukan kemauannya."
"Ayah nggak punya alasan untuk menyalahkan kamu atau Nak Afif. Kalau sekiranya kalian sudah mendiskusikan ini dan membatalkan pernikahan menjadi keputusan terbaik yang bisa kalian ambil, Ayah ikuti selama kamu baik-baik aja," kata Ayah terlihat tidak terbebani sama sekali.
"Ayah nggak masalah kalau pernikahannya harus dibatalkan? Semuanya udah disiapkan, beberapa orang juga udah tahu soal pernikahan ini."
Ayah mengusap kepalaku pelan. "Batal menikah itu bukan sebuah aib. Kamu nggak melakukan kesalahan apa pun hanya karena batal menikah," jawab Ayah.
Ini yang membuatku banyak bersyukur meski aku sudah tidak memiliki ibu, perhatian dan kasih sayang yang diberikan Ayah dan Bang Hazm lebih besar dari kasih sayang seorang ibu.
Ada perasaan lega yang kurasakan setelah menceritakan masalah tersebut pada Ayah dan Bang Hazm. Setidaknya, kini aku merasa tidak sedang memikul beban sendirian. Aku tengah duduk di ayunan depan ketika malam semakin senyap. Memikirkan perasaan apa yang masih membuatku merasa sedikit tidak tenang.
"Minum, kamu lupa minum." Bang Hazm menyerahkan segelas penuh air ke hadapanku. Setelah itu, dia memutuskan untuk duduk di sampingku sembari menikmati kopinya. Sesi tausiah akan segera dimulai. Padahal, aku sedang ingin sendirian.
"Kamu inget apa yang dibilang psikiater waktu pertama kamu berobat dulu? Waktu kamu sering tiba-tiba nangis nggak karuan, tiba-tiba teriak karena inget Ibu dan takut buat keluar kamar?" tanyanya pertama.
Kukira dia akan membahas soal pernikahan yang dibatalkan, Bang Hazm malah membahas masa lalu.
"Psikiater kamu bilang kalo emosi itu cuma reaksi kimia yang terjadi di dalem otak. Nggak ada salahnya kamu merasa emosi, tetapi reaksi kamu terhadap emosi itu yang penting," lanjutnya. Bang Hazm lebih banyak mengingat apa yang dikatakan psikiater padaku. "Daripada sekarang kamu banyak diem sambil bilang ke diri sendiri buat nggak sedih, nggak marah, atau kecewa, mending kamu terima semua perasaan negatif itu, bilang ke diri kamu sendiri 'oke sekarang aku marah, sekarang aku kecewa, tapi nanti semua itu akan berlalu sendirinya'. Cara itu lebih manjur daripada kamu menahan diri buat nggak marah." Bang Hazm sampai memperagakan cara bicaranya ketika mengatakan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHAF ✔
RomanceSatu shaf shalat di belakangnya adalah mimpi buruk. Kalimat itu sudah cukup bagi Shafira untuk menggambarkan bagaimana kehidupannnya setelah bertemu dengan seorang Athaya Khalil Adnan. [Spiritual-⚠Romance Act] Tag me on Instagram @ima.madani or @mo...
